Panji Pragiwaksono Diajak Dzawin Naik Gunung Kawi, Malah Stand-Up di Tengah Hutan Malam!
Lalu Mohammad Zaenudin• Kamis, 10 Juli 2025 | 02:14 WIB
Aksi Dzawin Nur Iqram menyapa para penghuni Gunung Kawi di Channel YouTube-nya.
LombokPost - Gunung Kawi, malam hari.
Biasanya, yang dibawa ke tempat kayak begini tuh kembang tujuh rupa atau sesajen. Tapi kali ini lain. Yang dibawa justru komika, kamera, dan niat baik untuk bikin ketawa makhluk tak kasatmata.
Yap. Dzawinur Ikram ngajak Panji Pragiwaksono dan kameramennya, Fitrah Maulana, naik ke Gunung Kawi. Bukan untuk bertapa. Tapi... buat stand-up comedy.
Lampu sorot menyala sendu. Daun-daun bergoyang pelan. Langit pekat, tak ada bintang. Dan di tengah semua itu, berdiri Dzawin pakai mic.
“Yay! Ketemu lagi, ketemu lagiii!” bukanya semangat, seolah dia baru buka acara ulang tahun anak SD, padahal yang nonton cuma dedaunan dan kemungkinan kuntilanak.
“Bukan pertama kali saya menghibur penghuni di sini,” kata Dzawin dengan nada sok yakin.
Alih-alih sesajen, Dzawin dan timnya memang bawa sesuatu yang beda. “Kami akan memberikan persembahan dalam bentuk hiburan!” serunya dramatis.
Ia sempat memperkenalkan diri, lempar joke soal alkohol (yang katanya dilarang di gunung). Canggung tapi tulus, dan itu yang bikin tawa (kalau bukan manusia, ya mungkin burung hantu).
“Kenalin, nama saya Fitrah. Di gunung ini katanya gak boleh bawa alkohol. Padahal alkohol kan bisa bantu kita cepat naik ya? …”
Tawa kecil terdengar. Dari Dzawin dan Panji, atau entah dari balik pohon.
Lalu tibalah saat yang ditunggu: Panji Pragiwaksono naik panggung.
Tapi bukan buat stand-up biasa. Dia malah... jualan tiket.
“Saya dianjurkan untuk memberi hadiah kepada makhluk-makhluk di sekitar sini,” bukanya dengan nada sopan, mirip seminar spiritual dadakan.
“Karena hiburan kalian mungkin sudah terlalu lawas. Saya hadir membawa stand-up comedy berkualitas!”
Panji mengumumkan bahwa Mensrea Stand-Up Comedy Special bakal digelar 30 Agustus 2025 di Indonesia Arena. Dan, dengan niat baik dan sedikit merinding, dia bagiin 5 tiket buat ‘penghuni’ Gunung Kawi.
“Untuk siapa? Untuk warga... Gunung Kawi!” serunya.
Dzawin menyahut, “Apapun kalian, yang penting pengen ketawa!”
Sesi ditutup dengan obrolan absurd tentang live streaming, makhluk kasar vs halus, dan harapan bahwa semua bisa tertawa tanpa pandang dimensi.
"Yang mau datang, datang aja. Yang mager, live stream. Yang penting... semua berhak untuk tertawa."
Makhluk kasar, halus, bahkan yang semi-transparan.
Malam itu, Gunung Kawi gak cuma jadi tempat mistis. Tapi juga panggung kecil, tempat di mana orang-orang biasa mencoba melakukan hal paling sederhana: membagikan tawa.
Dan kalau tawa bisa sampai ke tengah hutan yang katanya angker—kenapa nggak bisa juga sampai ke kita yang lagi stres di kota?