Fregat Serbaguna Dinilai Paling Realistis untuk Pertahanan Laut Indonesia

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 03:57 WIB
KRI Prabu Siliwangi-321 memasuki Perairan Indonesia. Kapal itu sudah menuntaskan pelayaran panjang dari Italia. (TNI AL)
KRI Prabu Siliwangi-321 memasuki Perairan Indonesia. Kapal itu sudah menuntaskan pelayaran panjang dari Italia. (TNI AL)

 

 

LombokPost-Ancaman multidimensi di kawasan Indo-Pasifik terus berkembang. Kondisi itu menuntut transformasi armada TNI Angkatan Laut untuk menjaga wilayah laut Indonesia.

TNI AL dinilai membutuhkan lebih banyak fregat serbaguna seperti Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) Kelas Brawijaya. Kapal perang dari Italia itu memiliki berbagai kemampuan tempur dalam satu platform.

Purnawirawan TNI AL Laksamana Muda TNI Agung Pramono mengatakan, fregat serbaguna lebih efisien untuk menjaga wilayah laut Indonesia yang sangat luas.

Baca Juga: Tukin Kemenhan-TNI Naik di Tengah Efisiensi, Kemenhan-TNI Lima Kali Berturut-turut Raih WTP

Agung pernah menjabat sebagai asisten perencanaan umum panglima TNI. Menurutnya, pengadaan kapal PPA menjadi momentum untuk memperbarui orientasi pembangunan armada laut.

Luas wilayah laut Indonesia membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan negara lain. Strategi pertahanan harus diterjemahkan menjadi strategi militer dan dasar penentuan kebutuhan alat utama sistem persenjataan.

Dalam konteks Indonesia, pengendalian wilayah laut menjadi prioritas utama. Perhatian khusus perlu diarahkan pada Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

“Menurut saya ZEE itu harus kita kendalikan dan kita kuasai. Jangan sampai ada orang masuk tidak kita ketahui,” ucap Agung, dikutip Kamis (6/8), dari siniar Ngobrolin Pertahanan Indonesia di kanal YouTube Marapi Consulting & Advisory.

Ancaman terhadap wilayah laut kini dapat berasal dari berbagai platform. Di antaranya kapal permukaan, kapal selam, pesawat tempur, rudal jarak jauh, dan drone.

Agung menilai ancaman terhadap ZEE saat ini lebih mungkin datang melalui udara dibandingkan serangan laut konvensional. Karena itu, kapal perang dengan kemampuan pertahanan udara menjadi kebutuhan strategis.

“TNI AU maupun TNI AL, dua-duanya harus dilengkapi kemampuan antiudara yang efektif,” ucap dia.

Fregat serbaguna berukuran sekitar 3.500 hingga 6.000 ton dinilai sesuai dengan kebutuhan itu. Contohnya KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.

Baca Juga: Ukraina Serang Kapal Dagang Iran di Laut Kaspia dan Teheran Siap Ambil Langkah, Perang Rusia dan Ukraina Masih Berlangsung

Kapal perang itu dinilai efektif menjalankan strategi anti-access. Kemampuan itu dibutuhkan untuk mencegah pihak lain memasuki wilayah yurisdiksi Indonesia tanpa terdeteksi atau mendapat respons.

Pengamat pertahanan dari Marapi, Alman Helvas Ali, menilai PPA Kelas Brawijaya menjadi alutsista strategis untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia.

Kapal itu juga dinilai mampu menjawab perubahan karakter ancaman di kawasan. Namun, Alman mengakui kapal perang Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam pertahanan udara.

Menurutnya, persoalan itu merupakan dampak orientasi pembangunan armada TNI AL pada masa lalu. Pembangunan kekuatan sebelumnya lebih berfokus pada penegakan hukum di laut.

Kemampuan pertahanan udara belum menjadi perhatian utama.

“Bertahun-tahun fokus Angkatan Laut kita lebih banyak ke operasi di perairan teritorial sehingga kemampuan pertahanan udara jarak menengah belum menjadi prioritas,” ujarnya.

Baca Juga: Korea Utara Lengkapi Kapal Perang dengan Rudal Nuklir

Perubahan lingkungan strategis menuntut TNI AL mengubah orientasi pembangunan kekuatan laut. Kehadiran kapal perang PPA menjadi salah satu wujud perubahan itu.

Alman menilai pengadaan PPA menjadi awal transformasi menuju armada tempur yang mampu memberikan perlindungan udara bagi seluruh gugus tugas laut.

“Sekarang kita sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana Kementerian Pertahanan segera melengkapi PPA dengan senjata-senjata yang dibutuhkan termasuk rudal Aster,” ucap Alman.

Menurutnya, pembangunan armada Indonesia ke depan sebaiknya diarahkan pada fregat serbaguna. Kapal perang jenis itu mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus.

Kemampuannya mencakup pertahanan udara dan peperangan antikapal permukaan. Fregat serbaguna juga dapat menjalankan peperangan antikapal selam.

Pilihan itu dinilai paling realistis di tengah keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia.

“Akan lebih bijaksana kalau kita membeli fregat tipe general purpose karena memiliki kemampuan pertahanan udara, anti permukaan, dan anti kapal selam sekaligus,” pungkasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : jawapos.com
fregat serbaguna PPA Kelas Brawijaya pertahanan laut Zona Ekonomi Eksklusif TNI AL