LombokPost-Jumlah penduduk Indonesia mencapai 290.125.073 jiwa pada semester I 2026. Angka itu bertambah 1.809.984 jiwa dibandingkan semester II 2025.
Data terbaru berasal dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri. Jumlah penduduk pada semester II 2025 tercatat 288.315.089 jiwa.
Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi memaparkan data itu dalam Rapat Koordinasi Nasional Kependudukan dan Pencatatan Sipil 2026.
”Jumlah penduduk Indonesia tercatat mencapai 290.125.073 jiwa, meningkat 1.809.984 jiwa dibandingkan Semester II Tahun 2025 yang berjumlah 288.315.089 jiwa,” kata dia.
Baca Juga: SENASTIF 2026 Digelar Fatek UMMAT, Bahas AI dan Transformasi Digital
Dari jumlah itu, penduduk laki-laki mencapai 146.402.289 jiwa atau 50,46 persen. Sementara penduduk perempuan berjumlah 143.722.784 jiwa atau 49,54 persen.
Teguh menegaskan, Data Kependudukan Bersih tidak hanya memuat angka statistik. Data itu menggambarkan kondisi masyarakat sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan.
”Di balik setiap angka terdapat gambaran nyata mengenai kondisi bangsa sekaligus dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan nasional yang tepat sasaran,” ujarnya.
Menurut Teguh, pertumbuhan penduduk dalam beberapa semester terakhir relatif konsisten. Rata-rata jumlah penduduk bertambah sekitar 1,7 juta jiwa setiap semester.
Pertumbuhan dipengaruhi angka kelahiran neto, kematian, perpindahan penduduk, serta penyempurnaan data.
Indonesia juga masih berada dalam fase bonus demografi. Penduduk usia produktif 15-64 tahun mencapai 201.060.449 jiwa atau 69,30 persen dari total penduduk.
Sementara itu, penduduk berusia 0-14 tahun berjumlah 65.964.460 jiwa atau 22,74 persen. Kelompok lanjut usia 65 tahun ke atas mencapai 23.100.164 jiwa atau 7,96 persen.
”Artinya, ini adalah peluang besar yang tidak dimiliki semua negara. Bonus demografi merupakan modal utama menuju Indonesia Emas 2045,” terang dia.
Baca Juga: Enam Kasus Korupsi Dihentikan di Tahap Penyidikan, KPK Ungkap Alasan Penerbitan SP3
Namun, Teguh mengingatkan bonus demografi tidak otomatis mendorong kemajuan. Peluang itu harus disertai kebijakan yang tepat.
Bonus demografi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi apabila penduduk usia produktif memperoleh pendidikan berkualitas. Mereka juga membutuhkan keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Selain itu, akses layanan kesehatan dan kesempatan kerja yang memadai harus tersedia.
”Sebaliknya, apabila peluang tersebut tidak mampu kita kelola, bonus demografi justru dapat berubah menjadi tantangan sosial dan ekonomi,” kata dia.
Editor : Akbar SirinawaSumber : jawapos.com