LombokPost — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mendesak perusahaan pemilik Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 untuk segera melakukan pengangkatan bangkai kapal (salvage). Langkah teknis tersebut dinilai krusial guna mempercepat proses evakuasi 69 penumpang yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang di dasar laut.
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana memaparkan bahwa posisi bangkai kapal yang miring di dasar laut menjadi hambatan utama dalam penjangkauan area kabin secara menyeluruh.
"Sejumlah bagian kapal tidak dapat dimasuki karena kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan jiwa penyelam kami di bawah laut," ujar Putu dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Putu menjelaskan bahwa proses pengangkatan bangkai kapal hingga kembali dalam posisi tegak di permukaan akan menjamin keamanan tim SAR dalam menyisir seluruh kompartemen kapal.
"Begitu operasi salvage dilaksanakan, tim SAR gabungan lebih mudah untuk proses evakuasi korban di dalam bangkai kapal. Jadi, seperti kapal biasa, kita bisa mencari di semua ruangan kapal," katanya.
Basarnas menegaskan bahwa pelaksanaan pengangkatan bangkai kapal merupakan kewajiban mutlak pemilik kapal sebagaimana diatur dalam regulasi pelayaran nasional. Kendati demikian, pihak Basarnas mendorong percepatan proses tersebut demi kepentingan kemanusiaan.
"Bukan kami yang melaksanakan pengangkatan. Tapi kami mendorong dengan keras, bila perlu dipercepat, agar korban yang masih terjebak bisa segera dievakuasi," tegas Putu.
Perkembangan Operasi SAR dan Pemetaan Risiko Penyelaman
Secara terpisah, Kepala Basarnas Laksamana Madya TNI Mohammad Syafii mengonfirmasi bahwa operasi pencarian di lapangan terus berjalan intensif. Hingga hari ke-12 pelaksanaan operasi SAR, sebanyak 174 korban berhasil dievakuasi, meliputi 108 penumpang selamat dan 66 korban meninggal dunia.
"Hari ini, perjuangan tim SAR gabungan dalam operasi pencarian korban KM Virgo kembali membuahkan hasil dengan mengevakuasi belasan jasad dari dalam kapal yang tenggelam," kata Syafii.
Sebanyak 14 jenazah berhasil diangkat oleh tim penyelam gabungan dari Basarnas Special Group (BSG) dan TNI Angkatan Laut yang menembus tantangan arus bawah laut serta keterbatasan jarak pandang (visibilitas).
"Dalam kondisi arus bawah laut dan visibilitas yang sangat menantang, para penyelam gabungan terus menyisir bagian dalam kapal hingga berhasil menemukan jasad para korban," paparnya.
Syafii menduga sebagian besar dari 69 korban yang belum ditemukan masih terperangkap di area lambung bawah kapal. Pemantauan menggunakan perangkat remotely operated vehicle (ROV) mengindikasikan adanya pergeseran posisi pada badan kapal yang berisiko tinggi bagi penyelam.
"Akan sangat berisiko dan mengancam nyawa jika tim penyelam memaksakan diri masuk dari sisi lambung bawah kapal yang rentan bergeser," jelas Syafii.
Guna mengantisipasi risiko keselamatan tanpa menghentikan proses pencarian, tim penyelam memanfaatkan celah jendela kamar penumpang yang telah dipecahkan sebagai jalur akses evakuasi alternatif.
"Pada operasi lanjutan, tim penyelam gabungan akan memfokuskan pencarian dan evakuasi dari celah kaca-kaca kamar kapal yang sebelumnya telah berhasil kami pecahkan," katanya.
Seluruh jenazah yang berhasil dievakuasi selanjutnya diterbangkan melalui Lanud Sjamsudin Noor menuju Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin untuk menjalani proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Syafii memastikan bahwa operasi pencarian tidak akan dihentikan sebelum seluruh korban berhasil ditemukan.
"Perjuangan tim gabungan tidak akan berhenti. Kami akan terus berupaya sekuat tenaga untuk memberikan kepastian kepada keluarga yang masih setia menunggu kabar," tegasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Jawa Pos