LombokPost-Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memperkuat integrasi data kependudukan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin tepat sasaran.
Pemutakhiran data juga diarahkan meningkatkan akurasi penerima manfaat. Integrasi diharapkan mencegah pencatatan penerima secara ganda.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, data Dukcapil dapat membantu BGN mendata penerima manfaat secara individual. Pendataan mencakup anak-anak hingga ibu hamil.
Baca Juga: BGN Tutup 504 Dapur MBG Akibat Tak Higienis, Sekitar 3.000 Dapur Masih Jalani Pemeriksaan
Dengan integrasi itu, pencatatan tidak hanya berisi jumlah penerima. Identitas setiap penerima manfaat juga dapat diketahui lebih akurat.
“Jadi tidak hanya data kuantitatif, angka jumlah penerima manfaat, tapi siapa penerima manfaatnya, bisa terdata,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Khusus Kemendagri, BGN, dan pemerintah daerah di Jakarta.
Tito menegaskan integrasi data diarahkan untuk mewujudkan prinsip “satu orang, satu penerima manfaat”. Sistem itu sekaligus diharapkan mencegah pencatatan penerima secara ganda.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pemutakhiran data bersama Kemendagri menjadi bagian dari upaya memastikan data sesuai dengan kondisi pelayanan di lapangan.
Baca Juga: Ribuan Porsi MBG di Karanganyar Ditarik, Ratusan Siswa dan Guru di Trenggalek Diduga Keracunan
Dalam proses itu, BGN menemukan data ganda. Selain itu, terdapat penerima yang secara administratif tercatat tetapi belum mendapatkan layanan.
“Dukcapil, betul, tadi ditandatangani MOU dengan Kementerian Dalam Negeri, pemutakhiran data termasuk juga kita lihat kemarin kita sudah rapat koordinasi terbatas di Menko Pangan dan kita menemukan ada praktik lama, ada data-data yang double,” katanya.
Mas Dar, sapaan Sudaryono, mengatakan pemutakhiran juga membantu BGN menemukan ketidaksesuaian antara data administratif dan kondisi faktual.
“Jadi ada nama-nama yang penting kelihatannya banyak, tapi ternyata memang belum dilayani. Itu termasuk dari data pemutakhiran tadi,” ujarnya.
Ke depan, integrasi berpotensi dikembangkan dengan data sektor kesehatan. Pengembangan itu dapat digunakan untuk memantau kondisi penerima manfaat secara berkelanjutan.
Tito menyebut pemantauan dapat mencakup perkembangan kesehatan anak. Di antaranya perkembangan tinggi dan berat badan.
“BGN siap berkolaborasi, siap berkoordinasi dengan semua pihak, terkhusus adalah kepala daerah,” tegas Mas Dar.
Editor : Akbar SirinawaSumber : jawapos.com