Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Riset Baru ISPOR Europe: Intervensi PKMK Terbukti Klinis Turunkan Stunting 34,5 Persen, Hemat Biaya Pengobatan hingga Triliunan Rupiah!

Nurul Hidayati • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:34 WIB
Periset Fakultas Farmasi Unhas tunjukkan intervensi PKMK efektif pangkas stunting 34,5% & hemat biaya medis triliunan rupiah. (IST)
Periset Fakultas Farmasi Unhas tunjukkan intervensi PKMK efektif pangkas stunting 34,5% & hemat biaya medis triliunan rupiah. (IST)

LombokPost – Tantangan pemenuhan gizi buruk dan stunting pada anak masih menjadi pekerjaan rumah (PR) berat dalam agenda pembangunan kesehatan nasional.

Merujuk pada data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka prevalensi stunting di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) bahkan masih bertengger di angka yang cukup tinggi, yakni mencapai 29,8 persen.

Kondisi gangguan pertumbuhan seperti stunting, wasting (berat badan rendah dibanding tinggi badan), serta underweight (berat badan rendah dibanding usia) tidak sekadar menghambat fisik anak.

Baca Juga: Dinas Kesehatan Kota Mataram Gandeng Lembaga Internasional Tekan Stunting

Masalah malnutrisi ini juga membuat imunitas anak merosot sehingga rentan terserang penyakit infeksi yang memicu pembengkakan biaya pengobatan dalam jangka panjang.

Namun, sebuah secercah harapan baru muncul melalui publikasi riset kesehatan teranyar.

Intervensi menggunakan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) terbukti secara klinis dan ekonomis.

Baca Juga: Launching Program Mitra SPPG, Loteng Jadikan Praya Timur Pilot Project Penanganan Stunting

Dimana mampu menjadi senjata ampuh untuk mengejar ketertinggalan gizi tersebut.

Gebrakan Riset Unhas di Kancah Internasional

Riset mutakhir bertajuk "A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy" berhasil dipresentasikan di ajang bergengsi International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

Baca Juga: Target Turunkan Stunting, BKOW NTB Replikasi Strategi Hulu-Hilir Kota Jogjakarta

Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., mengungkapkan bahwa evaluasi dampak kesehatan dari pemberian PKMK pada anak dengan masalah gizi memberikan angka penurunan yang sangat signifikan.

Potensi Penurunan Prevalensi Malnutrisi Nasional (Jika Diterapkan Luas)

Stunting: Berpotensi turun 34,5 persen (Mencegah sekitar 1,6 juta kasus).

Wasting: Berpotensi turun 72,7 persen (Mencegah sekitar 1,2 juta kasus).

Underweight: Berpotensi turun 51,7 persen (Mencegah sekitar 1,9 juta kasus).

Tak hanya memperbaiki parameter fisik, perbaikan nutrisi padat ini berbanding lurus dengan penurunan risiko penyakit infeksi pada anak. Model riset memproyeksikan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2 persen (1,2 juta kasus) dan pneumonia sebesar 44,7 persen (1 juta kasus), serta pengurangan jutaan kasus ISPA dan diare.

Berkah Ekonomi: Hemat Biaya Medis hingga Rp 12 Triliun

Dari kacamata ekonomi kesehatan, Muh. Akbar Bahar menekankan bahwa kebijakan intervensi nutrisi sudah sepatutnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program bantuan pangan sosial biasa.

Ketika gizi anak tercukupi, kebutuhan berobat ke fasilitas kesehatan otomatis akan menyusut secara masif.

Melalui program pencegahan infeksi anak yang masif, negara berpotensi menyelamatkan jutaan anak dari penyakit seperti ISPA (2,6 juta kasus), Diare (2 juta kasus), TB (1,2 juta kasus), dan Pneumonia (1 juta kasus), sekaligus menekan pengeluaran biaya pengobatan hingga belasan triliun rupiah.

Secara keseluruhan, analisis ekonomi kesehatan ini membuktikan bahwa pemberian formula padat nutrisi memberikan manfaat medis yang masif dengan beban biaya yang relatif rendah bahkan hingga 7 kali lipat lebih efisien dibanding ambang batas efektivitas biaya di Indonesia.

Menyokong Produk Lokal dengan TKDN Tinggi

Founder sekaligus Chairman of Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menyambut hangat hasil riset berbasis data ini sebagai kompas krusial bagi penentu kebijakan gizi spesifik nasional. Ia mengingatkan bahwa implementasi di lapangan harus tetap mengacu pada regulasi medis dan pemantauan dokter spesialis anak.

Menariknya, inovasi pangan medis ini kini sudah mampu diproduksi secara mandiri di dalam negeri lewat produk SGM Eksplor Gain Optigrow. Inovasi lokal ini dirancang khusus untuk membantu kejar tumbuh anak yang berisiko gagal tumbuh atau mengalami gizi buruk.

"SGM Eksplor Gain Optigrow merupakan satu-satunya PKMK 1kkal/ml yang terbukti klinis turunkan angka stunting hingga 34,5% dan dapat menghemat biaya terapi hingga 7 kali lipat dengan proporsi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tertinggi mencapai 37,34%," jelas dr. Ray.

Melalui momentum Hari Lahir Pancasila, pemenuhan gizi yang adil dan merata diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh untuk melahirkan anak-anak yang sehat dan cerdas demi mewujudkan visi besar Generasi Emas 2045 Bebas Stunting.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Penurunan Stunting Indonesia #Riset PKMK Unhas #SGM Eksplor Gain Optigrow #Angka Stunting NTB #Efektivitas Biaya Nutrisi Anak