Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Guru SD Asal Cikarang Ikut Jadi Korban, Menteri PPPA Usul Gerbong Khusus Wanita Dipindah ke Tengah

Redaksi • Rabu, 29 April 2026 | 14:04 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (DOK)
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi (DOK)

LombokPost - Duka menyelimuti rumah sederhana di Kampung Ceger, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Selasa (28/4). Pelayat berdatangan sejak pagi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Nurlaela, 40, guru yang dikenal pendiam dan berdedikasi.

Nurlaela menjadi salah satu korban meninggal dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam.

Isak tangis keluarga mengiringi prosesi pemakaman yang digelar tak jauh dari rumah duka.

Baca Juga: Malam Nahas di Bekas Timur, Seluruh Korban Meninggal Berasal dari KRL 15 Orang

Sehari-hari, almarhumah merupakan guru pegawai negeri sipil (PNS) di SDN Pejagan 11, Pulogebang, Jakarta Timur. Rutinitasnya tak pernah berubah: berangkat dan pulang mengajar menggunakan KRL.

’’Setiap hari naik kereta, pagi berangkat, sore pulang. Memang begitu kesehariannya,” ujar Mulyadi, paman korban, dikutip dari Radar Bekasi.

Kekhawatiran keluarga mulai muncul saat Nurlaela tak kunjung pulang seperti biasanya. Upaya menghubungi ponselnya justru membawa kabar yang tak diharapkan. Telepon tersebut diangkat oleh petugas yang menemukan perangkat itu di lokasi kejadian.

Baca Juga: Analisis TAA Ungkap KA Argo Bromo Melaju 110 Km/Jam Saat Hantam KRL: Minim Koordinasi Usai Insiden Taksi Jadi Pemicu Petaka

Kepastian nasib Nurlaela baru diketahui sekitar pukul 01.00 dini hari. Keluarga kemudian berkoordinasi untuk menjemput jenazah.

’’Jam satu kami baru ketemu, lalu langsung diurus. Sampai rumah sekitar jam tiga pagi,” tutur Mulyadi.

Ia menambahkan, kondisi fisik korban relatif utuh. Tidak ditemukan luka luar yang parah, meski diduga mengalami cedera serius di bagian dalam tubuh.

Baca Juga: Sopir "Taksi Hijau" Pemicu Tabrakan Maut KRL vs Argo Bromo Diamankan, Polisi Dalami Kelalaian di Perlintasan Bulak Kapal

’’Alhamdulillah tubuhnya utuh. Hanya kakinya patah, kemungkinan ada luka dalam,” imbuhnya.

Di mata keluarga dan tetangga, Nurlaela dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak banyak bicara. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan juga terlihat dari pencapaian yang baru saja diraih.

Tiga bulan sebelum musibah itu terjadi, ia menuntaskan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta.

’’Dia orangnya ulet, tidak banyak bicara. Fokus bekerja. Baru lulus S-2 tiga bulan lalu,” kenang Mulyadi.

Kini, perjalanan hidup Nurlaela telah berakhir. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga yang berada tak jauh dari rumah duka, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan para muridnya.

Gerbong Wanita KRL

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong khusus wanita pada KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian kereta.

Arifah mengatakan, pihaknya akan mendorong evaluasi tata letak gerbong kepada PT Kereta Api Indonesia. Menurut dia, penempatan gerbong wanita di tengah dinilai lebih aman karena dapat mengurangi risiko fatal saat terjadi benturan, baik dari depan maupun belakang kereta.

’’Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung,” ujar Arifah usai menjenguk korban di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4). (zak/ris/oni/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#KA Argo Bromo #KRL #pekerja keras #gerbong wanita #pemakaman