LombokPost – Tragedi kemanusiaan yang menimpa Venezuela pada 24 Juni lalu membuka mata dunia akan ngeri-nya fenomena gempa kembar (doublet earthquake).
Dua gempa destruktif melanda negara Amerika Selatan tersebut dalam selang waktu kurang dari satu menit, menelan ribuan korban jiwa.
Skenario horor tektonik ini menjadi alarm keras bagi Indonesia yang memiliki karakteristik geologi serupa.
Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Iktri Madrinovella, memaparkan bahwa doublet earthquake adalah fenomena kelangkaan seismik di mana dua gempa bermagnitudo besar terjadi dalam waktu dan ruang yang berdekatan.
"Di Venezuela, gempa pertama bermagnitudo 7,2 langsung disusul magnitudo 7,5 dalam hitungan detik di wilayah Morón–Yumare," jelas Iktri.
Secara geologi, wilayah tersebut berada di batas Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang didominasi sesar geser (strike-slip) menganan dengan pergerakan 20 milimeter per tahun berdasarkan data USGS.
Baca Juga: Kucurkan Rp 21 Juta Dana Pribadi, Rachman Renovasi Rumah Warga yang Retak Sejak Gempa 2018
Jejak Sejarah di Indonesia
Iktri mengingatkan, Indonesia bukan orang asing dalam fenomena ini. Sejarah mencatat gempa Bengkulu pada 12 September 2007 silam sebagai salah satu contoh nyata.
Kala itu, gempa M 8,4 mengguncang hebat, yang kemudian disusul oleh gempa M 7,9 hanya dalam rentang waktu 12 jam di zona megathrust Mentawai.
Baca Juga: Kombes Pol Dewa Wijaya, Pilot Polisi yang Pernah Pimpin Evakuasi Ribuan Wisatawan Saat Gempa Lombok
Rentetan tersebut dipicu oleh subduksi agresif Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Urgensi Penguatan Mitigasi
Karakteristik tektonik aktif ini menegaskan bahwa potensi gempa beruntun dengan magnitudo merusak selalu mengintai Indonesia.
Menurutnya, tidak ada jalan lain bagi pemerintah dan pemangku kebijakan selain memperketat regulasi struktur bangunan tahan gempa serta memperkuat sistem mitigasi bencana guna meminimalisasi fatalitas korban jiwa di masa depan.
Fenomena Langka Gempa Beruntun: Ingatkan Memori Kelam Gempa Lombok 2018
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), istilah gempa yang datang beruntun ini tentu memicu kembali ingatan kolektif pada peristiwa kelam yang melanda Bumi Gora beberapa tahun silam.
Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Iktri Madrinovella, menyebutkan bahwa rangkaian gempa Lombok pada tahun 2018 merupakan salah satu contoh nyata dari fenomena gempa kembar di Indonesia. Meskipun jeda waktu antargempa utama di Lombok saat itu memakan waktu hampir sepekan, karakteristik energinya yang sama-sama besar sukses meluluhlantakkan infrastruktur dan pemukiman warga secara luas.
"Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi negara di kawasan tektonik aktif seperti Indonesia untuk tidak lengah," kata Iktri dalam keterangannya, Senin (6/7).
Jika di Lombok dipicu oleh aktivitas sesar naik, di Venezuela gempa kembar bersumber dari pergerakan sesar geser di batas Lempeng Karibia dan Amerika Selatan. Dua guncangan berkekuatan M 7,2 dan M 7,5 terjadi di kedalaman dangkal 10–20 kilometer, berjarak 160 kilometer dari ibu kota Caracas.
Kondisi geografis Indonesia yang dikepung lempeng-lempeng raksasa mulai dari zona megathrust di Sumatra hingga sesar aktif di Nusa Tenggara membuat ancaman bencana ini bersifat permanen. Berkaca dari nestapa Venezuela dan pengalaman Lombok 2018, penguatan kesiapsiagaan dari tingkat keluarga hingga simulasi kebencanaan berkala menjadi modal utama warga untuk berdamai dengan dinamika alam.
Editor : Redaksi Lombok Post Online