Anak Anda Kecanduan Tung Tung Tung Sahur dan Skibidi Toilet? Waspada Fenomena Brainrot yang Mengintai Otak Anak!
Lalu Mohammad Zaenudin• Kamis, 26 Juni 2025 | 17:47 WIB
Skibidi Toilet vs Tung Tung Tung Sahur
Brainrot: Ketika Internet 'Membusukkan' Otak Anak Kita
LombokPost - “Tung Tung Tung Sahur... Ta Ta Ta Sahur...”
Mungkin kamu pernah dengar anakmu menyanyikan lagu itu.
Terus diulang-ulang, nggak jelas nadanya, apalagi maknanya.
Kamu tanya maksudnya apa, dia nggak tahu. Tapi tetap dinyanyikan.
Sampai ke kamar mandi, sampai ke meja makan. Kadang kamu geleng-geleng kepala, kadang malah ikut nyanyi juga.
Atau, pernah juga lihat anakmu nonton video absurd berjudul Skibidi Toilet, isinya kepala manusia nongol dari toilet, berjoget-joget, lalu berantem sama robot berkepala kamera.
Kamu nonton sekilas, ngerasa ini konyol. Tapi anakmu ketawa ngakak. Bahkan mulai niruin gaya jalan karakternya.
Nah, fenomena ini sekarang punya satu nama: brainrot.
Apa Itu Brainrot?
Secara harfiah, brainrot artinya "pembusukan otak".
Tapi di dunia internet, ini cuma istilah gaul buat menggambarkan kondisi terlalu terpapar konten aneh, absurd, berulang, dan akhirnya bikin isi kepala kayak ‘rusak’, tapi lucu.
Biasanya:
Kontennya cepat, absurd, dan tidak logis. Mengandalkan editan kasar, suara aneh, atau beat musik mengganggu,
Dan... sangat adiktif.
Brainrot bukan penyakit medis, tapi "virus budaya" yang menyebar lewat TikTok, YouTube Shorts, Instagram Reels, dan bahkan meme WhatsApp keluarga.
Dampaknya ke Anak-Anak?
Nah ini serius.
1. Menurunnya Fokus & Konsentrasi. Anak-anak yang terlalu sering mengonsumsi konten brainrot biasanya susah fokus dalam waktu lama. Otaknya terbiasa dengan konten super cepat dan stimulasi instan, jadi pas belajar yang pelan dan runtut... langsung bosan.
2. Terputusnya Nalar Sehat. Konten seperti Skibidi Toilet atau Meme absurd AI sering tidak punya alur logis, dan kalau dikonsumsi berlebihan, anak bisa mulai kehilangan kemampuan memahami struktur cerita atau sebab-akibat secara runtut.
3. Perubahan Pola Bicara. Pernah dengar anakmu ngomong pakai suara aneh atau kata-kata nggak masuk akal? Misalnya, “sigma,” “rizz,” “let him cook,” atau “gyatt gyatt”? Bisa jadi itu hasil internalisasi dari konten brainrot.
4. Desensitisasi. Karena banyak konten brainrot bersifat hiperaktif dan over-edited, anak bisa jadi tidak peka lagi terhadap konten biasa, misalnya dongeng klasik, percakapan tenang, atau video edukasi sederhana jadi terasa "membosankan".
Tapi… Ada Sisi Positifnya Juga
Yup, biar adil, kita juga harus mengakui bahwa brainrot tidak selalu buruk.
Justru bagi sebagian anak, ini bisa jadi pintu ke kreativitas baru, asalkan dikawal dengan bijak.
1. Memicu Imajinasi Liar. Video seperti Skibidi Toilet, walau absurd, sering merangsang anak-anak untuk berimajinasi bebas, membuat cerita baru, bahkan menciptakan karakter sendiri.
2. Melatih Adaptasi Budaya Pop. Anak-anak jadi peka terhadap tren dan mampu berkomunikasi dalam bahasa budaya populer, yang penting dalam pergaulan sosial saat ini.
3. Pintu Masuk Kreativitas Digital. Banyak anak yang akhirnya tertarik belajar edit video, animasi, atau membuat meme karena ingin ikut bikin konten brainrot versi mereka sendiri.
4. Sarana Pelepas Stres. Buat sebagian anak, menonton konten lucu dan tidak serius bisa jadi cara untuk melepas ketegangan emosional, terutama setelah belajar atau menghadapi tekanan.
Jadi Bahaya atau Justru Peluang?
Jawabannya bukan hitam putih. Brainrot adalah fenomena budaya digital, seperti komik di era dulu, atau kartun absurd di awal 2000-an.
Yang jadi masalah bukan kontennya, tapi kadar dan cara anak mengonsumsinya.
Kalau didampingi, dijelaskan, dan diimbangi, maka brainrot bisa jadi ruang eksplorasi.
Kalau dibiarkan tanpa batas, bisa jadi racun mental jangka panjang.
Tips untuk Orang Tua
- Nonton bareng: Bukan untuk mengontrol, tapi untuk mengerti dunia anak.
- Diskusikan isi kontennya: “Kamu suka ini karena apa?” bisa membuka banyak hal.
- Tawarkan alternatif seimbang: Konten edukatif tetap penting, tapi disajikan dengan cara yang menarik.
- Arahkan ke karya: Ajak anak membuat konten sendiri—bisa gambar, video, atau cerita absurd mereka sendiri.
Brainrot menunjukkan apa yang membuat anak-anak tertarik: cepat, visual, absurd, dan lucu. Tapi di balik semua itu, kita sebagai orang tua bisa mengarahkan: mau jadi konsumtif, atau kreatif?
Anak-anak tidak butuh larangan, mereka butuh bimbingan yang ngerti zaman.