Ekosistem Kreator Konten Makin Strategis, Peran Media Sosial Mendongkrak GMV Produk

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 23:44 WIB
PUSAT PRODUK UMKM: Produk Ayam Taliwang kemasan Beca Bero milik UD Taliwang yang ada di etalase Bale KITA NTB, pusat produk lokal NTB di Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)
PUSAT PRODUK UMKM: Produk Ayam Taliwang kemasan Beca Bero milik UD Taliwang yang ada di etalase Bale KITA NTB, pusat produk lokal NTB di Mataram. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost — Perkembangan ekosistem industri kreatif digital di Indonesia mencatatkan penguatan yang signifikan. Para pelaku industri menilai peran kreator konten kini makin krusial sebagai salah satu penggerak utama dalam mendongkrak nilai penjualan barang (Gross Merchandise Value/GMV) berbagai produk industri hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

OMG Brand Building Lead Ayu Tarantika Indeswari memaparkan bahwa pembuatan konten saat ini tidak hanya berorientasi pada aspek estetika dan kreativitas semata, melainkan telah menjadi instrumen ekonomi yang memberikan dampak langsung pada perputaran bisnis nasional.

”Kami mencatatkan pertumbuhan affiliate GMV dari ekosistem kreator OMG sebesar 45 persen per kuartal III 2026. Angka ini menjadi pencapaian tertinggi,” jelas Ayu di Jakarta.

Guna mengoptimalkan potensi pasar tersebut, OMG merangkul sekitar 7.300 kreator konten dalam sebuah forum jejaring komunitas untuk saling berbagi pengetahuan teknis mengenai strategi peningkatan nilai penjualan produk afiliasi.

Ayu menambahkan, fasilitasi tersebut terbukti efektif dalam mendorong akselerasi pendapatan para kreator.

”30 kreator teratas kami mendapatkan pertumbuhan GMV mencapai 60 persen. Hal ini menunjukkan bagaimana akses terhadap pembelajaran, komunitas, dan peluang yang tepat dapat mendukung kreator untuk tumbuh,” jelasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan bahwa strategi pemasaran berbasis konten kini telah menyatu dengan keunggulan kualitas produk. Dalam industri kuliner misalnya, kelezatan cita rasa dinilai tidak lagi cukup untuk menarik minat pembeli di tengah sengitnya persaingan di media sosial.

”Konsumen tidak cuma membeli rasa, tetapi juga membeli cerita, pengalaman, dan nilai,” ujar Roro.

Roro mengimbau para pelaku UMKM untuk tidak hanya berfokus pada kualitas produk dan penguatan merek, tetapi juga memahami dinamika perilaku konsumen serta memanfaatkan teknologi digital agar jangkauan pasar dapat diperluas.

Potensi besar pemasaran digital ini terlihat dari tingginya aktivitas konten kuliner di platform TikTok, di mana terdapat lebih dari 6 juta unggahan yang memanfaatkan tagar tematik seperti #Kuliner dan #JajananTikTok.

Oleh karena itu, Roro mengingatkan pentingnya aspek kemasan, penyampaian cerita (storytelling), serta kemudahan sistem transaksi digital sebagai satu kesatuan pengalaman berbelanja bagi konsumen.

Sinergi antara konten digital dan pertumbuhan bisnis juga dikonfirmasi oleh pengelola platform. Head of Industry TikTok Indonesia Zaheer Travadi mengungkapkan bahwa volume konten bertema makanan di platformnya mencatatkan pertumbuhan sebesar 52 persen secara tahunan (year-on-year).

Pertumbuhan konsumsi konten digital tersebut mencerminkan meningkatnya ketergantungan publik terhadap platform media sosial untuk mencari informasi, resep, rekomendasi tempat makan, hingga membeli produk kuliner hasil olahan UMKM lokal.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
UMKM konten kreator