Anak-anak muda berbakat dari Jepang kini menjadi sumber pasokan trainee dan anggota grup K-pop paling stabil dan diandalkan.
Pergeseran ini bukan hanya sekadar kebetulan, melainkan hasil dari globalisasi K-pop dan sistem training yang semakin efisien.
Titik balik utama tren ini ditandai dengan kesuksesan sensasional TWICE yang memiliki tiga anggota Jepang, yakni Momo, Mina, dan Sana.
Setelah keberhasilan mereka, banyak label Korea mulai secara aktif menempatkan trainee Jepang di grup-grup baru, dan calon idola Jepang pun berbondong-bondong datang ke Seoul.
Contoh paling mutakhir adalah boy group baru JYP Entertainment, NEXZ, enam dari tujuh anggotanya adalah warga negara Jepang. Anggota Korea satu-satunya, So Geon, bahkan tumbuh besar di Jepang.
Kehadiran talenta Jepang ini kini menonjol dibandingkan negara lain. Anggota K-pop dari Barat seringkali adalah diaspora Korea, sementara peningkatan anggota Asia Tenggara umumnya selaras dengan strategi ekspansi pasar regional.
Sementara itu, Jepang adalah satu-satunya negara (non-Korea) yang anggota kebangsaannya bahkan bisa membentuk satu grup K-pop yang berpromosi di Korea, seperti grup cosmosy.
Seorang operator veteran di bisnis K-pop Jepang (disebut sebagai ‘A’) menjelaskan beberapa alasan mengapa Jepang menjadi jalur pasokan bakat yang mulus:
- Kedekatan Geografis dan Budaya: "Mengesampingkan isu historis, Korea dan Jepang adalah tetangga terdekat secara geografis, budaya, dan psikologis, sehingga rasa 'asing' lebih rendah di kedua belah pihak," kata sumber 'A'. Rasa homesick atau kesulitan adaptasi cenderung lebih minim.
- Kolam Bakat Lebih Besar: Populasi Jepang sekitar tiga kali lipat populasi Korea, yang secara matematis berarti kumpulan bakat yang lebih besar dan lebih banyak pelamar yang mendaftar audisi.
- Daya Tarik Estetika dan Sistem K-Pop: Di kalangan anak muda Jepang, ada perasaan kuat bahwa "Korea itu keren dan keren".
Jika pasar idola Jepang didominasi oleh sistem 48 group (seperti AKB48) dan model Johnny’s yang cenderung stereotip, K-pop menawarkan keragaman genre, penampilan, dan visual yang lebih luas.
Hal ini mendorong lebih banyak anak muda Jepang bercita-cita dan melamar ke Korea.
Selain alasan budaya, ada insentif finansial yang kuat. Perusahaan Korea umumnya menetapkan pendapatan melalui bagi hasil (revenue sharing).
Sebaliknya, banyak perusahaan Jepang masih menggunakan kontrak gaji bulanan, yang pendapatannya bisa terbatas bahkan setelah artis tersebut sukses besar.
"Untuk aktivitas global, K-pop memiliki keunggulan, jadi bekerja di bawah perusahaan Korea bisa lebih menguntungkan," jelas 'A'.
Meskipun pasar musik Jepang besar, ia masih bersifat domestik. Bintang K-pop memiliki potensi kesuksesan dan jangkauan worldwide yang jauh lebih besar.
Maraknya perpindahan bakat ini memaksa industri hiburan Jepang beradaptasi. Grup seperti JO1 (yang dibentuk melalui program lokal PRODUCE 101) dan girl group HANA kini beroperasi dengan musik dan sistem yang sangat dipengaruhi K-pop.
Menurut 'A', perubahan model bisnis ini dilakukan pemangku kepentingan Jepang salah satunya untuk mencegah talenta terbaik mereka lari ke Seoul.
Meski demikian, 'A' juga memberikan pesan penting kepada agensi Korea agar tidak memperlakukan Jepang hanya sebagai "pasar pendapatan" semata" tapi juga pertahankan nada dan tata krama dasar.
“Jangan sampai popularitas K-pop yang tinggi membuat mereka menolak acara hi-touch tanpa alasan, karena hal itu dapat merusak citra K-pop secara keseluruhan," pesannya.
Editor : Siti Aeny Maryam