Menanti Kabar di Tanjung Perak, Harapan Keluarga Korban KM Mutiara Sentosa 2 Belum Padam

Kimda Farida • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 12:12 WIB
Ria menunggu kepastian kondisi saudaranya Taufik penumpang kapal KM Mutiara Sentosa 2 di posko informasi, Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kemarin (2/8). FOTO: ANGGER BONDAN/JAWA POS
Ria menunggu kepastian kondisi saudaranya Taufik penumpang kapal KM Mutiara Sentosa 2 di posko informasi, Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kemarin (2/8). FOTO: ANGGER BONDAN/JAWA POS

 

LombokPost--Dering telepon yang tak pernah tersambung, layar ponsel yang terus dipandangi, dan doa yang tak putus menjadi pemandangan di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (2/8).

Di tempat itu, puluhan keluarga dan sahabat penumpang KM Mutiara Sentosa 2 berkumpul dengan satu harapan: mendengar kabar orang yang mereka cintai.

Di antara mereka ada Fauzi. Sejak siang, pria asal Sumenep itu tak beranjak dari ruang tunggu pelabuhan. Adiknya, Rizmanto atau Rinto, berada di atas kapal nahas tersebut sebagai sopir truk ekspedisi yang mengawal muatan menuju Makassar.

Harapan Fauzi masih belum padam. Ia memilih menunggu informasi resmi daripada larut dalam berbagai kabar yang beredar.

"Kami tidak berani berandai-andai. Kemungkinan adik saya sedang tertidur di dalam truk saat kejadian. Kami hanya menunggu kepastian dari petugas," ujarnya.

Kenangan terakhir bersama Rinto kini terus terbayang di benaknya. Sebelum kapal bertolak, Rinto masih sempat menghubungi istrinya seusai salat Isya pada Sabtu (1/8).

Baca Juga: Putus Rantai Penularan: Tim Gabungan Mulai Tracking Keluarga Ratusan Anak Terpapar TB di Lombok Barat

Bahkan, sekitar pukul 19.36 WIB, ia masih memperbarui status di media sosial. Setelah itu, teleponnya tak lagi aktif ketika kabar kebakaran kapal mulai menyebar keesokan paginya.

Di sudut lain ruang tunggu, Arfian tak kalah gelisah. Lima rekannya sesama sopir truk diketahui ikut berlayar menggunakan KM Mutiara Sentosa 2.

Sejak mendengar kabar kebakaran, ia terus berkomunikasi dengan rekan-rekan sesama pengemudi yang sedang berada di jalur pelayaran lain untuk mencari informasi terbaru.

Sementara itu, Candra Eko, warga Sidoarjo, tak henti-hentinya mencoba menghubungi dua adiknya, Aris dan Antok. Keduanya bekerja sebagai sopir dan kernet truk ekspedisi tujuan Makassar.

Dengan mata berkaca-kaca, Candra mengaku ingin segera memeluk kedua adiknya. Namun hingga kini, panggilan telepon yang ia lakukan tak pernah mendapat jawaban.

Di tengah kecemasan yang sama, Ria Daeng Ngajo datang dari Surabaya demi mencari pamannya, Taufik, yang juga bekerja sebagai kernet truk.

Kepanikan keluarga semakin menjadi setelah beredar video kebakaran kapal di grup percakapan para sopir.

"Tante saya di Makassar menelepon sambil menangis. Beliau meminta saya memastikan keberadaan suaminya setelah melihat video kejadian," tutur Ria.

Meski kabar duka mulai berdatangan, keluarga korban tetap berusaha menjaga harapan. Mereka saling menguatkan satu sama lain di ruang tunggu pelabuhan, berharap nama orang yang mereka cari masuk dalam daftar korban selamat.

Baca Juga: KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Sumenep, 5 Penumpang Tewas dan Puluhan Korban Masih Dievakuasi

Bagi mereka, setiap suara telepon yang berdering, setiap pengumuman dari petugas, hingga setiap kapal yang merapat ke dermaga membawa secercah harapan baru.

Di balik besarnya operasi penyelamatan KM Mutiara Sentosa 2, ada ratusan keluarga yang masih menanti kepastian. Bukan sekadar menunggu daftar nama, tetapi menunggu kesempatan untuk kembali memeluk orang-orang yang mereka cintai.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
KM Mutiara Sentosa 2 tanjung perak Sumenep surabaya kapal terbakar