LombokPost--Dari titik awal di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) meluas hingga memasuki kawasan Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, dan Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Sampai Rabu (5/8), api masih membara dan menghanguskan sekitar 50 hektare (ha) vegetasi di kawasan konservasi tersebut.
"Api mulai masuk wilayah administratif Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (4/8). Sebelumnya, titik api berada di kawasan antara Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang," ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos, Rabu (5/8).
TNBTS tersebar di empat kabupaten di Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang).
Kawasan tersebut juga menjadi andalan destinasi wisata serta pendakian di provinsi yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa tersebut.
Api juga diperkirakan sudah masuk sekitar 800 meter ke wilayah Kabupaten Malang dari perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo kemarin.
"Mendekati Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo," terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kepada Radar Malang Grup Jawa Pos.
Menurut Oemar, api sebenarnya sempat dinyatakan padam pada Selasa (4/8) sekitar pukul 00.00.
Baca Juga: Di Balik Penyelamatan Ratusan Penyintas KMP Mutiara Sentosa 2 oleh MV Meratus Pematang Siantar
Namun, bara kembali muncul di kawasan Pusung Jantur, jalur area savana yang berada di kawasan lereng kaldera Bromo, Kabupaten Probolinggo.
Saat itu, angin berembus kencang. Akibat hembusan angin kencang, api kembali merambat hingga kawasan Watu Gede, Desa Sariwani, pada Rabu (5/8) sekitar pukul 07.00.
Vegetasi yang terbakar didominasi padang savana, pohon cemara gunung, akasia, serta kaliandra.
Kondisi cuaca yang kering disertai angin cukup kencang membuat kobaran api cepat menjalar dari lembah menuju lereng dan tebing kawasan TNBTS sehingga menyulitkan proses pemadaman. Petugas gabungan terus melakukan upaya pemadaman dan pemantauan di sejumlah titik.
Hingga Rabu (5/8) sekitar pukul 15.00, sebagian besar kobaran api berhasil dipadamkan.
Meski demikian, masih terdapat satu titik api di wilayah Desa Sariwani yang belum dapat dijangkau. Sebab, lokasinya berada di medan yang curam dan ekstrem. "Personel tetap bersiaga di lokasi," kata Oemar.
Baca Juga: BBM Naik, Biaya Operasional Angkutan Rinjani Membengkak
Libatkan Ratusan Personel
Petugas Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Probolinggo Aditya Fibad menambahkan, proses pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan.
Terdiri atas BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Provinsi Jawa Timur, Damkar Kabupaten Probolinggo, Balai Besar TNBTS, Perhutani, Satpol PP, Forkopimcam Sukapura, Samapta Polres Probolinggo, serta sejumlah warga sekitar.
Medan yang terjal, lanjut Aditya, membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan secara optimal menggunakan peralatan.
Personel akhirnya memadamkan api secara manual dengan memanfaatkan ranting pohon karena alat pemukul api (gebyok) yang tersedia rusak.
"Pemadaman kami lakukan secara manual karena kondisi medan tidak memungkinkan. Alat gebyok juga sudah rusak, sehingga personel menggunakan ranting pohon untuk memukul api," jelasnya.
Sementara itu, Inspektur Inspeksi Damkar Kabupaten Probolinggo Danang Purwanto mengatakan, Balai Besar TNBTS turut mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran berkapasitas 4.000 liter.
Selain itu, satu unit mobil water supply berkapasitas 3.500 liter juga dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.
Medan Sulit Dilalui
Di Kabupaten Malang, pemadaman juga tak mudah. Sebab, medannya berupa lereng terjal dan sulit dilalui. Seperti di Probolinggo, pemadaman api juga dilakukan secara manual.
Tim juga membuat sekat bakar dan melakukan penyemprotan menggunakan dua unit mobil tangki dari TNBTS dan BPBD Provinsi Jawa Timur. "Supaya tidak meluas," kata Sadono.
Kebakaran di Bromo itu juga menjadi atensi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, pihaknya akan mengupayakan pemadaman lewat udara dengan metode water bombing menggunakan helikopter.
“Kami upayakan dua unit (helikopter), jenis MI dan Sikorsky. Ini sedang persiapan diberangkatkan dari Pontianak, kemungkinan sampai di Malang besok (hari ini)," katanya.
Namun, asesmen lebih lanjut masih terus dilakukan. Dalam hal ini, dihitung apakah cukup hanya dengan dua unit helikopter.
Suharyanto mengungkapkan, bahwa saat ini sedang dilakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi lain, masing-masing Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Gubernur NTB Akselerasi Transformasi SMK Berbasis Industri
Rencana lain adalah modifikasi cuaca.
"Modifikasi masih kami koordinasi dengan BMKG karena sampai hari ini (kemarin) belum ada pertumbuhan awan hujan," ujar Suharyanto. (gus/hn/biy/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Jawa Pos