LombokPost-Perum Bulog memperkuat cadangan beras nasional untuk mengantisipasi ancaman El Nino Godzilla, dan musim paceklik berkepanjangan.
Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, penyerapan beras yang dilakukan Bulog bukan semata-mata untuk memperbanyak stok.
Langkah tersebut merupakan bagian dari antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu produksi dan ketersediaan pangan.
“Bukan maunya Bulog menyerap banyak, tapi Bulog itu mengantisipasi. Mengantisipasi dengan adanya El Nino Godzilla ini dengan musim paceklik yang berkepanjangan. Kenapa? Karena kalau nanti musim paceklik dan El Nino Godzilla ini kita nggak punya beras, situasi akan bahaya,” jelasnya, saat kunjungan kerja ke Mataram, Sabtu (10/10).
Baca Juga: Pangkas Dominasi Swasta, Bulog Tambah Pasokan Beras Premium 300 Ribu Ton demi Stabilkan Harga
Menurut dia, ketersediaan beras yang melimpah saat ini menjadi salah satu bukti pentingnya menjaga cadangan pangan. Terlebih, pemerintah telah menambah penyaluran bantuan pangan pada Oktober, November, dan Desember untuk masyarakat yang masuk dalam kelompok desil 1 hingga desil 4.
Rizal mengingatkan, Indonesia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan impor apabila terjadi kekurangan beras akibat penurunan produksi. Negara-negara pemasok seperti India, Vietnam, dan Thailand juga berpotensi menghadapi persoalan serupa sehingga belum tentu dapat memenuhi kebutuhan beras Indonesia.
“Bayangkan kalau kita nggak punya beras, apa kita mau impor beras dari luar negeri? Dari India, dari Vietnam, dari Thailand. Sedangkan orang sana, orang India, Vietnam, dan Thailand juga lagi ngadepin yang sama. Nah, dia nggak jual beras, karena masyarakatnya juga butuh beras,” bebernya.
Cadangan tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan tetap tersedia ketika produksi beras menghadapi tekanan. Rizal kemudian memaparkan perhitungan ketersediaan beras nasional untuk menunjukkan kemampuan stok dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Cetak Rekor Sepanjang Sejarah, Pengadaan Beras Bulog Lampaui 4 Juta Ton di Era Prabowo
Saat ini, stok beras Bulog mencapai 4,5 juta ton, dengan realisasi penyerapan yang telah melampaui target tahun 2026 sebanyak 4 juta ton. Jumlah tersebut masih ditambah persediaan beras yang berada di luar gudang Bulog.
Berdasarkan pendataan Kementerian Pertanian (Kementan), beras yang tersedia di pasar tradisional, supermarket, rumah tangga, hotel, restoran, kafe, dan berbagai tempat lainnya mencapai sekitar 10 juta ton.
“Jadi 10 juta ton ditambah 4,5 juta ton, berarti ada stok 14,5 juta ton,” kata pria kelahiran 19 November 1970 tersebut.
Selain stok yang sudah tersedia, Indonesia masih memiliki potensi produksi dari musim tanam sebelumnya. Rizal memperkirakan, hasil panen dari tanaman yang telah ditanam tersebut semula berpotensi mencapai 10 juta hingga 11 juta ton dalam kondisi normal.
Namun, jika produksi terdampak El Nino, hasil panen diperkirakan mengalami penurunan paling banyak 10 hingga 15 persen. Dengan memperhitungkan potensi penurunan tersebut, produksi diperkirakan masih mencapai sekitar 9 juta ton.
Dengan demikian, akumulasi stok beras Bulog sebesar 4,5 juta ton, persediaan beras di masyarakat dan berbagai saluran distribusi sebesar 10 juta ton, serta potensi panen sekitar 9 juta ton menghasilkan total ketersediaan sekitar 23,5 juta ton.
Baca Juga: Unram Kembangkan Beras Merah Adaptif Lahan Kering di Lombok Utara
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai sekitar 2,2 juta ton per bulan. Jika dihitung mulai Oktober, kebutuhan untuk periode Oktober hingga Juli mencapai sekitar 22 juta ton.
“Kalau 2,2 juta ton per bulan, kalau sekarang di bulan Oktober, ini Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli. Itu baru 22 juta ton. Sedangkan kita tadi punya 23,5 juta ton. Berarti sampai nanti di bulan Juli, itu nanti baru mau habis beras kita,” terangnya.
Rizal menilai, perhitungan tersebut menunjukkan cadangan beras nasional berpotensi mencukupi kebutuhan hingga Juli 2027. Sebelum memasuki periode tersebut, Indonesia diperkirakan kembali menghadapi panen raya pada Maret atau April 2027.
Dengan adanya potensi panen tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat melewati masa kritis akibat El Nino dan kemarau berkepanjangan tanpa mengalami kekurangan pasokan beras.
Langkah antisipasi ini dilakukan Bulog bersama Kementan, dengan memperhitungkan stok yang tersedia dan potensi produksi berikutnya.
Editor : Jelo JSumber : Liputan