Investigasi KM Virgo Transport 8, Menhub Sebut Pengangkatan Kotak Hitam Tunggu Kapal Diangkat

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 00:25 WIB
EVAKUASI: Tim SAR membawa kantong jenazah korban KM Virgo Transport 8 yang
terbalik di Laut Jawa, Senin (14/9)
EVAKUASI: Tim SAR membawa kantong jenazah korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa, Senin (14/9)
LombokPost — Wakil Menteri Perhubungan Suntana memastikan bahwa nakhoda KM Virgo Transport 8, Arif Yunianto, selamat setelah kapal tersebut mengalami kecelakaan pelayaran di Laut Jawa. Saat ini, yang bersangkutan tengah menjalani proses pemeriksaan oleh otoritas terkait.
 
Kendati demikian, dalam konferensi pers di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (14/9/2026), Suntana belum mendetailkan materi pemeriksaan maupun pihak yang memimpin proses investigasi tersebut.
 
Sementara itu, keberadaan Voyage Data Recorder (VDR) atau kotak hitam perekat data pelayaran kapal hingga kini belum ditemukan. VDR memegang peranan kunci dalam mengurai kronologi serta penyebab pasti insiden pelayaran tersebut.
 
Suntana belum dapat memastikan apakah instrumen tersebut masih berada di dalam bangkai kapal atau tidak.“Menunggu kapal diangkat dulu,” katanya, seperti dilansir Radar Banjarmasin.
 
Pengoperasian EPIRB dan Pemantauan Sinyal DaruratDi sisi lain, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memastikan perangkat sinyal darurat kapal atau Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dalam kondisi aktif saat insiden terjadi.Langkah ini membantah dugaan yang menyebutkan bahwa alarm darurat kapal gagal berfungsi saat peristiwa naas tersebut berlangsung.
 
“Sinyal EPIRB dipantau melalui sistem deteksi yang dimiliki Basarnas maupun negara lain yang tergabung dalam sistem pemantauan,” katanya. Syafii menegaskan bahwa perangkat tersebut tetap memancarkan sinyal, hanya saja sempat terjadi penundaan waktu deteksi. “Yang terjadi adalah adanya jeda,” katanya.
 
Perkembangan Evakuasi Korban dan Bantuan Pribadi GubernurHingga Rabu (16/9/2026) pukul 19.00 WITA, jumlah korban yang berhasil dievakuasi tercatat sebanyak 114 orang, dengan rincian 108 orang selamat dan sisanya ditemukan meninggal dunia.
 
Sementara itu, sebanyak 129 penumpang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.Sebagai bentuk kepedulian atas musibah tersebut, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menyiapkan bantuan pribadi sebesar Rp 5 juta untuk masing-masing korban selamat, dengan total alokasi bantuan mencapai Rp 540 juta.
 
“Dia mau pulang terserah, mau tinggal terserah, mau kerja di sini terserah. Yang penting kalau pulang, dia bisa beli tiket sendiri,” jelas Muhidin saat memantau proses evakuasi di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.Analisis Gelombang Laut dari BRINGuna melengkapi analisis teknis, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji kondisi cuaca dan perairan saat insiden terjadi pada 13 September 2026.
 
Hasil analisis menunjukkan gelombang laut tercatat setinggi 1,56 meter dengan periode sekitar enam detik.Dalam parameter keselamatan pelayaran, tinggi gelombang tersebut masuk dalam kategori sedang (1,25–2,50 meter), di bawah batas gelombang tinggi (2,50 meter) maupun gelombang ekstrem (4 meter ke atas). Kendati demikian, BRIN menggarisbawahi bahwa temuan fenomena oseanografi ini bukan merupakan acuan tunggal pemicu kecelakaan kapal.
 
 
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
KM Virgo Transport 8 basarnas