LombokPost - Tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut belasan nyawa memasuki babak baru dalam penyidikan teknis.
Korlantas Polri, melalui teknologi Traffic Accident Analysis (TAA), memperkirakan KA Argo Bromo Anggrek tengah melaju dalam kecepatan tinggi, yakni 110 kilometer per jam, sesaat sebelum menghantam bagian belakang rangkaian KRL Commuter Line Cikarang, Senin (27/4) malam.
Kecepatan tinggi tersebut membuat pengereman mendadak mustahil dilakukan, mengingat berat massa dan momentum rangkaian kereta jarak jauh tersebut.
Mati Mesin di Tengah Rel
Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, memaparkan bahwa pangkal persoalan bermula dari masalah kelistrikan pada taksi listrik yang melintasi rel. Mobil tersebut mendadak berhenti tepat di tengah perlintasan, sehingga tertemper oleh KRL yang melintas pertama kali.
"Akibat permasalahan kendaraan tersebut, terjadi tabrakan awal yang mengganggu seluruh alur perjalanan kereta api di jalur tersebut," ujar Sandhi saat dihubungi, Selasa (28/4).
Petaka Minim Koordinasi
Penyidikan Polri menyoroti adanya celah besar dalam manajemen informasi pasca-insiden taksi.
Ketika KRL pertama mogok dan KRL kedua (Cikarang) terpaksa berhenti menunggu di Stasiun Bekasi Timur, informasi mengenai hambatan jalur ini diduga tidak tersampaikan secara akurat ke sistem pengendali perjalanan KA Argo Bromo Anggrek.
"KRL yang sedang menunggu proses evakuasi di stasiun mungkin kurang koordinasi, sehingga tidak mampu memberikan informasi menyeluruh kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek. Padahal, saat itu kereta sedang melaju dalam kecepatan normal operasional 110 km/jam," jelas Sandhi.
Benturan Tanpa Pengereman
Tanpa adanya peringatan dini untuk menurunkan kecepatan (aspek kuning/merah), KA Argo Bromo tetap melaju sesuai jadwalnya. Alhasil, ketika visual KRL yang berhenti di depan mulai terlihat, pengereman sudah tidak mampu menghentikan laju kereta tepat waktu.
Benturan keras pada gerbong paling belakang yang merupakan area khusus perempuan menjadi titik paling mematikan. Rangkaian gerbong ringan KRL tidak kuasa menahan beban hantaman lokomotif kereta jarak jauh yang sedang dalam kecepatan tinggi.
Fokus Evaluasi Komunikasi
Data dari hasil analisis TAA ini akan menjadi rujukan utama bagi KNKT dan Polri untuk mengevaluasi prosedur komunikasi darurat di PT KAI. Fokus utama penyelidikan kini bergeser pada mengapa sinyal perlindungan atau perintah berhenti darurat (emergency stop) tidak segera aktif di blok jalur tersebut sesaat setelah KRL pertama tertemper taksi.
Editor : Redaksi Lombok Post Online