Kabut Asap Memburuk, Kualitas Udara Pontianak Berbahaya dan Belasan Penerbangan Terdampak

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 23:09 WIB
Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)
Para prajurit TNI memadamkan api di lokasi karhutla. Belasan ribu personel dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di berbagai daerah Indonesia. (TNI)

LombokPost — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan kian meluas. Di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, kabut asap tebal menyelimuti wilayah tersebut pada Minggu (20/9/2026). Indeks Kualitas Udara (AQI) setempat mencatatkan angka 958 pada pukul 16.00 WIB, yang tergolong dalam kategori Sangat Berbahaya.

Polutan utama yang mendominasi udara Pontianak adalah Particulate Matter (PM2.5) dengan konsentrasi mencapai 555,5 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak dr Nur Anissa menjelaskan, paparan asap karhutla dalam jangka panjang berpotensi menurunkan fungsi paru serta meningkatkan reaktivitas saluran pernapasan.

”Semakin tinggi konsentrasi polutan dan semakin lama seseorang terpapar, risiko gangguan kesehatan juga dapat meningkat,” jelasnya.

Annisa juga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta mengenakan masker sesuai standar medis guna meminimalkan paparan partikulat halus. ”Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan pernapasan lainnya,” ujar Annisa.

Jarak Pandang Menurun, 14 Penerbangan Terganggu di Palangka Raya

Kondisi serupa dialami Provinsi Kalimantan Tengah. Kabut asap tebal menurunkan jarak pandang (visibility) hingga 600 meter di sekitar Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas penerbangan.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut I Made Darmawan mengonfirmasi sedikitnya 14 jadwal penerbangan terdampak, yang terdiri atas tujuh jadwal kedatangan dan tujuh jadwal keberangkatan.

Jarak pandang dilaporkan merosot drastis dari 1.200 meter pada pukul 05.00 WIB menjadi berkisar 600 meter pada pukul 10.30–11.00 WIB. ”Kondisi tersebut belum memungkinkan untuk aktivitas penerbangan karena berada di bawah batas minimum operasional,” jelas Darmawan.

Sejumlah maskapai harus menunda jadwal operasional akibat cuaca buruk tersebut. Beberapa penerbangan yang menunggu perbaikan jarak pandang antara lain Super Air Jet IU 674 rute Surabaya–Palangka Raya dan Wings Air IW 1369 rute Balikpapan–Palangka Raya. Penundaan keberangkatan juga dialami penerbangan Super Air Jet IU 395 ke Semarang serta Wings Air IW 1368 ke Balikpapan.

Darmawan menegaskan bahwa operasional bandara tetap dibuka. ”Kendala utama saat ini murni karena keterbatasan jarak pandang akibat kabut asap,” tegasnya.

Cuaca Panas Picu Kematian Ribuan Ikan di Hulu Sungai Tengah

Dampak kemarau dan cuaca panas juga memukul sektor perikanan budi daya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Kenaikan suhu air kolam yang drastis mengakibatkan sedikitnya 8.000 ekor ikan nila mati massal.

Misera, anggota Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, menyebutkan dari total 10.000 bibit nila yang dibudidayakan di kolam terpal, mayoritas tidak bertahan hidup. ”Sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Hulu Sungai Tengah Syaifuddin Noor menyampaikan sedikitnya empat kelompok pembudi daya ikan telah melaporkan dampak kekeringan dan cuaca ekstrem.

Selain pembudi daya nila, penurunan debit air tanah juga mengganggu aktivitas Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan yang membudidayakan ikan gabus (haruan) di kolam tanah.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
asap kebakaran hutan karhutla