Harga Minyak Global Tekan Pasar Saham, BI Diperkirakan Jaga Stabilitas Rupiah

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 04:15 WIB
BURSA SAHAM: Seorang pria melintasi pergerakan saham yang menampilkan IHSG saat pembukaan pasar di gedung BEI di Jakarta beberapa waktu lalu. Pengamat menilai semester dua 2026 menjadi fase penguatan IHSG. (Jawa Pos)
BURSA SAHAM: Seorang pria melintasi pergerakan saham yang menampilkan IHSG saat pembukaan pasar di gedung BEI di Jakarta beberapa waktu lalu. Pengamat menilai semester dua 2026 menjadi fase penguatan IHSG. (Jawa Pos)

LombokPost — Lonjakan harga minyak mentah yang bertahan di atas level USD 100 per barel kembali memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global. Tekanan harga energi ini berpotensi mendorong bank-bank sentral dunia untuk memperpanjang era suku bunga tinggi, yang pada gilirannya memberikan sentimen negatif bagi pergerakan bursa saham.

Praktisi pasar modal Hans Kwee mengemukakan bahwa kenaikan harga minyak menjadi salah satu indikator utama yang perlu dicermati pelaku pasar secara saksama. Kendati indeks volatilitas CBOE (VIX) mulai melandai seiring koreksi teknis harga minyak, risiko inflasi tetap membayangi perekonomian dunia.

“Ekspektasi pelaku pasar saat ini jauh lebih hawkish dibandingkan proyeksi bank sentral AS. Federal Reserve (The Fed) memproyeksikan satu kali kenaikan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) lagi pada 2026 dan mempertahankannya pada 2027. Pelaku pasar memperkirakan FFR lebih dari satu kenaikan tambahan tahun ini dan sekitar tiga kenaikan lagi hingga akhir 2027,” kata Hans, Minggu (20/9/2026).

Meskipun harga minyak sempat mengalami penurunan akibat sinyal perbaikan pasokan dari Arab Saudi, harganya yang masih berada di posisi tinggi tetap menjadi pemicu utama ketidakpastian kebijakan moneter global.

Proyeksi Kebijakan Bank Indonesia dan Gerak IHSG

Dari ranah domestik, Bank Indonesia (BI) diprediksi masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini. Kendati demikian, opsi penyesuaian suku bunga tetap terbuka apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan risiko arus modal keluar (capital outflow) terus berlanjut.

”Kenaikan BI-rate sebesar 25 basis poin berpeluang terjadi apabila sejumlah tekanan muncul bersamaan. Di antaranya The Fed kembali menaikkan bunga, harga minyak bertahan di atas USD 100 per barel, dolar AS menguat, serta rupiah terus mengalami tekanan,” paparnya.

Secara teknikal, Hans memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak konsolidasi dengan rentang support di level 6.371–6.230 dan resistance pada kisaran 6.552–6.707.

Arus Modal Asing di Pasar SBN dan SRBI Membaik

Di tengah dinamika ketidakpastian global, arus modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia menunjukkan tren pemulihan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 11 September 2026, akumulasi modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik telah mencapai Rp 141,6 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date).

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa dari total aliran modal tersebut, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan net inflow sebesar Rp 40,8 triliun. Tren positif ini terlihat menguat sejak kuartal II dan berlanjut hingga kuartal III-2026.

“Ini terus meningkat. Di kuartal I SBN negatif, di kuartal II sudah mulai positif, di kuartal III saja belum selesai sudah mulai kelihatan naik,” kata Suahasil.

Adapun per 10 September 2026, aliran modal asing yang masuk ke pasar SBN khusus pada kuartal III telah menembus Rp 33,8 triliun. Sementara itu, instrumen Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatatkan total inflow sebesar Rp 171,6 triliun sepanjang 2026, meskipun terdapat outflow sebesar Rp 7,6 triliun pada kuartal III hingga pertengahan September.

Di sisi lain, pasar saham Indonesia masih mencatatkan akumulasi outflow sebesar Rp 70,7 triliun sepanjang tahun berjalan. Kendati demikian, pasar saham mulai berbalik mencatatkan inflow sebesar Rp 2,9 triliun hingga 11 September 2026.

”Perbaikan kredibilitas pasar saham menjadi salah satu kunci untuk menarik modal asing lebih besar,” paparnya.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
rupiah harga minyak dunia suku bunga