Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Blackout Sumatera Akibat Kabel Putus-Cuaca Ekstrem

Redaksi • Selasa, 26 Mei 2026 | 11:22 WIB
JELASKAN: Wakapolda Sumatera Utara, Brigjen Pol Sonny Irawan turun langsung memberi penjelasan kepada pengendara terkait black out PLN di SPBU Putri Hijau Medan, Sabtu (23/5) malam. (SUMUT POS)
JELASKAN: Wakapolda Sumatera Utara, Brigjen Pol Sonny Irawan turun langsung memberi penjelasan kepada pengendara terkait black out PLN di SPBU Putri Hijau Medan, Sabtu (23/5) malam. (SUMUT POS)

LombokPost - Berbagai kabar, dugaan, dan “teori konspirasi” merebak begitu sebagian besar listrik di Sumatera padam pada Jumat (22/5) pekan lalu.

Ada, misalnya, yang mengaitkan dengan baru saja diterimanya tawaran Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai bengkel pesawat militer.

Ada yang mengaku seperti mendengar suara pesawat atau helikopter terbang rendah sebelum listrik padam di Medan, Sumatera Utara.

Baca Juga: Ketika Listrik Sumatera Byarpet, PLN Klaim Pemulihan Kelistrikan Sudah Berjalan

Ada pula yang mengaitkannya dengan upaya penyelundupan obat-obat terlarang.

Senin (25/5), Bareskrim Polri bersama tim gabungan dan PT PLN (Persero) memastikan bahwa insiden yang menyebabkan listrik di mayoritas Sumatera byarpet sampai Minggu (24/5) sore itu murni diakibatkan gangguan teknis kelistrikan dan cuaca ekstrem.

“Bukan karena sabotase,” kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin dalam taklimat media di Mabes Polri, Jakarta.

Baca Juga: Pemulihan Infrastruktur Jadi Prioritas, Menteri PU Paparkan Penanganan Bencana Sumatera

Nunung menyebut kalau kepastian tersebut didapat setelah tim gabungan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Minggu (24/5).

Penelusuran difokuskan pada Tower 175 dan Tower 176 jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumpeh yang berlokasi di Desa Temino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

“Dari hasil identifikasi di lapangan, kondisi fisik struktur tower secara umum masih dalam keadaan baik. Namun, tim menemukan adanya kabel transmisi yang mengalami putus. Gangguan inilah yang diduga memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik yang selanjutnya memicu matinya pembangkit secara berantai,” ungkapnya.

Baca Juga: Bali Tiba-tiba Gelap Gulita Minggu Malam, PLN Bongkar Penyebab 'Blackout' Masal

Nunung juga membeberkan bukti fisik berupa bentuk patahan pada kabel yang putus. Itu, tuturnya, merupakan indikator kuat bahwa kerusakan terjadi secara alami.

“Kenapa kami bisa pastikan? Karena kerusakan atau putusnya kabel ini potongannya tidak rapi, melainkan berbentuk serabut. Kalau itu sabotase (dipotong), pasti potongan-potongannya lebih rapi,” katanya.

Dalam Penyelidikan

Hipotesis itu, lanjut Nunung, turut dikuatkan keterangan warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Tiga orang saksi, masing-masing Sabridal selaku ketua RT setempat serta Narto Wijoyo dan Eka Dedi Setyawan sebagai warga sekitar lokasi, mengonfirmasi kepada penyidik bahwa mereka sempat mendengar suara ledakan keras dari arah SUTET yang langsung disusul dengan padamnya listrik di area tersebut,” paparnya.

Terkait pemicu pasti putusnya kabel baja transmisi tersebut, tim penyidik masih melakukan pendalaman komprehensif. Beberapa dugaan sementara meliputi faktor mekanik akibat gesekan angin kencang, suhu panas dari sambungan longgar yang memicu rongga, hingga tarikan ekstrem akibat cuaca buruk.

Saat ini, barang bukti kabel transmisi telah diamankan. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri akan menganalisis lebih lanjut secara ilmiah.

Sementara itu, Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra dalam konferensi pers yang sama memastikan bahwa per Senin (25/5) kemarin seluruh pembangkit besar telah kembali masuk ke dalam sistem dan pasokan listrik di Sumatera telah kembali andal. Untuk gangguan, bermula dari kondisi cuaca ekstrem di wilayah Muaro Jambi yang sebelumnya memang telah masuk dalam daftar waspada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kelembapan udara yang tinggi memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang yang berdampak langsung pada infrastruktur transmisi kelistrikan. “Sistem kelistrikan Sumatera ditopang dua jalur transmisi utama yang mengalirkan daya dari selatan (Palembang dan Lampung) ke utara (Riau hingga Aceh), yakni jalur timur koridor transmisi berkapasitas 500 kV dan jalur barat koridor transmisi berkapasitas 275 kV,” katanya.

Pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 18.44 WIB, cuaca buruk menyebabkan gangguan pada transmisi 275 kV jalur New Aur Duri arah Sumsel 5. Terputusnya aliran listrik di jalur timur memaksa arus daya yang besar berbalik dari selatan dan berpindah secara mendadak ke jalur barat (275 kV). Perpindahan beban yang drastis ini memicu fenomena teknis yang disebut power swing atau osilasi.

Tegangan dan frekuensi pada sistem melonjak drastis. Untuk mencegah kerusakan sistem yang lebih parah, sistem proteksi transmisi di jalur barat, tepatnya di ruas Muara Bungo-Sungai Rumbai, secara otomatis mengisolasi diri (trip).

“Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera terbelah menjadi dua,” urainya.

Sistem Sumatera Bagian Selatan mengalami kelebihan pasokan daya (frekuensi tinggi). Sistem pertahanan (defense scheme) PLN berhasil menstabilkan jaringan sehingga wilayah Lampung dan sebagian besar Palembang, Sumsel, tidak mengalami pemadaman.

“Lalu, Sistem Sumatera Bagian Utara mengalami defisit daya secara drastis (frekuensi rendah). Pembangkit listrik di wilayah ini tidak mampu menahan beban penurunan frekuensi yang tajam sehingga trip secara bergiliran,” terangnya.

Efek domino tersebut melumpuhkan seluruh pembangkit di utara, memicu blackout di Jambi, Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh. Setelah memastikan tidak ada kerusakan fisik pada Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) dalam dua jam pertama, PLN segera melakukan pemulihan pembangkit secara bertahap. “Sehingga, listrik di wilayah terdampak berhasil menyala 100 persen pada Minggu (24/5) pukul 06.17 WIB,” urainya.

Meskipun demikian, PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir pada Minggu petang mulai pukul 18.36–20.15 WIB. Ini dikarenakan lonjakan beban puncak pada waktu Magrib yang menyebabkan sistem kekurangan daya sekitar 200 hingga 300 MW. “Sementara beberapa PLTU masih dalam proses start-up,” jelasnya. (idr/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#blackout #Sumatera #Mabes Polri #listrik padam #pln