Pertumbuhan Laba Industri Tiongkok Melambat di Tengah Lonjakan Sektor AI

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 23:53 WIB
Ilustrasi AI dalam perencanaan pembangunan. Kecerdasan buatan dinilai dapat membantu pengolahan data dan penyusunan dokumen perencanaan daerah.
Ilustrasi AI dalam perencanaan pembangunan. Kecerdasan buatan dinilai dapat membantu pengolahan data dan penyusunan dokumen perencanaan daerah.

LombokPost— Pertumbuhan nilai laba sektor industri di Tiongkok mencatatkan perlambatan tajam pada Agustus 2026. Laju pertumbuhan indikator ekonomi tersebut tertahan di level tunggal (single digit), meskipun terdapat lonjakan kinerja pada subsektor teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Berdasarkan rilis resmi Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok, akumulasi laba perusahaan industri pada Agustus 2026 hanya tumbuh 4,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan pencapaian Juli 2026 yang sempat menyentuh level 11,2 persen YoY.

Secara kumulatif, perolehan laba industri sepanjang delapan bulan pertama tahun ini (Januari–Agustus) tumbuh 15,7 persen YoY. Laju ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan periode Januari–Juli tahun sebelumnya yang mencapai 17,6 persen YoY. Data ini merangkum kinerja keuangan perusahaan industri dengan pendapatan tahunan minimal 20 juta yuan.

Divergensi Kinerja Antar-Sektor

Di tengah tren penurunan secara umum, subsektor manufaktur komputer, komunikasi, dan peralatan elektronik berbasis AI mencatatkan pertumbuhan pesat. Laba pada kelompok industri teknologi ini melonjak hingga 110 persen sepanjang delapan bulan pertama.

Sebaliknya, sektor industri minuman, anggur, dan teh olahan mencatatkan penurunan kinerja paling dalam. Laba pada sektor tersebut tergerus hingga 34,7 persen akibat pelemahan daya beli masyarakat.

Pelemahan daya tawar produsen yang dipicu lesunya konsumsi domestik serta kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) memaksa pelaku industri bergantung pada pasar ekspor untuk menjaga margin keuntungan. Pergeseran orientasi pasar ini dinilai berisiko memperbesar ketergantungan Tiongkok pada pasar internasional di tengah eskalasi geopolitik dan sorotan atas surplus perdagangan.

”Ke depan, mendongkrak pendapatan serta konsumsi rumah tangga dan memperluas permintaan domestik akan menjadi kunci krusial. Ini cara utama agar Tiongkok bisa mempertahankan pertumbuhan laba perusahaan industri secara stabil,” ujar Ding Meng, kepala ekonom CITIC Bank International.

Isu AI dan Dinamika Hubungan Bilateral

Di sisi lain, perkembangan teknologi AI juga memicu perhatian otoritas ekonomi. Penasihat bank sentral Tiongkok memperingatkan bahwa penetrasi pesat teknologi AI berpotensi memperlebar jurang ketimpangan antara kapasitas pasokan manufaktur yang besar dan permintaan domestik yang masih tertahan.

Sementara itu, dalam agenda pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan pemerintah Amerika Serikat pekan lalu di Washington, kedua negara sepakat untuk memotong tarif barang bernilai total 30 miliar dolar AS yang berkaitan dengan pengembangan serta mitigasi risiko AI. Kendati demikian, dinamika dan potensi gesekan perdagangan antara kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut diperkirakan masih bertahan.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos
tiongkok artificial intelligence ai