Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Film Apik Joko Anwar, Menulis di Kuburan hingga Cari Ide di Stasiun dan Bandara

Rury Anjas Andita • Senin, 11 Maret 2024 | 06:20 WIB
Photo
Photo

JOKO Anwar sering menciptakan karya film yang menarik. Tak hanya itu, di kalangan para penggemarnya, film-film Joko disebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Entah lewat nama karakter, adegan, dialog, atau kesamaan latar. Hingga muncullah istilah Jokan (Joko Anwar) Universe alias Jagat Joko Anwar.

Terlepas dari ada atau tidaknya keterkaitan satu sama lain, yang jelas film-film karya Joko selalu memantik antusiasme publik. Baik film yang disutradarai maupun yang naskahnya dibuat olehnya. Dalam sesi temu media di rumah produksi besutan Joko, Come and See Pictures, sang sutradara memaparkan hal-hal tentang dirinya ketika hendak membuat sebuah film. (shf/c12/len/jpg/r5)

Bagaimana tanggapan Joko tentang teori fans soal Jokan Universe?

Hahahaha, kalau itu nggak bisa diceritakan. Jangan aku yang cerita deh. Lebih enak didiskusikan aja.

Sampai sekarang Joko masih sering menulis skenario di kuburan?

Sebenarnya nggak terus-terusan di kuburan, tapi kalau lagi butuh ketenangan dan reflektif, ya ke kuburan. Kuburan itu tempat paling tenang, apalagi kalau yang ada pohonnya. Makanya, nulis skenario paling enak di kuburan, asal nggak panas. Nggak ada orang ngomong kencang-kencang, jarang ketemu orang yang dikenal, dan lebih wangi.

Di waktu kapan biasanya Joko menemukan ketenangan itu?

Jangankan nulis, jalan pagi aja aku ke TPU Tanah Kusir. Aku sering duduk di antara kuburan dan rel kereta api. Nggak ada orang, kanan kuburan, kiri kereta. Kadang malam pun nggak apa-apa kalau ada penerangan. Dan aku nggak mau ditemani kalau nulis di kuburan. Kuburan tuh isinya orang mati, aman.

Selain di TPU Tanah Kusir, sering mencari ketenangan di mana lagi?

Sebelumnya tuh di kuburan lama dekat Harmoni. Itu enak, tapi jadi kayak taman dan banyak pengunjungnya.

Kalau lagi bingung mencari ide, apa hal yang biasa Joko lakukan?

Aku sebenarnya orang yang introver, lebih suka mengerjakan sesuatunya sendiri. Cuma aku sering bepergian ke tempat-tempat ramai seperti stasiun atau bandara kalau lagi mentok nggak ada ide.

Apa yang Joko lakukan di sana?

Melihat perilaku orang yang jujur. Itu muncul ketika mereka bepergian dari suatu tempat ke tempat lain. Misal ketika sedang terburu-buru, seorang ibu bilang ke anaknya ’cepetan nanti telat’. Atau melihat suami istri, tapi jalannya misah. Ide akan muncul ketika aku diam ngeliatin mereka.

Hampir di setiap film horor atau thriller yang dibuat, Joko selalu melibatkan anak-anak. Gimana treatment yang diberikan?

Aku bikin skenario dua versi, yakni minor dan anak kecil. Aku mengubah sedemikian rupa sehingga aman untuk dibaca anak-anak. Ada pendampingan juga seperti reading ditemani orang tua. Aku minta ibunya hadir untuk melihat apa yang aku ajarkan ke anak-anak mereka. Kami berdiskusi soal adegan-adegannya sehingga mereka juga bisa ikut membantu menjelaskan ke anaknya.

Apa yang menjadi tantangan Joko saat syuting bareng anak-anak?

Memperlakukan film horor dan adegan-adegan horornya seperti permainan. Jadi, nggak boleh bikin mereka takut. Mereka harus lihat hantunya di-make up. Nanti mereka (pemeran hantu, Red) mengenalkan ’ini aku loh’. Jadi, aku pertemukan pemain-pemain hantu dan anak-anak. Nanti mereka ketawa-tawa dulu. Jadi, nggak ada yang tiba-tiba mengagetkan.

Lalu, bagaimana Joko menghadirkan ketakutan yang natural kepada pemain anak-anak?

Mereka jago akting. Sebelumnya juga di-casting, apakah dia bisa natural acting di depan kamera atau punya kemampuan drama king/queen. Jadi, kalau anak-anak kecil itu, misalnya harus menjerit ketakutan, harus diberikan impulse.

Joko juga kerap menjadikan pelakon perempuan sebagai bintang utama seperti Faradina Mufti di film Siksa Kubur. Apa makna personal bagi Joko?

Karena dari kecil aku dikelilingi sama perempuan-perempuan yang lebih kuat dari laki-laki. Ada ibuku, kakakku, produserku (film Siksa Kubur, Red) juga perempuan. Bahkan, di filmku yang lain heronya juga perempuan. Jadi, itu normal buatku. (*)

Editor : Rury Anjas Andita
#Film #horor #joko anwar