LombokPost-Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, dengan strategi memutus jalur pergerakan api. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah menyiapkan tambahan empat hingga lima ekskavator dan sekitar 30 sumur bor untuk mencegah kebakaran meluas.
Strategi itu tidak lagi hanya mengandalkan pemadaman pada titik-titik kebakaran. Petugas juga akan melakukan penyekatan pada bagian depan atau kepala api menggunakan alat berat untuk menghambat penjalaran kebakaran.
Raja Juli mengatakan perubahan pendekatan diperlukan agar petugas dapat menghadang pergerakan api sebelum menjangkau kawasan yang lebih luas.
“Bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus ya, kepala apinya. Kalau api yang kita putus ya dengan kecepatan mempergunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi,” ujarnya.
Baca Juga: Hotspot Karhutla di Enam Provinsi Melonjak Dua Kali Lipat Menjadi 1.085 Titik
Langkah itu disampaikan Raja Juli setelah meninjau penanganan karhutla di kawasan KM 23 Taman Nasional Sebangau, Selasa (13/10). Peninjauan dilakukan bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran serta jajaran TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Di lokasi, Raja Juli memantau langsung proses pemadaman yang dilakukan personel Manggala Agni Kementerian Kehutanan.
Untuk mendukung penyekatan jalur api, pemerintah berencana menambah sekitar empat hingga lima unit ekskavator. Alat berat itu akan digunakan untuk memperkuat penanganan pada sejumlah area yang menjadi jalur pergerakan kebakaran.
Selain ekskavator, pemerintah juga menyiapkan penambahan sumber air melalui pembangunan sekitar 30 sumur bor. Fasilitas itu direncanakan berada di sekitar area kepala api, dengan jarak penempatan sekitar 50 meter pada titik-titik strategis.
Penambahan sumur bor diharapkan dapat membantu petugas memperoleh pasokan air untuk mempercepat pemadaman dan mengendalikan pergerakan api.
Menurut Raja Juli, strategi menghadang kepala api memiliki risiko yang tidak sederhana. Namun, langkah tersebut diperlukan untuk mencegah dampak kebakaran yang lebih besar.
“Jadi bukan lagi mengejar api, tapi sudah menghadap api dengan risiko yang gak sederhana,” ucapnya.
Di samping penguatan operasi darat, pemerintah tetap melanjutkan pemadaman melalui jalur udara. Penanganan dilakukan menggunakan helikopter pengeboman air (water bombing) serta operasi modifikasi cuaca (OMC).
Namun, pelaksanaan water bombing masih menghadapi kendala keterbatasan jarak pandang. Kondisi itu menghambat penerbangan helikopter untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Sementara itu, operasi modifikasi cuaca dilakukan ketika terdapat bibit awan yang memungkinkan penyemaian. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan curah hujan sehingga membantu membasahi kawasan terdampak karhutla.
Pemerintah juga terus menyesuaikan pengerahan personel dan peralatan darat dengan perkembangan kondisi kebakaran.
Raja Juli mengatakan pemerintah pusat dan daerah memahami kondisi masyarakat yang telah menghadapi dampak asap selama beberapa bulan terakhir. Ia memastikan penanganan karhutla terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur.
Menurutnya, petugas gabungan tetap bekerja di lapangan meskipun menghadapi kondisi yang berat selama proses pemadaman.
“Bukan sama sekali kita lepas tangan, cuci tangan, sama sekali tidak. Tentu bisa dilihat di lapangan, Pak Gubernur, Pak Wali Kota, TNI Polri, Manggala Agni, Kemenhut. Teman-teman lihat itu bagaimana mata mereka? Sudah merah, sudah lelah tapi karena ini tugas mereka tetap ada di lapangan untuk bekerja secara real secara konkret,” kata Raja Juli.
Penguatan penanganan di Taman Nasional Sebangau kini diarahkan pada kombinasi penyekatan kepala api menggunakan alat berat, penyediaan sumber air tambahan, serta pemadaman melalui operasi darat dan udara.
Editor : Akbar SirinawaSumber : jawapos.com