Jumlah Total Penumpang dan Kru KMP Mutiara Sentosa 2 Gonta-Ganti, Lima Penyintas Anak Tak Tercatat di Manifes

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 10:16 WIB
BERHASIL DIIDENTIFIKASI: Tim SAR gabungan saat mengevakuasi korban meninggal KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar, Senin (3/8). Lima korban meninggal sudah berhasil diidentifikasi. (JAWA POS)
BERHASIL DIIDENTIFIKASI: Tim SAR gabungan saat mengevakuasi korban meninggal KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar, Senin (3/8). Lima korban meninggal sudah berhasil diidentifikasi. (JAWA POS)

 

LombokPost--Ketika Meratus Pematang Siantar, salah satu kapal yang turut mengevakuasi para korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2, merapat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/8) dini hari, terungkap fakta gelap terkait insiden tersebut.

Ada lima anak yang selamat dari kebakaran itu yang ternyata tak tercatat dalam manifes.

Menteri Perhubungan Dody Purwagandhi mengakuinya.

“Ya, ada lima anak yang ada di kapal tersebut. Mereka tidak tercatat dalam manifes, hanya dicantumkan apabila membawa anak tanpa menyebut jumlah,” ungkapnya di tempat yang sama.

Dody menegaskan, temuan itu akan menjadi bahan evaluasi. Menurut dia, semua penumpang dari kelompok usia apa pun wajib tetap tercatat dalam daftar penumpang.

Tapi, janji evaluasi tanpa disertai langkah tegas dan konkrit percuma saja.

Sebab, manifes yang tak sesuai itu sudah menjadi problem klasik transportasi laut Indonesia.

Saat KLM Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, 15 Juli lalu, terungkap, manifes mencatat ada 45 orang di kapal nahas itu.

Baca Juga: Di Balik Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Pelukan yang Tertunda, Perpisahan yang Abadi

Kenyataannya, kapal tersebut dinaiki 76 hingga 78 orang.

Setahun sebelumnya, tepatnya 2 Juli 2025, saat KMP Tunu Pratama Jaya karam di Selat Bali, tak hanya penumpang, bahkan pekerja kapal yang jenazahnya kemudian ditemukan pun tak tercatat di manifes.

Banyak yang ketika kejadian berada di dalam kendaraan mereka dan petugas hanya mencatat nomor kendaraan tanpa mendata siapa saja yang berada di dalamnya.

Jumlah yang terdata di manifes KMP Mutiara Sentosa 2 pun “mendadak” berkurang.

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit menjelaskan, adanya pengurangan data awal sebanyak 50 orang yang batal berangkat karena kendaraannya tidak terangkut.

“Konfirmasi awal dari owner sebanyak 286 orang, tetapi ada 31 kendaraan berisi 50 orang yang tidak muat sehingga batal diberangkatkan," ujarnya.

Data total jumlah orang di atas kapal nahas itu juga berubah-ubah.

Awalnya disebut 271 orang, lalu menjadi 272 orang dalam konferensi pers Minggu (2/8) malam.

Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi seandainya pencatatan manifes dilakukan dengan benar.

Dari total 236 orang di atas kapal, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi sebanyak 234 korban yang terdiri atas 229 selamat dan lima meninggal dunia.

Baca Juga: Menanti Kabar di Tanjung Perak, Harapan Keluarga Korban KM Mutiara Sentosa 2 Belum Padam

Dengan demikian, tim SAR memfokuskan penyisiran untuk mencari keberadaan dua korban yang secara matematis masih belum ditemukan.

Angka tersebut pun, lanjut Nanang, masih bersifat dinamis. Pihaknya terus mengumpulkan data pasti dan mencocokkan identitas korban selamat.

 Proses Evakuasi

Kantor SAR Surabaya mengerahkan KN SAR Permadi sejak pukul 08.30 WIB kemarin dari Sumenep, Madura, untuk menyisir area perairan sekitar lokasi kejadian.

Tim udara dari Polda Jawa Timur serta alutsista TNI AL seperti KRI Bung Tomo dan KRI Nala turut dikerahkan untuk memaksimalkan operasi pencarian.

“Pencarian difokuskan di permukaan air dengan asumsi terdapat korban yang melompat dan masih terapung sebelum nantinya dilakukan penyisiran ke dalam fisik kapal,” jelasnya.

Muhammad Abdul Karim, salah seorang penumpang selamat, mengenang, dia tengah menikmati makan pagi di lantai lima saat instruksi evakuasi disampaikan oleh para kru kapal.

”Kami diminta segera berkumpul di dek haluan depan karena api dari dek kendaraan di bawah menyebar sangat cepat tertiup angin," ujar Karim ketika ditemui Jawa Pos di ruang tunggu Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, kemarin dini hari.

Hanya dalam waktu sekitar 30 menit sejak munculnya asap, seluruh penumpang sudah mengenakan jaket pelampung.

Dalam detik-detik menegangkan itu, Karim menyebut, tidak ada arahan untuk bergerak ke titik evakuasi.

Baca Juga: KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Sumenep, 5 Penumpang Tewas dan Puluhan Korban Masih Dievakuasi

Dia juga mengaku, tidak melihat ada sekoci di kapal tersebut. “Tidak ada, kalau ada mungkin lain ceritanya,” imbuhnya.

Kesaksian penyintas lain menyebut, akses ke area sekoci tertutup api kebakaran.

Yang pasti, ketiadaan sekoci maupun perahu pelampung membuat para penumpang terdesak untuk mengambil tindakan penyelamatan mandiri.

Akhirnya, beberapa di antaranya melompat ke laut setelah melihat armada kapal lain mulai mendekat ke posisi mereka.

 ”Lompat itu bukan karena nekat tanpa perhitungan, melainkan rekomendasi dari petugas agar kami bisa langsung dievakuasi oleh kapal lain," tambah Karim.

Sejumlah survivor yang ditemui Jawa Pos mengapresiasi kapten dan kru Kapal Meratus Pematang Siantar yang berani dan cekatan mengevakuasi korban.

Evakuasi dilakukan dengan berbagai cara, mulai menggunakan tangga monyet kapal hingga tali kapal yang dapat ditarik secara otomatis oleh mesin.

Bambang Susilo, penyintas lain, mengaku, sama sekali tidak sempat memikirkan ketersediaan perahu karet maupun sekoci sewaktu api mulai menjangkau seluruh bagian kapal.

“Yang penting bagaimana caranya bisa selamat keluar dari kepungan api,” tutur Bambang dengan suara bergetar. 

Menanggapi simpang siur data penumpang itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan, pihaknya masih mendalami perbedaan angka antara data manifes awal pelayaran dan realisasi jumlah penumpang yang berhasil dievakuasi tim SAR gabungan masih terus didalami.

Baca Juga: Semester Pertama Fondasi Ekonomi NTB Semakin Kuat, Harga Barang Stabil, Pariwisata Meningkat, Ekspor Melonjak

Basarnas, lanjutnya, membatasi diri hanya dengan merilis data resmi atas korban yang secara fisik telah berhasil dievakuasi di lapangan. 

“Kami hanya mendeklarasikan jumlah korban yang sudah terevakuasi, di mana hingga hari ini (kemarin) terkonfirmasi sebanyak 233 orang,” ujar Syafii Senin (3/8) petang.

Dia menjelaskan, dari total 233 korban itu, tidak seluruhnya langsung mendarat di Surabaya.

Sebagian masih berada dalam perjalanan dari Pulau Masalembu, Sumenep.

Selain itu, empat korban selamat masih harus menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget, juga di Sumenep.

Selain itu, berdasarkan data dari nakhoda dan kru kapal, sebanyak 25 awak kapal beserta tenaga bantuan katering dipastikan seluruhnya selamat.

Seluruh penumpang yang sempat melompat ke laut juga ditemukan dalam kondisi mengenakan jaket pelampung.

Di sisi lain, dia mengonfirmasi bahwa tim SAR di lapangan tidak menemukan ketersediaan sekoci maupun perahu karet di lokasi insiden terbakarnya KMP Mutiara Sentosa 2.

Temuan itu dari hasil penyisiran dan pemantauan langsung oleh tim penyelamat di sekeliling area badan kapal.

Syafii menjelaskan, tim evakuasi juga tidak melihat adanya penyiapan sarana keselamatan darurat. Baik di sisi kanan, kiri, maupun bagian belakang kapal.

Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Tekankan Pentingnya Budaya Kerja dan Investasi Masa Depan, 46 Calon PMI NTB Tujuan Jepang Ikut Pelatihan

“Sementara ini dari laporan petugas di lapangan, memang tidak menemukan adanya sekoci atau perahu karet penyelamat di lokasi,” ujarnya. (zam/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Jawa Pos
KMP Mutiara Sentosa 2 Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 Manifes Kapal Penumpang Hilang Lima Anak Tak Tercatat