LombokPost - Penurunan harga dan kecukupan pasokan minyak dunia mulai memberi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Jika tren pelemahan harga minyak berlanjut, Pertamax berpeluang turun dalam waktu dekat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah segera menggelar rapat bersama PT Pertamina (Persero) dan badan usaha penyedia BBM swasta untuk menghitung besaran penyesuaian harga.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi, Amerika Serikat Tetap Berkomitmen pada Perdamaian
”Ketika harga minyak dunia turun, kita akan melakukan penyesuaian,” ujarnya di Jakarta Selasa (21/7).
Meskipun demikian, pemerintah belum ingin terburu-buru mengambil keputusan. Bahlil menjelaskan, harga Indonesian Crude Price (ICP) masih bergerak fluktuatif sehingga diperlukan formulasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan keberlangsungan usaha di sektor migas.
”Dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, tidak memberatkan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi, tetapi juga tidak membebani pelaku usaha,” ucapnya.
Baca Juga: Bantuan Pangan Pemerintah Dialokasikan Juli Tanpa Minyak Goreng
Pemerintah juga memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Apalagi, Indonesia telah merealisasikan impor minyak mentah dari Rusia sebanyak 770 ribu barel.
Volume tersebut merupakan tahap pertama dari kerja sama kedua negara yang disepakati pada April 2026. Impor dilakukan melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Bahlil menegaskan, keputusan mengimpor minyak dari Rusia semata-mata didasarkan pada kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional, bukan pertimbangan politik.”Indonesia menjalankan politik bebas aktif. Yang penting kebutuhan energi nasional terpenuhi dan tidak melanggar aturan,” ujarnya.
Meski enggan mengungkap harga pembelian minyak tersebut, Bahlil memastikan nilai yang diperoleh Indonesia lebih kompetitif. ”Yang jelas harganya lebih baik,” pungkasnya.
Terpisah, Ningsih, salah seorang warga Gunungsari, Lombok Barat, NTB berharap harga BBM nonsubsidi bisa turun. Menurut dia, saat ini selisih antara BBM subsidi Pertalite dengan Pertamax maupun Pertamax Turbo cukup jauh. “Jadi kalau Pertamax lebih murah, kita bisa beralih isi Pertamax, terutama saat antrean Pertalite mengular,” bebernya.
Pergerakan Harga Minyak Mentah Sepekan Terakhir
Selasa (14/7) USD 80,97/barel
Rabu (15/7) USD 80,1/barel
Kamis (16/7) USD 79.49/barel
Jumat (17/7) USD 80,69/barel
Sabtu (18/7) USD 82.49/barel
Senin (20/7) USD 81,89/barel
Selasa (21/7) USD 83,49/barel
Sumber: Bloomberg (bry/dio/rur/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post