LombokPost - Setelah dihantam tekanan sepanjang semester pertama 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mulai memasuki fase pembalikan arah.
Analis melihat Juli sebagai periode bottoming, yakni titik terendah sebelum pasar kembali memasuki tren penguatan.
Founder Astronacci Gema Goeyardi mengatakan, pola pergerakan IHSG sejauh ini masih sesuai dengan proyeksi berbasis time cycle dan price projection.
Baca Juga: MoU AS-Iran Diteken Jumat 19 Juni 2026, Rupiah dan IHSG Mulai Pulih
”Sejak Mei 2026 kami sudah menyampaikan bahwa Januari merupakan puncak siklus, sedangkan Juli berpotensi menjadi periode pembentukan big bottom IHSG,” ujarnya Ahad (26/7).
Menurut Gema, koreksi besar yang terjadi sejak awal tahun memang menjadi bagian dari proses penutupan sejumlah gap di area 6.000-an. Dengan demikian, target indeks di level 9.250 bukan menjadi akhir tren bullish, melainkan fase terakhir sebelum memasuki siklus bearish yang lebih panjang.
Dia menambahkan, fase pelemahan yang berlangsung hingga akhir Juni akhirnya membawa IHSG menyentuh level terendah di 5.594. Setelah itu, pasar mulai menunjukkan sinyal akumulasi. ”Kami melihat IHSG telah memasuki fase akumulasi dengan target kenaikan menuju kisaran 6.400 hingga 6.700. Pergerakan sejak 1 hingga 23 Juli yang sudah menguat sekitar 13 persen menjadi konfirmasi awal,” paparnya.
Baca Juga: Pasar Modal Dihantam Sentimen Negatif, IHSG Langsung Jatuh Bersamaan
Fundamental Domestik
Sementara itu, praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan bahwa tekanan terhadap saham-saham teknologi dunia masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.
”Tantangan perusahaan teknologi besar adalah belanja modal yang tidak lagi sepenuhnya dapat dibiayai dari arus kas bebas, melainkan melalui pinjaman. Di sisi lain, ancaman model AI open source berbiaya rendah juga semakin besar,” katanya.
Baca Juga: Wall Street Tertekan Bakal Bayangi IHSG
Di pasar komoditas, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak akibat memanasnya konflik Amerika Serikat-Iran serta serangan kelompok Houthi di Laut Merah.
Namun, harga kemudian terkoreksi setelah muncul kabar bahwa Tiongkok mendorong dimulainya kembali perundingan damai antara Washington dan Teheran.
Hans menilai, fundamental domestik masih menjadi penopang utama pasar saham Indonesia.
Percepatan realisasi belanja pemerintah pada semester II diperkirakan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
Menurut dia, IHSG sebenarnya telah menguat sekitar 20 persen dari titik terendah pada Juni, yang menjadi indikasi awal dimulainya fase bullish.
Koreksi yang terjadi belakangan lebih banyak dipicu aksi ambil untung setelah indeks memasuki area overbought serta kenaikan harga minyak yang sempat menembus level USD 100 per barel.
”Pekan ini, IHSG masih berpeluang bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat. Support berada di kisaran 6.079 hingga 6.002, sedangkan resistance berada pada level 6.286 sampai 6.454,” pungkasnya.
Pergerakan IHSG Sepekan Terakhir
Senin (20/7) 6.231,78
Selasa (21/7) 6.340,02
Rabu (22/7) 6.334,48
Kamis (23/7) 6.315,31
Jumat (24/7) 6.196,43
Saham Teraktif Jumat (24/7)
BMRI Rp 1.689.789.878.000
TPIA Rp 1.238.436.760.000
BBCA Rp 1.187.569.310.000
BUMI Rp 1.081.380.361.200
BBRI Rp 863.522.111.000
Sumber: BEI (bil/mim/dio/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post