LombokPost - Hollywood Panik dengan Tilly Norwood. Dua tahun setelah mogok massal aktor dan penulis soal perlindungan dari AI, kini dunia film diguncang lagi.
Bukan skandal, bukan gosip percintaan. Kali ini, yang bikin panas adalah kemunculan Tilly Norwood, aktris AI yang disebut-sebut bakal menyaingi nama besar seperti Scarlett Johansson dan Natalie Portman.
Tilly Norwood bukan manusia. Ia adalah aktris AI pertama di Hollywood yang digarap studio Particle6 melalui entitas digital bernama Xicoia.
Pendiri sekaligus produsernya, Eline Van der Velden, terang-terangan menyebut ingin menjadikan Tilly Norwood sebagai “Scarlett Johansson berikutnya”.
Ucapan itu jadi bahan bakar kontroversi. Tilly Norwood debut lewat sketsa komedi berjudul AI Commissioner dan muncul resmi di ajang Zurich Film Festival 2025. Penonton dibuat tercengang, sebagian kagum, sebagian lagi marah.
Gelombang Kritik: “Akhir Industri Film?”
Reaksi keras datang dari sineas papan atas. Sutradara Luca Guadagnino mencuit pedas, “Ini tanda akhir industri film. Katakan selamat tinggal pada aktor manusia. Jangan dukung ini.”
Mantan aktris cilik Mara Wilson menuduh Tilly mencuri wajah ratusan perempuan muda yang dijadikan bahan latihannya.
“Kalian bisa rekrut salah satu dari mereka, tapi malah bikin AI yang nyomot identitas orang lain,” tulisnya.
Aktris Melissa Barrera dari Scream bahkan menulis, “Semoga semua aktor yang agensinya ikut dukung ini langsung cabut. Jijik banget.”
Tilly Norwood di Mata Penciptanya
Van der Velden mencoba meredam amarah publik. Katanya, Tilly Norwood hanyalah “kuas baru” seperti animasi atau CGI, bukan pengganti manusia.
“Penonton peduli pada cerita, bukan apakah bintangnya punya detak jantung,” tulis Van der Velden di LinkedIn.
Namun, publik menilai pernyataan ini kontradiktif dengan ucapannya di bulan Juli: “Kami ingin Tilly jadi Scarlett Johansson atau Natalie Portman berikutnya.”
Tilly Norwood dikembangkan oleh Xicoia menggunakan teknologi avatar dan mesin kepribadian bernama DeepFame.
Mesin ini membuat karakter tampil punya cerita latar, suara khas, hingga kepribadian yang terus berevolusi.
Karakter ini bisa bercakap-cakap, merespons tren, bahkan beradaptasi secara real time. Meski demikian, tetap ada “pengawasan kreatif manusia” agar relevan secara budaya dan brand-safe.
Fenomena Tilly Norwood memunculkan ketakutan lama: hilangnya pekerjaan aktor manusia dan munculnya masalah etika.
Mulai dari isu penggunaan wajah tanpa izin hingga efek “uncanny valley” — saat wajah terlihat manusiawi tapi terasa aneh karena ekspresi tak natural.
Kasus ini juga mengingatkan publik pada kontroversi lama Scarlett Johansson dengan AI, dari perannya di film Her (2013) hingga konflik dengan OpenAI soal suara chatbot yang mirip dengannya.
Meski menuai protes, beberapa orang melihat sisi positif. Natasha Lyonne menyebut ini momen “blue-sky”, mirip fase awal lahirnya Pixar: penuh ide liar dan eksplorasi kreatif.
Namun untuk saat ini, Tilly Norwood tetap jadi simbol ketakutan sekaligus rasa penasaran Hollywood.
Di satu sisi murah dan efisien, di sisi lain mengancam eksistensi aktor dengan daging dan darah. (***)
Editor : Alfian Yusni