LombokPost – Siapa sangka, sebuah kawasan yang dulunya lekat dengan kesan kumuh dan tak tersentuh pembangunan, kini bertransformasi menjadi magnet wisata baru yang memikat perhatian dunia perbankan nasional.
Berdiri kokoh dengan deretan rumah-rumah kuno peninggalan tahun 1800-an hingga 1913, Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang kini menjelma menjadi "Desa Wisata Keuangan" yang mandiri dan bernilai ekonomi tinggi.
Perubahan drastis wajah kampung jadul ini tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang, mulai dari penataan fisik lingkungan oleh pemerintah daerah, perbaikan aliran sungai, hingga intervensi strategis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang yang jeli melihat potensi besar di balik dinding-dinding tua tersebut.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan menerangkan bahwa gagasan awal menyulap kawasan ini dimulai sekitar tiga hingga empat tahun lalu. O
JK berkomitmen penuh untuk menghidupkan ekosistem ekonomi warga setempat dengan menggandeng berbagai lembaga keuangan kakap.
"Awalnya daerah ini memang kumuh dan tidak tersentuh, tapi keunikannya luar biasa karena ada rumah-rumah dari tahun 1800-an dan 1913. Pemerintah daerah mulai menatanya, memperbaiki sungai, lalu OJK masuk. Kami punya niat kuat menjadikannya Desa Wisata Keuangan," ujar Farid Faletehan menceritakan awal mula penataan kawasan tersebut.
Baca Juga: OJK Ingatkan Bank Daerah Berhati-Hati Salurkan KUR
Prosesnya diakui penuh dinamika. Diskusi panjang dan tarik ulur sempat terjadi saat OJK mengundang bank-bank besar seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI untuk ikut "mengeroyok" pengembangan kampung ini.
Namun, kerja keras itu membuahkan hasil manis. Kini, setiap gang di Kampoeng Heritage memiliki karakteristik pembinaannya masing-masing.
"Akhirnya ketemu jalan tengah. Masing-masing gang dikelola oleh bank tersendiri. Kalau masuk ke area tertentu ada logo Livin’ (Mandiri), ada yang didukung BNI, dan ada yang setiap nomor rumahnya ada logo BRI. Bahkan para pelaku UMKM di sini langsung mendapatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank-bank tersebut," tambah Farid.
Tak sekadar mempercantik estetika lewat mural-mural edukatif dari BI dan OJK, intervensi industri jasa keuangan ini berhasil mengubah perilaku dan kesejahteraan warga.
Setiap malam minggu, kampung ini diserbu wisatawan lokal hingga turis asing (bule). Uniknya, setiap rumah warga kini menjelma menjadi warung kuliner mandiri.
Wisatawan bisa menikmati makanan langsung di dalam ruang makan pemilik rumah, menghadirkan sensasi bernostalgia yang autentik.
Kemandirian warga juga tercermin dari pengelolaan tiket masuk seharga Rp 5.000 pada malam hari, di mana pengunjung mendapatkan suvenir berupa postcard.
Uang yang terkumpul dikelola secara transparan melalui musyawarah warga untuk dana sosial, mulai dari biaya kebersihan, perawatan fasilitas kursi, hingga santunan kematian bagi warga sekampung.
Untuk mengimbangi lonjakan wisatawan, pembenahan fasilitas terus dilakukan. Area parkir motor yang dulunya semrawut hingga berlapis tiga di jalanan, kini sudah ditata rapi berkat penyediaan lahan parkir khusus oleh Pemda setempat.
OJK Malang pun memastikan pertumbuhan ekonomi ini dibarengi dengan literasi keuangan yang kuat. Secara berkala, sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya penipuan keuangan terus digelar di aula serbaguna RW setempat.
"Kuncinya adalah keterlibatan warga lokal. Rumah-rumah di sini tidak boleh dijual ke orang luar tanpa musyawarah. Melalui pendampingan industri jasa keuangan, kawasan yang dulu terlupakan ini sekarang benar-benar hidup dan mandiri," pungkas Farid.
Editor : Redaksi Lombok Post Online