Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

5 Film Indonesia dengan Alur Bagus Tapi Penontonnya Sedikit, Ada yang tidak Sampai 10 Ribu Orang

Geumerie Ayu • Senin, 9 Juni 2025 | 22:31 WIB

Film indonesia dengan alur bagus tapi penontonnya sedikit, ada yang tidak sampai 10 ribu orang.
Film indonesia dengan alur bagus tapi penontonnya sedikit, ada yang tidak sampai 10 ribu orang.
LombokPost – Dunia perfilman Indonesia terus berkembang pesat hingga saat ini dengan berbagai karya menarik dan menakjubkan.

Banyak dari karya film Indonesia yang sukses menjadi favorit penonton, bahkan meraih penghargaan dan pujian atas alur ceritanya.

Namun ternyata tidak semua film Indonesia sukses meski memiliki cerita yang bagus dan menarik.

Bahkan ada juga film Indonesia yang memiliki penonton sedikit meski diperankan oleh aktor dan aktris ternama di tanah air.

Film-film Indonesia tersebut memiliki alur cerita yang bagus dan memperoleh penghargaan, namun hanya mampu mengumpulkan penonton di bawah 600 orang, bahkan ada yang tidak sampai 10 ribu orang.

Film Indonesia yang bagus tetapi penontonnya sedikit ini sering disebut sebagai film "underrated", dan berikut 5 daftar film Indonesia yang bagus tapi penontonnya minim beserta alasannya.

1. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Photo
Photo

Film drama aksi adaptasi novel Eka Kurniawan ini memadukan kekerasan dan cinta dengan latar tahun 80-an, dan sukses memenangkan penghargaan Golden Leopard di Locarno Film Festival 2021 lalu.

Film yang disutradarai oleh Edwin ini memang merupakan film yang sangat diakui secara kritis, namun sayangnya, film ini hanya meraih sekitar 82.389 penonton sejak tayang perdana pada 2 Desember 2021.

Penyebab film berkualitas ini kurang diminati penonton lokal di antaranya, tema dan narasi yang kompleks dan gelap karena mengangkat isu sensitif seperti impotensi, maskulinitas toksik, kekerasan seksual, dan trauma masa lalu.

Isu-isu ini tidak selalu menjadi "kenyamanan" bagi sebagian besar penonton yang mencari hiburan ringan.

Selain itu, film ini menampilkan adegan kekerasan dan adegan dewasa yang cukup eksplisit, meskipun disajikan secara jujur dan tidak dramatisir, namun bisa menjadi penghalang bagi penonton yang tidak nyaman dengan konten semacam itu.

2. Budi Pekerti (2023)

Photo
Photo

Film ini mengangkat tema cyber bullying yang relevan, dan dibintangi aktor papan atas.

Bahkan film ini diputar di berbagai festival film internasional (TIFF, Santa Barbara International Film Festival), namun hanya bisa meraih penonton sebanyak 579.478 orang.

Hal ini disebabkan oleh pemilihan genre yang dirasa tidak popular di Bioskop Indonesia yang masih didominasi oleh genre horor, komedi, dan drama romantis yang lebih ringan.

Film yang bergenre drama sosial dengan kritik mendalam seperti "Budi Pekerti" seringkali dianggap sebagai film arthouse atau festival film yang target pasarnya lebih spesifik.

Meski dibintangi aktor dan aktris papan atas seperti Sha Ine Febriyanti, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, dan Dwi Sasono, popularitas aktor tidak selalu menjamin kesuksesan komersial jika genre dan tema filmnya tidak sesuai dengan selera pasar luas.

3. Pemukiman Setan (2024)

Photo
Photo

Film horor action fantasi yang dipuji ceritanya dan produksinya, namun jumlah penontonnya hanya sebanyak 491.877 orang.

Hal ini disebabkan oleh kombinasi genre horor-laga yang masih relatif baru di Indonesia.

Baca Juga: 11 Drama Korea Baru di Bulan Juni, Ada Squid Game Season 3

Kombinasi genre ini terkadang bisa menjadi pedang bermata dua di mana penonton horor sejati mungkin mencari ketegangan dan ketakutan murni, sementara penonton laga mencari aksi yang intens dan memukau.

"Pemukiman Setan" mungkin berada di tengah-tengah, sehingga tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi kedua kelompok penonton tersebut.

4. Kucumbu Tubuh Indahku (2018)

Photo
Photo

Mengangkat isu minoritas yang kontroversial, film "Kucumbu Tubuh Indahku" (Memories of My Body) karya sutradara Garin Nugroho adalah salah satu film Indonesia yang paling banyak mendapat pengakuan internasional dan memenangkan berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2019.

Namun, di bioskop Indonesia, film ini hanya berhasil menjaring sekitar 8.082 penonton dalam jangka waktu seminggu penayangannya.

Angka ini sangat minim dan menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari film berkualitas tinggi yang gagal di pasaran lokal.

Hal ini dikarenakan film "Kucumbu Tubuh Indahku" menghadapi kontroversi isu LGBT dan penolakan massal.

Film ini mengangkat kisah penari Lengger, Juno, yang mengeksplorasi identitas gender dan seksualitasnya.

Meskipun film ini lebih banyak bicara tentang trauma, tubuh, dan pencarian identitas, beberapa kelompok masyarakat menafsirkannya sebagai "kampanye LGBT" atau "penyimpangan seksual."

Selain itu, sebelum dan saat penayangan, muncul petisi online dan gerakan penolakan di media sosial yang menyerukan boikot film ini.

5. Heartbreak Motel (2024)

Photo
Photo

Dibintangi Reza Rahadian, Laura Basuki, dan Chicco Jerikho, nyatanya tidak bisa memancing banyak penonton film Heartbreak Motel, hanya mampu mengumpulkan 73 ribu penonton.

Alasan film ini minim penonton lantaran "Heartbreak Motel" bergenre misteri-thriller dengan sentuhan drama.

Meskipun genre ini memiliki penggemar setia, ia tidak sepopuler horor atau komedi di pasar Indonesia saat ini.

Premis tentang aktris yang diculik dan dipaksa untuk menulis skenario pembunuhan mungkin terdengar menarik, tetapi bisa jadi terlalu kompleks atau "berat" bagi sebagian penonton yang mencari tontonan yang lebih ringan dan mudah dicerna.

Film ini juga dilaporkan memiliki alur yang lambat di beberapa bagian, yang mungkin kurang menarik bagi penonton yang terbiasa dengan ritme film yang cepat.

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pemukiman Setan #Heartbreak Motel #kucumbu tubuh indahku #film indonesia #penonton sedikit #Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas #budi pekerti