Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemerintah Belum Patok Target Pertumbuhan Kuartal II, Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Tak Cerminkan Kondisi Riil

Redaksi • Kamis, 7 Mei 2026 | 11:30 WIB
Grafis
Grafis

LombokPost - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen tampak impresif.

Namun, di balik angka tinggi itu, sejumlah kejanggalan mulai disorot ekonom. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, capaian tersebut memang yang tertinggi sejak 2012.

Tapi, kualitas pertumbuhannya dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. ”Ada anomali dalam komponen pembentuknya. Angkanya tinggi, tapi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan,” ujarnya pada Rabu (6/5).

Baca Juga: Membaca Percepatan Pertumbuhan Ekonomi NTB dari Triwulan I-2025 ke Triwulan I-2026

Konsumsi Tidak Sejalan dengan IKK

Setidaknya ada empat anomali yang disorot. Pertama, konsumsi rumah tangga. Pada kuartal I 2026, konsumsi tumbuh 5,52 persen, naik dari 4,96 persen pada periode sama tahun lalu. Namun, kenaikan ini tidak sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang justru turun dari 127,0 pada Januari menjadi 122,9 pada Maret 2026. Bahkan, konsumsi pakaian dan alas kaki justru melambat di tengah momentum Ramadan dan Lebaran. ”Biasanya IKK sejalan dengan konsumsi, tapi kali ini tidak,” kata Huda.

Kedua, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh tinggi 6,91 persen. Anehnya, sektor jasa terkait seperti transportasi dan pergudangan serta informasi dan komunikasi justru melambat.

Baca Juga: Indosat Tancap Gas AI Nasional, Bagi Dividen Rp111 per Saham di Tengah Tantangan Ekonomi

Bukan Dari Produk Dalam Negeri            

Ketiga, anomali terjadi pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), khususnya kendaraan yang melonjak 12,39 persen. Di saat yang sama, industri alat angkutan justru terkontraksi 5,02 persen.

Huda menduga lonjakan tersebut dipicu impor, termasuk untuk kebutuhan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. ”Artinya, pertumbuhan bukan dari produksi dalam negeri,” imbuhnya.

Baca Juga: Ekonomi NTB Menggeliat, Tanpa Tambang Triwulan III Tumbuh 7,86 persen

Keempat, sektor industri pengolahan hanya tumbuh 5,04 persen, lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Padahal kontribusinya besar, sekitar 19 persen terhadap PDB. Sejumlah subsektor bahkan terkontraksi, seperti tembakau, karet dan plastik, serta otomotif.

Di sisi lain, industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, diduga terdorong program Makan Bergizi Gratis (MBG). Huda pun mempertanyakan dampak MBG terhadap UMKM.        

Pemerintah Kucurkan Insentif

Sementara itu, pemerintah tetap optimistis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa capaian 5,61 persen telah melampaui ekspektasi global dan menjadi fondasi kuat untuk kuartal berikutnya. ”Pertumbuhan ini hasil berbagai kebijakan, termasuk momentum Lebaran,” ujarnya.

Memasuki kuartal II, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah. Di antaranya percepatan belanja negara yang dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan. Selain itu, daya beli masyarakat juga dijaga. Penyaluran gaji ke-13 bagi ASN pada Juni 2026 diharapkan mendorong konsumsi.

Pemerintah juga menyiapkan insentif untuk sektor riil, khususnya otomotif dan sepeda motor. Investasi pun diharapkan menjadi penopang. Pada kuartal I 2026, realisasi investasi tumbuh 7 persen. ”Pemerintah telah mengantongi komitmen investasi sekitar Rp 540 triliun dari Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan,” katanya.

Meskipun demikian, pemerintah belum mematok target pertumbuhan kuartal II. Fokusnya menjaga momentum.“Capaian kuartal I menjadi sinyal positif untuk menjaga pertumbuhan ke depan,” pungkas Airlangga. (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#kuartal #Mbg #merah putih #Pertumbuhan Ekonomi #insentif