Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Beras SPHP Jadi Penyelamat Dompet Masyarakat Kecil, Bulog Pastikan Stok Aman Sepanjang Tahun

Pujo Nugroho • Selasa, 5 Mei 2026 | 19:44 WIB
Stok beras SPHP saat tiba di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)
Stok beras SPHP saat tiba di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)

 

 

LombokPost – Fluktuasi harga beras di pasar tradisional belakangan ini masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat kecil berpenghasilan rendah. Di tengah bayang-bayang harga beras premium yang kian "pedas" dan mencekik leher, kehadiran beras SPHP besutan Bulog kini menjadi tumpuan utama masyarakat untuk menyambung hidup dan menjaga dapur tetap mengebul.

Pantauan di pasar Kebon Roek, stok beras SPHP dalam kemasan 5 kilogram selalu ludes diserbu warga sesaat setelah diturunkan dari truk distributor. Ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok pemerintah melalui program beras SPHP terbukti sangat efektif meredam kepanikan konsumen, terutama bagi masyarakat kecil yang terdampak langsung kenaikan harga beras di pasaran.

Sumiyati, salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui di pasar Kebon Roek, mengaku sangat bergantung pada beras SPHP untuk memenuhi kebutuhan harian. Bagi keluarganya, selisih harga antara beras SPHP dan beras premium bisa dialokasikan ke kebutuhan pokok lainnya. Ia menilai kualitas beras SPHP sangat layak dikonsumsi karena pulen dan harganya tetap stabil sesuai HET.

Baca Juga: Indonesia Swasembada Beras! Stok Tembus 5 Juta Ton, Komisi III DPR RI Kaget Lihat Isi Gudang BULOG Sunter

Kalangan petani juga memberikan respons positif terhadap distribusi beras SPHP. Namun, mereka memberikan catatan agar pemerintah tetap menjaga keseimbangan harga di tingkat hulu.

Rahmad Wildan, salah satu pengurus kelompok tani menyebut bahwa program SPHP berperan penting dalam menjaga psikologi pasar. Menurutnya, distribusi yang lancar mencegah spekulan bermain harga yang justru bisa merugikan petani maupun konsumen.

”Kami sebagai petani mendukung, karena dengan adanya SPHP, alur pangan jadi jelas. Harapan kami, saat stok SPHP ini digelontorkan secara masif, harga gabah di tingkat petani jangan sampai ikut anjlok. Pemerintah harus tetap menyerap gabah kami dengan harga yang layak,” tuturnya.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Bulog. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam siaran pers Bulog menegaskan bahwa stok beras SPHP saat ini dalam kondisi yang sangat kuat. 

Baca Juga: Stok Beras Cadangan Mataram Merosot Tajam ke 3 Ton, DKP Siapkan Skenario Pinjam ke Bulog

Dengan total stok mencapai 5 juta ton secara nasional, Bulog berkomitmen menjaga stabilitas pangan agar masyarakat kecil tidak kesulitan mendapatkan bahan pokok dengan harga beras yang terjangkau. Hingga April 2026, realisasi penyaluran beras SPHP tercatat telah menembus angka 380 ribu ton. Langkah masif ini dilakukan untuk memastikan bahwa stok beras SPHP tersedia di berbagai kanal, mulai dari pasar rakyat hingga ritel modern.

Bulog juga menggandeng pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan distribusi agar masyarakat kecil di pelosok desa sekalipun bisa menikmati manfaat dari program beras SPHP ini.

Distribusi juga diperkuat melalui jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) yang kini telah mencapai sekitar 80 ribu titik di seluruh Indonesia, serta diperluas ke jaringan ritel modern dan swalayan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Bulog untuk memastikan akses masyarakat terhadap beras SPHP semakin mudah dan merata di berbagai wilayah.

Beras SPHP disalurkan dalam kemasan 5 kilogram dengan kualitas beras medium dan dijual sesuai HET, yaitu Rp 12.500 per kilogram untuk Zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), Rp 13.100 per kilogram untuk Zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan), serta Rp 13.500 per kilogram untuk Zona 3 (Maluku dan Papua).

”Upaya stabilisasi ini juga didukung oleh ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog dalam kondisi sangat kuat, mencapai lebih dari 5 juta ton per akhir April 2026,” jelas Rizal.

Baca Juga: Rekor Sepanjang Sejarah! Stok Beras BULOG Tembus 5 Juta Ton, Kanwil NTB Kebut Penyerapan 240 Ribu Ton Saat Panen Raya

Dengan dukungan stok yang memadai, jaringan distribusi yang luas, serta sinergi lintas sektor, Bulog memastikan program SPHP terus berjalan optimal sepanjang tahun 2026 guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras serta menjamin akses pangan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Salah seorang pekerja mengangkut beras SPHP ke dalam Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)
Salah seorang pekerja mengangkut beras SPHP ke dalam Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)

Bagi masyarakat kecil, kepastian ketersediaan beras SPHP adalah jaminan ketenangan. Bulog menjamin bahwa penyaluran beras SPHP akan terus berjalan tanpa jeda sepanjang tahun 2026. Dengan pengawasan ketat terhadap HET, diharapkan tidak ada lagi spekulan yang bermain dengan harga beras, sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah situasi global yang belum menentu.

Tak hanya konsumen, para petani pun menyambut positif program ini. Melalui beras SPHP, alur distribusi pangan menjadi lebih transparan. Bulog terus memastikan penyerapan gabah di tingkat hulu tetap optimal, sehingga kehadiran beras SPHP di pasar tidak lantas menjatuhkan harga di tingkat petani. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pangan dan melindungi daya beli masyarakat kecil.

Dengan penguatan jaringan distribusi melalui Rumah Pangan Kita (RPK) dan Gerakan Pangan Murah, akses terhadap beras SPHP kini semakin mudah. Program beras SPHP dari Bulog ini diharapkan terus menjadi bantalan ekonomi yang tangguh, memastikan harga beras tetap terkendali, dan memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat kecil di Indonesia.

Editor : Pujo Nugroho
#Stok Beras SPHP #Masyarakat Kecil #Beras sphp #bulog #Harga Beras