LombokPost – Dalam 18 bulan masa kepemimpinannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyatakan telah berhasil meletakkan fondasi kuat untuk mewujudkan akses pendidikan yang adil dan merata di seluruh Indonesia.
Melalui visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua", pemerintah kini memprioritaskan layanan pendidikan yang murah, fleksibel, dan mudah dijangkau.
Kebijakan ini menyasar anak-anak yang selama ini kesulitan mendapatkan akses pendidikan formal karena hambatan ekonomi, lokasi domisili yang terpencil, faktor budaya, hingga masalah keamanan.
Baca Juga: Tes Kemampuan Akademik dalam Arsitektur Pemetaan Pendidikan Nasional
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemendikdasmen memperluas model sekolah satu atap, sekolah terbuka, serta mengoptimalkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan komunitas belajar.
"Kita tidak ingin ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena faktor fisik atau ekonomi. Layanan pendidikan harus hadir secara inklusif dan fleksibel bagi semua," ujar Abdul Mu’ti dalam peringatan Hardiknas 2026.
Perhatian khusus juga diberikan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas dan kuantitas Sekolah Luar Biasa (SLB) serta memperbanyak sekolah inklusi berbasis masyarakat.
Langkah ini diambil guna memastikan hak pendidikan yang setara bagi penyandang disabilitas dengan standar kualitas yang tidak dibeda-bedakan.
Guna mendukung ekosistem ini, Kemendikdasmen mengintegrasikan empat pusat pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.
Baca Juga: Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Hamzanwadi Raih Medali Perak di Lomba Esai Nasional
Sinergi ini diharapkan mampu meruntuhkan tembok penghambat pendidikan, sehingga cita-cita Indonesia cerdas, maju, dan bermartabat dapat tercapai melalui pemerataan akses di seluruh pelosok negeri.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengklaim telah meletakkan fondasi kuat untuk akses pendidikan yang adil.
Melalui kebijakan layanan pendidikan murah dan fleksibel, pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak yang terkendala ekonomi maupun domisili lewat sekolah satu atap dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Fokus khusus juga diberikan pada peningkatan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan pendidikan inklusi berbasis masyarakat guna memastikan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan hak pendidikan yang setara.
Editor : Redaksi Lombok Post Online