Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati, Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Redaksi • Jumat, 12 Juni 2026 | 12:32 WIB
BERALIH KE KENDARAAN LISTRIK: Foto udara ini menunjukkan kendaraan saat antre di jalan tol keluar Jakarta di gerbang tol Cikampek, 
Jawa Barat, Selasa (17/3). Pada Rabu (10/6), pemerintah kembali menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Naiknya harga BBM 
nonsubsidi itu berpotensi mendongkrak penjualan kendaraan listrik. (BAY ISMOYO / AFP)
BERALIH KE KENDARAAN LISTRIK: Foto udara ini menunjukkan kendaraan saat antre di jalan tol keluar Jakarta di gerbang tol Cikampek,  Jawa Barat, Selasa (17/3). Pada Rabu (10/6), pemerintah kembali menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Naiknya harga BBM  nonsubsidi itu berpotensi mendongkrak penjualan kendaraan listrik. (BAY ISMOYO / AFP)

LombokPost - Kenaikan harga Pertamax dinilai berpotensi mendorong minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Namun, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap kondisi tersebut tidak sampai menekan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).

Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, pihaknya belum melakukan kajian khusus mengenai dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pasar otomotif nasional. Meski demikian, dia menilai peluang pergeseran minat konsumen ke kendaraan listrik cukup terbuka.

Menurut Jongkie, pertumbuhan kendaraan listrik seharusnya memperluas pasar otomotif nasional, bukan menggerus pasar kendaraan konvensional yang selama ini menjadi tulang punggung industri.

Baca Juga: BPK Ungkap Potensi Kerugian Rp 1,4 Triliun di PT Pertamina Hulu Energi, Direksi PHE Diminta Segera Lakukan Evaluasi

"Kalau bisa ICE tidak turun, tapi BEV-nya yang bertambah," katanya.

Dia berharap peningkatan penjualan kendaraan energi baru, khususnya mobil listrik berbasis baterai, dapat berjalan seiring dengan tetap terjaganya pasar kendaraan konvensional.

Saat ditanya langkah untuk mengantisipasi potensi penurunan penjualan kendaraan ICE akibat kenaikan harga bahan bakar, Jongkie menegaskan, segmen tersebut harus dijaga karena masih mendominasi pasar otomotif nasional.

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga BBM Mulai 10 Juni, Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter

Pernyataan itu disampaikan di tengah tren positif penjualan mobil nasional sepanjang 2026. Data Gaikindo menunjukkan penjualan kendaraan roda empat atau lebih dari pabrik ke diler (wholesales) pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit. Angka tersebut naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 60.697 unit.

Sementara itu, penjualan ritel dari diler ke konsumen tercatat 71.890 unit atau meningkat 16,8 persen secara tahunan dibanding Mei 2025 yang mencapai 61.546 unit.

Secara kumulatif, penjualan mobil nasional pada Januari–Mei 2026 juga masih tumbuh. Penjualan wholesales naik 12,8 persen menjadi 359.015 unit dari 318.344 unit pada periode yang sama tahun lalu. Adapun penjualan ritel meningkat 8,8 persen menjadi 359.490 unit dari sebelumnya 330.486 unit.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026 Resmi Berubah, Dexlite dan Pertamina Dex Turun hingga Rp 3.100 per Liter, Pertamax Turbo Naik

Meski demikian, secara bulanan pasar otomotif mengalami perlambatan. Penjualan wholesales pada Mei turun 14,3 persen dibanding April yang mencapai 80.779 unit. Penjualan ritel juga terkoreksi 5,1 persen dari 75.736 unit menjadi 71.890 unit.

Jongkie menjelaskan, lonjakan penjualan pada April dipengaruhi faktor musiman pasca-Lebaran yang mendorong peningkatan distribusi kendaraan. Memasuki Mei, pasar kembali bergerak normal dan turut dipengaruhi sejumlah hari libur nasional.

Sebagian Konsumen Tetap Pilih Pertamax

Pantauan Jawa Pos di sejumlah SPBU Surabaya Utara dan Surabaya Pusat menunjukkan kondisi yang relatif kondusif pascakenaikan harga BBM nonsubsidi. Dari lima SPBU yang dipantau, masing-masing dua di kawasan Bubutan serta masing-masing satu di Krembangan, Semampir, dan Pabean Cantian, tidak terlihat antrean kendaraan. Terutama di jalur pengisian Pertalite untuk roda dua maupun roda empat.

Meski harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter, sebagian konsumen tetap bertahan menggunakan BBM tersebut. Di SPBU Rajawali, Krembangan, misalnya, masih terlihat antrean kendaraan roda dua dan mobil pribadi di lajur Pertamax.

Sementara itu, di Gresik, kenaikan harga BBM nonsubsidi mendorong sebagian masyarakat beralih ke Pertalite. Dampaknya, sejumlah SPBU kehabisan stok. Kondisi tersebut terlihat di SPBU 54.611.01, Kecamatan Kebomas. Dalam dua hari terakhir, stok Pertalite di SPBU tersebut ludes akibat lonjakan pembelian, terutama oleh pengendara roda dua. "Pasca kenaikan BBM nonsubsidi, banyak yang beralih membeli Pertalite. Stok 8.000 liter habis dalam sehari," ujar Penanggung Jawab SPBU 54.611.01 Dani Setiawan.

Menurut dia, lonjakan pembeli paling terasa pada pagi dan malam hari. Meski demikian, Dani memastikan pasokan Pertalite tetap aman karena sedang dalam proses pengiriman. "Sedang dalam pengiriman. Kemungkinan sore sudah sampai, sehingga tidak perlu panic buying," katanya. Kondisi serupa terjadi di SPBU 54.611.38, Kecamatan Manyar. Stok Pertalite habis sejak Selasa malam (10/6). Sebagian konsumen pun terpaksa beralih ke BBM nonsubsidi. "Masih ada yang membeli Pertamax. Namun jumlahnya menurun drastis," ujar petugas SPBU Nur Kholis.

Mahasiswa Gelar Aksi

Di Kendari, mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) menggelar aksi penyampaian aspirasi di gerbang perbatasan Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan, Rabu malam (10/6). Aksi dipimpin Presiden Mahasiswa Andi Reza Saputra bersama Wakil Presiden Mahasiswa Muh Aditia.

Mereka mengangkat dua isu utama, yakni penolakan terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kritik terhadap proses pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Polri yang dinilai terburu-buru.

Melalui orasi dan spanduk yang dibentangkan di lokasi, massa aksi menyampaikan kekhawatiran bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi akan meningkatkan biaya transportasi dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Andi Reza Saputra menilai kebijakan tersebut tidak sejalan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

Kenaikan harga Pertamax memantik reaksi dari berbagai kampus. Di Surabaya, ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menggelar aksi pernyataan sikap di Bundaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair Kamis (11/6). Mereka mendesak pemerintah segera menindaklanjuti tujuh desakan darurat ekonomi di tengah berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani masyarakat.

RI Perkuat Kerja Sama dengan Afrika

Ancaman penutupan total Selat Hormuz dinilai tidak lagi menjadi kekhawatiran utama pemerintah terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM). Sebab, Indonesia kini tidak sepenuhnya bergantung pada impor minyak dari kawasan yang harus melewati jalur strategis tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengatakan, pemerintah telah memperkuat kerja sama pasokan minyak dengan sejumlah negara di Afrika. Dengan skema tersebut, pengiriman minyak tidak perlu melewati Selat Hormuz yang belakangan kembali memanas akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

’’Sekarang kami banyak bekerja sama dengan Aljazair, Nigeria, dan Angola. Jadi banyak pasokan minyak berasal dari Afrika. So far okay, so far so good,” ujarnya di Jakarta, Kamis (11/6).

Selain Afrika, Indonesia juga baru memperoleh izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela. Menurut Havas, negara-negara Amerika Latin memiliki potensi besar di sektor minyak dan gas yang dapat mendukung ketahanan energi nasional. ’’Diskusi awal dengan pihak-pihak di sana sudah berjalan. Memang masih tahap awal. Tetapi yang sudah beroperasi di sana adalah Pertamina melalui Pertamina International Exploration,” katanya.

Terkait dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di sekitar Selat Hormuz, Havas mengungkapkan terdapat sejumlah kendala, terutama menyangkut perlindungan asuransi bagi kapal dan awaknya. ’’Tidak ada perusahaan asuransi yang mau menanggung kapal yang masuk ke Selat Hormuz,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kapal yang hanya berada di area sekitar selat masih mendapatkan perlindungan asuransi. Namun, perlindungan tersebut tidak berlaku ketika kapal memutuskan melintasi wilayah yang dianggap berisiko tinggi. Menurut Havas, kebijakan itu berlaku untuk seluruh kapal yang berada di kawasan tersebut, bukan hanya kapal berbendera Indonesia.

Akibatnya, banyak kapal memilih menunda pelayaran. Selain persoalan asuransi, keputusan itu juga dipengaruhi pertimbangan keselamatan awak kapal. Para kapten cenderung mengambil sikap menunggu perkembangan situasi sebelum melanjutkan perjalanan.

Di sisi lain, pemilik muatan (cargo owner) juga enggan mengambil risiko meskipun terdapat kemungkinan klaim asuransi apabila terjadi insiden.

“Cargo owner-nya tidak mau mengambil risiko karena menyangkut faktor keselamatan,” katanya.

Havas menegaskan industri pelayaran kargo melibatkan banyak pihak yang harus memiliki kesepahaman sebelum kapal dapat beroperasi, terutama di tengah situasi konflik.

PENJUALAN MOBIL NASIONAL

Mei 2026 (Wholesales)

Mei 2026 (Retail)

Januari–Mei 2026

-Wholesales

-Retail

Secara Bulanan 2026

-Wholesales

-Retail

Sumber: Gaikindo (mia/dho/kp/yog/zam/oni/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#mobil bensin #selat hormuz #pertamax #Mobil Listrik #pertamina