LombokPost-Langit Nusa Dua menyambut dengan kehangatan khas Bali saat saya melangkahkan kaki menuju sebuah oasis budaya Museum Pasifika.
Terletak di jantung kawasan wisata elite, museum ini bagaikan sebuah pintu gerbang menuju kekayaan artistik dari dua pertiga dunia Asia dan Pasifik.
"Ini museum terbesar se-Asia Tenggara, terbesar bukan karena luasnya namun koleksinya karena koleksinya dari Asia Pasifik," ucap Sales Manager Museum Pasifika Dwi Ayu pada Lombok Post, Minggu (26/10).
Arsitektur bangunan yang megah namun bernuansa tropis sudah menarik perhatian. Begitu memasuki area utama, ketenangan langsung menyelimuti, kontras dengan hiruk pikuk Bali di luar.
Ini bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan sebuah kuil yang didedikasikan untuk perjumpaan budaya melalui medium seni.
Perjalanan dimulai dari Paviliun Indonesia.
Di sini, pengunjung disambut oleh mahakarya para maestro seni rupa bangsa, seperti Raden Saleh, bapak seni rupa modern Indonesia, dan karya-karya ikonik dari Affandi, Hendra Gunawan, hingga seniman legendaris Bali.
Melihat lukisan-lukisan mereka secara langsung, terasa sekali kedalaman emosi dan narasi sejarah yang mereka rekam dalam kanvas.
Melangkah lebih jauh, museum ini terbagi menjadi berbagai ruangan tematik yang menakjubkan. Ada paviliun yang didedikasikan untuk seniman-seniman Eropa yang pernah tinggal dan berkarya di Indonesia, seperti Adrien-Jean Le Mayeur dan Walter Spies.
Sungguh menarik melihat bagaimana Pulau Dewata menjadi inspirasi tak terbatas bagi para seniman dari Barat.
Kemudian, perjalanan spiritual dilanjutkan ke area Asia Tenggara, yang menampilkan kekayaan seni dari Vietnam, Thailand, hingga Filipina.
Setiap goresan kuas, setiap pahatan, menceritakan kisah masyarakat, kepercayaan, dan keindahan alam di wilayah tersebut.
Puncak perjalanan lintas budaya ini adalah Paviliun Pasifik. Di ruangan ini, koleksi artefak dan patung dari Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia dipajang.
Patung-patung kayu dengan ukiran rumit dan topeng-topeng seremonial yang kuat membawa imajinasi melintasi lautan luas, merasakan aura mistis dari kebudayaan suku-suku kepulauan Pasifik.
Museum Pasifika memiliki koleksi lebih dari 600 karya seni dari 200 seniman di 25 negara, menjadikannya salah satu museum seni paling beragam di Asia.
"Masterpiece kami disini banyak, ada Raden Saleh, Hendra Gunawan, dan sebagainya. Karya paling tertua sekitar tahun 1800an," katanya.
Setiap galeri ditata dengan profesional, memberikan ruang dan pencahayaan yang sempurna bagi setiap karya untuk "berbicara."
Kunjungan ini terasa seperti menelusuri sejarah peradaban dan interaksi budaya selama berabad-abad.
Pengunjung tidak hanya melihat lukisan, tetapi juga merasakan dialog yang tercipta antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas.
Saat meninggalkan Museum Pasifika, pengunjung membawa pulang lebih dari sekadar foto, tetapi juga apresiasi yang lebih dalam terhadap universalitas bahasa seni.
Museum Pasifika di Nusa Dua benar-benar adalah harta karun budaya dunia yang tersembunyi di tengah keindahan Bali.
Ini adalah destinasi wajib bagi siapa pun yang mencari inspirasi, pengetahuan, dan keindahan dalam perjalanan mereka.
Editor : Siti Aeny Maryam