LombokPost – Matahari baru saja naik sepenggalah di ufuk timur, namun riuh mesin giling di pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah memecah sunyi.
Di hamparan sawah yang mulai menguning, ada kesibukan yang berbeda dari biasanya.
Ini bukan sekadar ritual panen biasa, melainkan langkah nyata Perum BULOG yang turun langsung ke lapangan sebuah upaya "jemput bola" demi memastikan perut bangsa tetap aman.
Baca Juga: Beras SPHP Jadi Penyelamat Dompet Masyarakat Kecil, Bulog Pastikan Stok Aman Sepanjang Tahun
Menginjak usia ke-59, BULOG kini tak lagi sekadar duduk manis menunggu setoran di balik meja gudang.
Di bawah komando Direktur Utama Ahmad Rizal Ramdhani, lembaga ini sedang tancap gas.
Fokusnya jelas: mengawal alur pangan dari petani hingga ke piring masyarakat, agar harga tetap waras dan stok tidak amblas.
Rekor Baru di Usia Lebih dari Setengah Abad
Tahun ini 2026 menjadi momen bersejarah. Ahmad Rizal Ramdhani memaparkan pencapaian yang cukup fantastis di Kantor Pusat BULOG.
Untuk pertama kalinya sejak berdiri, BULOG berhasil mengamankan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 5,3 juta ton. Prediksinya, angka ini bakal menyentuh 6 juta ton di penghujung Mei.
Baca Juga: Stok Beras Cadangan Mataram Merosot Tajam ke 3 Ton, DKP Siapkan Skenario Pinjam ke Bulog
"Alhamdulillah, ini rekor tertinggi kita. Hasil keringat bersama, mulai dari petani sebagai garda terdepan, penggilingan, hingga dukungan penuh TNI/Polri," ujar Rizal dengan nada bangga.
Menjaga Keseimbangan Harga
Ketahanan pangan tak ada artinya jika harga tak terjangkau.
Dengan modal 5,3 juta ton beras, pemerintah punya instrumen kuat untuk menjaga stabilitas pasar.
Rizal menjamin harga di pasar akan tetap sesuai koridor Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp 12.500 untuk medium dan Rp 14.900 untuk premium.
Pencapaian ini juga diamini oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Ia menyebut melimpahnya stok tahun ini sebagai sejarah baru bagi Indonesia.
Saking banyaknya beras yang diserap, gudang-gudang BULOG nyaris tak lagi sanggup menampung.
Kapasitas 3 juta ton gudang mandiri sudah penuh, sehingga pemerintah harus menyewa ruang penyimpanan tambahan di berbagai titik.
Strategi "Gerilya" di Bumi Gora
Di NTB, pendekatannya tidak lagi pasif.
Pemimpin Wilayah BULOG NTB, Mara Kamin Siregar yang akrab disapa Regar menerjunkan "Tim Jemput Pangan" langsung ke pematang sawah.
Targetnya tidak main-main: menyerap lebih dari 240 ribu ton beras sepanjang tahun 2026 khusus untuk wilayah NTB.
Hingga April ini, sekitar 70 ribu ton sudah berhasil masuk kantong BULOG NTB.
Saat ini, stok di Bumi Gora mencapai 193.000 ton yang tersebar di belasan gudang induk dan puluhan gudang sewa.
"Warga jangan was-was, stok kita di NTB lebih dari aman," tegas Regar.
Lebih dari sekadar menimbun stok, kehadiran BULOG di tengah panen adalah bentuk perlindungan bagi petani.
Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kg untuk Gabah Kering Panen (GKP), BULOG menjadi benteng agar harga di tingkat petani tidak jatuh atau dimainkan tengkulak.
Perjalanan 59 tahun BULOG mencerminkan evolusi besar: dari sekadar penyimpan stok menjadi garda depan swasembada.
Di tengah ancaman krisis pangan global, keberhasilan mengamankan jutaan ton beras ini adalah pesan tegas bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri.
Melalui kerja sama apik antara Bapanas, Pemda, hingga Babinsa di desa-desa, janji untuk "Mengawal Pangan Menjaga Masa Depan" bukan lagi sekadar slogan di spanduk ulang tahun. Ini adalah komitmen nyata agar tak ada lagi kecemasan soal nasi di meja makan esok hari.
Editor : Redaksi Lombok Post Online