LombokPost - Antrean kendaraan untuk mendapatkan solar meluas di sejumlah daerah. Meski demikian, pemerintah menolak mengaitkan kondisi tersebut dengan rencana implementasi bahan bakar campuran biodiesel 50 persen (B50) mulai 1 Juli 2026.
Pantauan tim Jawa Pos di berbagai daerah, antrean kendaraan tampak sejak pagi kemarin. Di Malang, misalnya. Antrean di SPBU wilayah Blimbing bahkan memicu kemacetan hingga sore. Pantauan Radar Malang Grup Jawa Pos, kepadatan terjadi di ruas Jalan Raden Panji Suroso hingga Jalan Raden Intan. Arus kendaraan menuju Terminal Arjosari maupun arah sebaliknya terdampak. Penyebabnya, banyak kendaraan mengantre di SPBU Pertamina Araya 54.651.04.
Kondisi serupa terjadi di Sidoarjo. Antrean kendaraan berbahan bakar solar terlihat di SPBU Gedangan dan SPBU Jenggolo. Puluhan truk, pikap, dan kendaraan lain mengular sejak pagi. Panjang antrean mencapai lebih dari satu kilometer.
Baca Juga: Antre Sampai Berjam-Jam Dapatkan Solar, Pertamina Pastikan Tak Kurangi Pasokan
Taufik, sopir pabrik manufaktur plastik di Gedangan, mengaku menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mendapatkan solar. Sebelumnya, dia sempat mendatangi SPBU Aloha, tetapi antrean juga panjang. "Tadi dari SPBU Aloha antre, lalu ke Gedangan juga antre. Akhirnya menunggu di sini," ujarnya.
Lamanya antrean membuat distribusi barang terganggu. Pengiriman pesanan pabrik dari Gedangan menuju Bluru molor lebih dari dua jam karena harus menunggu pengisian bahan bakar.
Pengawas SPBU Gedangan Wardi menjelaskan, banyak kendaraan datang karena sejumlah SPBU lain di Sidoarjo tidak memiliki stok solar. "Yang membuat kendaraan menumpuk karena tempat lain kosong," katanya. Menurut Wardi, jumlah pembeli meningkat sekitar 50 persen dibanding hari biasa.
Baca Juga: Polda NTB Gagalkan Penyelewengan 800 Liter Solar Subsidi di Alas
Antrean juga terjadi di sejumlah SPBU Surabaya. Di SPBU Jalan Raya Mastrip, Kebraon, Karangpilang, antrean kendaraan mengular hingga satu kilometer.
Sopir angkutan Aris Bagio mengaku sudah menunggu selama 2,5 jam untuk mendapatkan solar. Sebelum tiba di SPBU Karangpilang, dia sempat mencari stok di beberapa SPBU dari kawasan Tambak Osowilangon.
Namun, sejumlah SPBU yang didatangi mengalami kekosongan solar. Sebagian lainnya dipenuhi antrean truk.
Baca Juga: Ditreskrimsus Polda NTB Bongkar Penyelundupan 800 Liter Solar Subsidi di Sumbawa
"Di Margomulyo dan Simo antreannya penuh. Ada juga yang kosong," ujar warga Jombang tersebut. Aris akhirnya mendapatkan solar setelah mengantre sejak pukul 10.00 hingga sekitar pukul 12.30. Dia berharap distribusi solar kembali normal.
Klaim Pertamina
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi mengatakan tidak ada anomali yang memicu antrean di sejumlah titik.
Dia mengakui beberapa SPBU di Surabaya mengalami peningkatan konsumsi. Namun, kenaikannya tidak signifikan. "Status di beberapa SPBU masih menunggu pengiriman yang sudah terjadwal," ujarnya.
Ahad belum mengetahui angka pasti kenaikan konsumsi solar di Jawa Timur. Pertamina masih melakukan pengecekan di lapangan. Namun, dia menegaskan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan implementasi B50.
Sebagaimana diketahui, B50 merupakan bahan bakar campuran biodiesel yang terdiri atas 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit (CPO) dan 50 persen solar konvensional.
Dari Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan menghentikan impor solar tahun ini setelah mandatori B50 diterapkan pada 1 Juli 2026.
"Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar," kata Bahlil.
Dia menjelaskan konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL). Pemerintah sebelumnya telah menerapkan mandatori biodiesel 40 persen (B40).
Menurut Bahlil, penerapan B50 diharapkan dapat mengurangi impor BBM sekaligus menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Pemerintah memperkirakan kebutuhan domestik dapat dipenuhi hingga sekitar 300 ribu barel per hari melalui penerapan B50.
Uji teknis B50 untuk sektor otomotif telah dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan rampung Juni 2026. Pengujian untuk alat dan mesin pertanian, pertambangan, perkeretaapian, serta pembangkit listrik masih berlangsung.
B50 Perkuat Petani dan Energi Nasional
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyambut positif penerapan B50 pada 1 Juli mendatang. Menurut dia, kebijakan tersebut memiliki efek domino bagi masyarakat, terutama petani sawit yang menjadi pemasok bahan baku biodiesel.
Zulkifli menyebut implementasi B50 sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan hilirisasi sektor pertanian. "Program tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," ujar Zulkifli saat mendampingi Presiden Prabowo di Gorontalo.
Dia berharap kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kesejahteraan petani yang berkaitan dengan produksi bahan baku biodiesel.
Mengenal B50
-Pemerintah mulai menerapkan mandatori B50 secara nasional pada 1 Juli 2026
Komposisi B50
- 50% biodiesel berbasis minyak sawit (FAME)
- 50% solar konvensional (diesel)
Tujuan Penerapan B50
- Mengurangi impor solar
- Memperkuat ketahanan energi nasional
- Menghemat devisa negara
- Menurunkan emisi karbon
Kelebihan B50
- Mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.
- Mendukung industri sawit nasional.
- Emisi lebih rendah dibanding solar biasa.
- Memiliki sifat pelumasan yang lebih baik bagi mesin diesel.
Tantangan B50
- Membutuhkan pasokan minyak sawit yang besar.
- Pada beberapa sektor seperti alat berat dan pertambangan, ada kekhawatiran mengenai potensi endapan, korosi, dan kenaikan konsumsi bahan bakar sehingga masih perlu pemantauan lebih lanjut. (ful/bil/wan/oni/JPG/r3)