Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dorong Kontribusi Sektor Jasa Keuangan, OJK Jatim Bangun Ekosistem Digital Berkelanjutan Lewat Sektor Peternakan

Nurul Hidayati • Jumat, 19 Juni 2026 | 11:25 WIB
DISKUSI: OJK Jatim jelaskan potensi yang dimiliki daerah bersama OJK NTB.
DISKUSI: OJK Jatim jelaskan potensi yang dimiliki daerah bersama OJK NTB.
LombokPost – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menegaskan perannya tidak hanya sebatas regulator dan pengawas industri jasa keuangan, melainkan juga motor penggerak perekonomian di daerah. 
Melalui mandat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), OJK berkomitmen mendorong kontribusi nyata Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk mengoptimalkan komoditas unggulan daerah secara komprehensif, inklusif, dan layak investasi.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang bersinergi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Setelah sukses menginisiasi komoditas melon di Lamongan dan Blitar pada 2024–2025, serta pisang mas kirana di Lumajang, pada tahun 2026 ini OJK Jawa Timur secara masif membidik sektor peternakan susu sapi perah di kawasan Malang Raya.

Baca Juga: OJK Ingatkan Bank Daerah Berhati-Hati Salurkan KUR

"Kami tidak ingin program PED ini sekadar menjadi kegiatan seremonial yang hilang dalam satu tahun. Fokus kami adalah membangun ekosistem mandiri yang ke depannya mampu berjalan secara otomatis atas dasar skema business to business (B2B) yang saling menguntungkan," kata Manager Senior OJK Jawa Timur Parata Surya Adi Moeljowidjojo.
Alasan Strategis Membidik Komoditas Susu Sapi Perah
Pemilihan susu sapi perah sebagai fokus utama program PED didasarkan pada analisis mendalam terhadap delapan potensi utama. 
Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan populasi sapi perah sekaligus penghasil susu terbesar secara nasional, di mana Malang dan Pasuruan menjadi pusat utamanya. Selain itu, terdapat gap supply-demand yang besar, terlebih dengan adanya potensi lonjakan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah pusat, serta dukungan program Jatim Agro.
Baca Juga: Generasi Muda Wajib Cerdas Finansial! Bank Indonesia Bersama Kemenkeu, OJK, dan LPS Dorong Anak Muda Kuasai QRIS Hingga Investasi Rupiah
Langkah ini juga menjadi stimulus (daya ungkit) bagi sektor peternakan yang sempat melambat pasca-wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa tahun lalu. Keberadaan pasar juga terjamin berkat banyaknya off-taker besar di Jawa Timur seperti Greenfields, Nestle, dan Indolacto.
Dari sisi kesejahteraan, kalkulasi OJK menunjukkan penambahan satu ekor sapi mampu meningkatkan produksi hingga 13 liter per hari dan menambah pendapatan peternak hingga Rp3 juta per bulan.
Integrasi Ekosistem Keuangan Modern dan Digitalisasi ERP
Berbeda dengan wilayah lain, ekosistem PED di Jawa Timur dibentuk secara komplit dengan melibatkan multi-sektor LJK, mulai dari perbankan (BRI, Bank Jatim, Bank UMKM Jatim, BPRS Al Izzah), sektor gadai (PT Pegadaian) untuk investasi emas, hingga industri asuransi (Jasindo) dan BPJS Ketenagakerjaan.
Baca Juga: OJK NTB: Ekonomi Nasional Stabil, Penguatan UMKM Jadi Fokus Utama di Tahun 2026
Bahkan pada tahun ini, OJK memperluas cakupan dengan mengintegrasikan.
Pasar Modal melalui Securities Crowdfunding (SCF): Menggandeng Bizhare untuk memfasilitasi Koperasi Kanjabung sebagai calon penerbit dana.
Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK): Mengajak pekerja sektor informal menabung demi keberlanjutan penghasilan di hari tua bersama DPLK BRI.
Baca Juga: OJK NTB: Ekonomi Nasional Stabil, Penguatan UMKM Jadi Fokus Utama di Tahun 2026
Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK): Melibatkan platform Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) untuk menilai kelayakan debitur lewat data non-konvensional.
Tak hanya itu, bekerja sama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang didanai pemerintah Swiss, OJK meluncurkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP). Sistem digital ini merapikan data keanggotaan, populasi ternak, rekam medis hewan, hingga produktivitas susu. Data dari ERP ini kemudian dikolaborasikan dengan data SLIK OJK dan PKA untuk menghasilkan credit scoring digital yang akurat, sehingga mempermudah perbankan dalam menyalurkan pembiayaan tanpa keraguan validitas data.
Dalam menunjang kapasitas peternak, OJK turut menggandeng akademisi dari Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB) untuk memberikan pendampingan teknis dan riset medis melalui fakultas kedokteran hewan.
Jaminan Keamanan Data Nasabah
Menanggapi kekhawatiran media terkait keamanan data peternak di dalam sistem ERP pihak ketiga seperti Koperasi Kanjabung, Parata Surya menegaskan bahwa aspek tersebut menjadi prioritas utama yang diawasi ketat. OJK menjamin kerahasiaan data berjalan sesuai koridor hukum dan undang-undang yang berlaku.
Sebelum mengandalkan atau berkolaborasi dengan LJK dalam ekosistem ini, pihak OJK selalu melakukan konfirmasi dan konsultasi internal dengan divisi pengawas untuk memastikan kehandalan sistem dan mencegah adanya risiko reputasi. Melalui pengawasan melekat ini, OJK memastikan data nasabah tetap aman dari ancaman kebocoran maupun serangan siber.

Sementara itu, Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo menerangkan dalam tugas OJK tengang PED ini bisa mencontoh Jawa Timur yang sudah berkembang. Sehingga NTB bisa melakukan duplikasi dalam pengembangan PED di NTB.
"Potensi daerah yang dimiliki NTB tentunya diharapkan saling sinergi dan mendukung antara Jatim dan NTB," ujarnya.

Sedangkan untuk NTB akan kembangkan PED jenia Kakao. OJK sudah mengumpulkan dan menampung off taker Kakao. "Yanh dicoba udang, rumput laut, porang, namun yang dipilih Kakao dengan membangun sistem terlebih dahulu di NTB," ujarnya.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#OJK Jawa Timur #Pengembangan Ekonomi Daerah #Susu Sapi Perah #Digitalisasi ERP #akses keuangan