Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Turun, Impor 770 Ribu Barel Minyak Mentah dari Rusia

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 13:26 WIB
BERPOTENSI TURUN: Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
BERPOTENSI TURUN: Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

LombokPost - Penurunan harga dan kecukupan pasokan minyak dunia mulai memberi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Jika tren pelemahan harga minyak berlanjut, Pertamax berpeluang turun dalam waktu dekat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah segera menggelar rapat bersama PT Pertamina (Persero) dan badan usaha penyedia BBM swasta untuk menghitung besaran penyesuaian harga.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi, Amerika Serikat Tetap Berkomitmen pada Perdamaian

”Ketika harga minyak dunia turun, kita akan melakukan penyesuaian,” ujarnya di Jakarta Selasa (21/7).

Meskipun demikian, pemerintah belum ingin terburu-buru mengambil keputusan. Bahlil menjelaskan, harga Indonesian Crude Price (ICP) masih bergerak fluktuatif sehingga diperlukan formulasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan keberlangsungan usaha di sektor migas.

”Dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, tidak memberatkan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi, tetapi juga tidak membebani pelaku usaha,” ucapnya.

Baca Juga: Bantuan Pangan Pemerintah Dialokasikan Juli Tanpa Minyak Goreng

Pemerintah juga memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Apalagi, Indonesia telah merealisasikan impor minyak mentah dari Rusia sebanyak 770 ribu barel.

Volume tersebut merupakan tahap pertama dari kerja sama kedua negara yang disepakati pada April 2026. Impor dilakukan melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).

Bahlil menegaskan, keputusan mengimpor minyak dari Rusia semata-mata didasarkan pada kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional, bukan pertimbangan politik.”Indonesia menjalankan politik bebas aktif. Yang penting kebutuhan energi nasional terpenuhi dan tidak melanggar aturan,” ujarnya.

Baca Juga: Imbas Saling Blokade Selat Hormuz dan Serangan AS ke Iran: Harga Minyak Dunia Meroket ke USD 89,27 per Barel!

Meski enggan mengungkap harga pembelian minyak tersebut, Bahlil memastikan nilai yang diperoleh Indonesia lebih kompetitif. ”Yang jelas harganya lebih baik,” pungkasnya.

Terpisah, Ningsih, salah seorang warga Gunungsari, Lombok Barat, NTB berharap harga BBM nonsubsidi bisa turun. Menurut dia, saat ini selisih antara BBM subsidi Pertalite dengan Pertamax maupun Pertamax Turbo cukup jauh. “Jadi kalau Pertamax lebih murah, kita bisa beralih isi Pertamax, terutama saat antrean Pertalite mengular,” bebernya.

Pergerakan Harga Minyak Mentah Sepekan Terakhir

Selasa (14/7)                     USD 80,97/barel

Rabu (15/7)                      USD 80,1/barel

Kamis (16/7)                      USD 79.49/barel

Jumat (17/7)                      USD 80,69/barel

Sabtu (18/7)                       USD 82.49/barel

Senin (20/7)                       USD 81,89/barel

Selasa (21/7)                      USD 83,49/barel

Sumber: Bloomberg (bry/dio/rur/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
ketahanan energi minyak dunia esdm pemerintah BBM