Wall Street Menguat Ditopang Sektor AI, IHSG Diproyeksi Masih Dibayangi Tekanan Global

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 23:54 WIB
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)
Karyawan berada di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Jawa Pos)

LombokPost— Pergerakan pasar saham global masih diwarnai volatilitas tinggi. Kendati demikian, bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) berhasil mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau, didorong oleh laju penguatan saham-saham sektor teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Praktisi pasar modal Hans Kwee mengamati bahwa penguatan indeks S&P 500 dan Nasdaq berlangsung di tengah dinamika pasar yang relatif fluktuatif. Investor terus mencermati dampak jangka panjang teknologi AI terhadap kinerja korporasi.

”Selain itu, faktor harga minyak yang tinggi dan kenaikan imbal hasil Treasury AS baru-baru ini membuat investor tetap waspada,” kata Hans, Minggu (27/9/2026).

Hans menjelaskan, kekhawatiran terhadap tekanan inflasi kembali membayangi dinamika bursa. Pernyataan dari sejumlah pejabat bank sentral AS (The Fed) memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa arah kebijakan moneter AS masih cenderung ketat (hawkish).

Langkah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin—yang menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir—disertai sinyal keterbukaan terhadap penyesuaian lanjutan. Kondisi ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).

”Para trader memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 66 persen pada Oktober dan 93 persen pada Desember,” tutur Hans.

Situasi tersebut menuntut investor memperhitungkan dampak lingkungan suku bunga tinggi terhadap valuasi saham, sembari mencermati peluang dari akselerasi investasi di sektor AI.

Sementara itu di Eropa, bursa saham regional berhasil memutus tren penurunan selama tiga pekan beruntun seiring meredanya harga minyak mentah. Kendati demikian, para pemodal tetap mencermati eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta tren kenaikan imbal hasil obligasi global.

Proyeksi IHSG dan Level Teknis

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih menghadapi tantangan ketat. Minimnya sentimen penggerak dari domestik membuat pergerakan indeks diperkirakan lebih banyak mengekor dinamika pasar global.

”Pelemahan pasar dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) serta masih tingginya harga minyak mentah. Peluang rebound IHSG masih terbuka dengan potensi penguatan terbatas dengan support di level 6.200 sampai level 6.029. Sedangkan, resistance di level 6.287 sampai level 6.521,” imbuhnya.

BEI Resmi Terapkan Harga Minimum Saham Rp 1

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan seluruh Anggota Bursa (AB) telah siap mengimplementasikan kebijakan pembaruan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 per lembar. Kebijakan ini resmi berlaku efektif pada perdagangan Senin (28/9/2026).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengonfirmasi bahwa seluruh infrastruktur Anggota Bursa telah disiapkan untuk mendukung penghapusan batas bawah harga saham yang sebelumnya dipatok sebesar Rp 50 per lembar.

”Seluruh anggota bursa sudah siap untuk mengimplementasikan penghapusan harga minimum Rp50 nanti di perdagangan tanggal 28 September, hari Senin. 28 September hari Senin ini akan efektif diberlakukan,” kata Jeffrey.

BEI berkomitmen untuk melakukan pemantauan dan evaluasi berkala atas dampak penerapannya terhadap aktivitas perdagangan di pasar sekunder.

“Evaluasi akan kami lakukan terus. Tetapi, kami berharap ini akan meningkatkan likuiditas dan menghadirkan price discovery yang lebih baik atas saham-saham yang selama ini memang sudah lama ada di harga Rp50 dan tidak ada likuiditas,” ujarnya.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
ihsg tennis saham