LombokPost – Air bersih yang digunakan dan diminum masyarakat sehari-hari kerap dianggap netral serta bebas dari dampak lingkungan.
Namun, di balik wujudnya yang jernih dan alami, setiap tetes air ternyata menyimpan "jejak karbon" yang terbentuk jauh sebelum mengalir ke kran rumah tangga.
Jejak karbon air terbentuk dari serangkaian proses teknis yang membutuhkan energi besar.
Baca Juga: Dirjen EBTKE Tinjau PLTS Sengkol Lombok, PLN NTB Perkuat Transisi Energi Hijau
Pengambilan air baku dari sungai, waduk, atau air tanah memerlukan sistem pemompaan mekanis yang bekerja tanpa henti.
Karena pasokan listrik di Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, energi yang digunakan dalam proses pengambilan ini secara otomatis melepaskan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Proses pengolahan air baku menjadi air bersih yang layak konsumsi juga memperbesar jejak emisi tersebut.
Baca Juga: Laporan PWYP Indonesia, Transisi Energi Berisiko Perparah Beban Perempuan Jika Tak Inklusif
Tahapan penyaringan, pengendapan, hingga desinfeksi kimiawi membutuhkan konsumsi energi tambahan.
Begitu pula pada tahap distribusi di mana sistem perpipaan perkotaan memompa air melintasi jarak jauh untuk menjaga tekanan konstan, menjadikan sektor pengolahan air sebagai salah satu konsumen energi terbesar dalam layanan publik.
Emisi dari Rumah Tangga hingga Limbah
Di tingkat konsumen, jejak karbon membengkak akibat kebiasaan sehari-hari.
Aktivitas mandi air hangat, pemanfaatan pemanas air listrik atau gas, hingga penggunaan mesin cuci menjadi penyumbang emisi tertinggi dalam konsumsi energi rumah tangga modern.
Tidak berhenti di situ, air bekas pakai atau limbah domestik kembali memicu emisi baru.
Pengolahan air limbah memerlukan energi untuk aerasi dan pengolahan biologis.
Proses ini juga berpotensi memicu pelepasan gas metana dan dinitrogen oksida (N_2O) yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat ketimbang karbon dioksida (CO_2).
Efisiensi Air Sebagai Strategi Mitigasi Iklim
Pengurangan konsumsi air terbukti memiliki efek berlapis (domino effect) terhadap penurunan emisi global.
Menghemat volume air secara otomatis memangkas beban energi pada tahap pengambilan, pengolahan, distribusi, hingga pengolahan limbahnya.
Perubahan perilaku sederhana seperti memperpendek durasi mandi, memilih suhu air normal, serta menutup kran saat tidak digunakan memberikan dampak kolektif yang signifikan jika diterapkan secara luas.
Pemahaman mengenai jejak karbon air ini membuka perspektif baru bahwa penghematan air bukan sekadar menjaga ketersediaan pasokan, melainkan langkah nyata dalam mitigasi perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan.
Editor : Redaksi Lombok Post Online