LombokPost - Arinjani Novitasari menjadi salah satu korban meninggal dalam tabrakan kereta api di dekat Stasiun Bekasi Timur. Sesaat sebelum kejadian nahas itu, Arin sempat mengirim pesan kepada keluarganya di rumah.
SENIN (27/4) malam pukul 20.51, Arinjani Novitasari masih mengirim pesan via WhatsApp ke ponsel adiknya, “Tan, laper. Di rumah ada lauk apa?”
Arin sapaan akrab Arinjani Novitasari masih di gerbong khusus perempuan di KRL Commuter Line TM 5568A ketika itu.
Baca Juga: Malam Nahas di Bekas Timur, Seluruh Korban Meninggal Berasal dari KRL 15 Orang
Perempuan 25 tahun tersebut dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja sebagai young auditor di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Pesan tersebut, kata Suryani sang ibu, dibalas sang adik. Tapi tak ada pesan balik sesudahnya.
Seisi rumah di kompleks Blok F Villa Bekasi Indah 2, Kabupaten Bekasi tersebut baru mulai dilanda kecemasan ketika kakak Arinjani yang juga dalam perjalanan pulang bekerja menelpon. Dia mengabarkan kalau ada kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
Data menyebut, KRL 5568A diseruduk KA Argo Bromo antara pukul 20.53 sampai 20.55.
Suryani langsung mencoba berulang kali menghubungi kembali anaknya setelah mendengar kabar kecelakaan tadi.
“Namun, tidak ada jawaban, meski nomor ponselnya masih aktif dan terus berdering,” kata Suryani di rumah duka kemarin, seperti dikutip dari Radar Bekasi Grup Jawa Pos.
Keluarga langsung berpencar mencari keberadaan Arin sapaan akrab Arinjani Novitasari dengan mendatangi berbagai posko yang berada di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi. Namun, Arinjani tak kunjung ditemukan.
Datangi RS Polri
Titik terang didapat setelah pihak KRL memberi informasi bahwa korban terakhir baru selesai dievakuasi dari lokasi kejadian. Keluarga disarankan petugas di lapangan untuk mendatangi Rumah Sakit (RS) Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk memastikan keberadaan korban.
Keluarga pun langsung menuju ke sana. Dan, kepastian yang sangat memukul seluruh keluarga itu akhirnya diterima pada Selasa (28/4) sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Itu setelah tim DVI Polri berhasil mengidentifikasi tes DNA sang ayah.
“Arin itu anaknya ceria Mas, ceria, ramai. Di rumah itu ramai pokoknya kalau ada dia itu ramai,” ungkap Suryani, sembari menahan isak.
Dia mengenang, keinginan terakhir sang anak adalah berangkat umrah pada Agustus mendatang. Namun, takdir berkata lain. (zak/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online