BMKG Dorong Informasi Cuaca Dipakai untuk Mitigasi Risiko

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:30 WIB
Kepala BMKG Prof Teuku Faisal Fathani (tengah) meninjau lingkungan kerja UPT BMKG di NTB, Kamis (27/8), untuk memastikan kesiapan operasional layanan informasi bencana. (IST/LOMBOK POST)
Kepala BMKG Prof Teuku Faisal Fathani (tengah) meninjau lingkungan kerja UPT BMKG di NTB, Kamis (27/8), untuk memastikan kesiapan operasional layanan informasi bencana. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost–Informasi cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dituntut tidak berhenti sebagai prakiraan.

Informasi tersebut harus dipahami dan diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk mengantisipasi risiko serta mendukung pengambilan keputusan di berbagai sektor.

Hal itu disampaikan Kepala BMKG Prof Teuku Faisal Fathani saat meninjau lingkungan kerja UPT BMKG di NTB, Kamis lalu (27/8).

Baca Juga: Waspada Gempa Susulan, BMKG Petakan Kerentanan Tanah Flores

Faisal mengatakan, pemanfaatan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca maupun peralihan musim.

Informasi yang tersedia harus menjadi dasar bagi pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat dalam menentukan langkah sesuai kondisi yang dihadapi.

Menurut Faisal, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 menugaskan BMKG untuk mendukung berbagai sektor pembangunan melalui informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Pemanfaatannya mencakup transportasi, infrastruktur, energi dan sumber daya mineral, kesehatan, kemaritiman, pertanian, kehutanan dan lingkungan hidup, pariwisata, hingga kebencanaan.

“Tugas BMKG sangat luas karena informasi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung keselamatan transportasi, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam, hingga pengembangan pariwisata dan pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Optimalkan Modifikasi Cuaca untuk Padamkan Karhutla Kalimantan

Faisal menegaskan, tantangan BMKG bukan hanya menghasilkan informasi yang akurat, tetapi memastikan informasi tersebut dapat digunakan oleh sektor terkait untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Dalam sektor pertanian, misalnya, informasi iklim dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu tanam dan mengantisipasi kondisi yang berpotensi memengaruhi produksi.

Di bidang kesehatan, informasi iklim dapat dimanfaatkan untuk memprediksi potensi peningkatan penyakit berbasis iklim.

Sementara pada sektor kehutanan dan lingkungan, informasi tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Begitu pula di sektor transportasi, kemaritiman, energi, hingga pariwisata yang membutuhkan informasi cuaca sebagai bagian dari perencanaan dan keselamatan.

Karena itu, penguatan kapasitas Unit Pelaksana Teknis (UPT), penguasaan teknologi observasi, serta peningkatan kualitas layanan menjadi bagian penting agar informasi yang dihasilkan semakin andal dan mudah dimanfaatkan.

“Keberhasilan BMKG merupakan hasil kerja bersama seluruh unit yang ada di Indonesia. Karena itu, penguatan UPT menjadi bagian penting dalam mewujudkan layanan MKG yang semakin andal dan berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga: Prediksi Kemarau Panjang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis

Penguatan tersebut diharapkan, membuat informasi BMKG semakin responsif terhadap kebutuhan pengguna.

Dengan dukungan infrastruktur, teknologi, sumber daya manusia yang kompeten, dan kemitraan lintas sektor, informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika diharapkan tidak hanya menjadi bahan informasi, tetapi benar-benar menjadi dasar tindakan.

Pada akhirnya, efektivitas layanan BMKG tidak hanya diukur dari seberapa akurat prakiraan yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana informasi tersebut mampu mendorong tindakan antisipatif, mengurangi risiko, dan melindungi masyarakat.

Editor : Kimda Farida
Sumber : BMKG
iklim bmkg aksi informasi cuaca