Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Reza Rahadian Sutradara Heboh dengan 'Pangku', Buktikan Kemampuan di Balik Kamera dengan Hormati Karakter Perempuan

Kimda Farida • Jumat, 7 November 2025 | 10:05 WIB
Reza Rahadian bukan cuma aktor hebat, tapi juga sutradara yang penuh empati. Lewat film "Pangku", ia membuktikan bahwa menghormati karakter perempuan dan kelompok marjinal adalah pilihan estetikA
Reza Rahadian bukan cuma aktor hebat, tapi juga sutradara yang penuh empati. Lewat film "Pangku", ia membuktikan bahwa menghormati karakter perempuan dan kelompok marjinal adalah pilihan estetikA

LombokPost-- Film "Pangku" telah menjadi salah satu film Indonesia yang paling banyak dibicarakan belakangan ini, bukan hanya karena ceritanya yang kuat, tetapi juga berkat kerja sutradara yang apik dari Reza Rahadian.

Dalam debut penyutradaraannya, Reza menunjukkan sensitivitas yang tinggi dengan menghormati setiap karakter, khususnya karakter perempuan dalam film.

Banyak penonton yang mencatat bahwa mata kamera dalam "Pangku" bekerja dengan sangat berhati-hati.

Alih-alih mengeksploitasi, kamera justru merekam unsur-unsur seksualitas yang tak terhindarkan dalam alur cerita dengan penuh hormat dan integritas. Pendekatan ini menciptakan ruang yang aman bagi penonton untuk memahami konflik tanpa merasa tidak nyaman.

Lebar dan Dekat: Sinematografi yang Melayani Cerita

Reza Rahadian juga menunjukkan kesadaran visual yang mendalam dalam penyutradaraannya.

Film "Pangku" menggunakan layar lebar bukan tanpa alasan.

Saat film perlu menyajikan realitas sosial yang lebih luas, layar melebar untuk memotretnya, menegaskan bahwa masalah yang dihadapi karakter individu adalah cerminan dari isu yang lebih besar dalam masyarakat.

Di sisi lain, kamera justru banyak mendekat untuk memotret adegan-adegan perawatan yang melelahkan. Kedekatan ini memungkinkan penonton untuk melihat lebih detail dan merasakan beban yang ditanggung para karakter.

Adegan-adegan close-up digunakan untuk menangkap ekspresi dan indera para pemain, di mana perasaan sering kali berbicara lebih lantang daripada dialog.

Lebih Dari Sekadar Pengalaman Pribadi: Memartabatkan Kaum Marjinal

Beredar anggapan bahwa pemahaman Reza yang mendalam tentang karakter single mother dalam "Pangku" berasal dari pengalamannya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal.

Namun, kerja sutradaranya membuktikan bahwa pemahamannya melampaui pengalaman pribadi.

Reza Rahadian bukan hanya memahami, tetapi secara aktif memartabatkan kelompok marjinal dalam filmnya.

Melalui sudut pandang kamera dan alur cerita, ia berhasil mengubah narasi yang sering kali mendiskriminasi menjadi narasi yang penuh empati dan martabat.

Film "Pangku" di bawah arahan Reza berhasil menjadi sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memicu percakapan penting tentang posisi perempuan dan kelompok marginal dalam narasi sinema Indonesia.

Dengan "Pangku", Reza Rahadian tidak sekadar membuktikan bakatnya di balik kamera, tetapi juga menempatkan diri sebagai sutradara yang memiliki suara dan perspektif yang penting dalam industri film tanah air.

Editor : Kimda Farida
#reza rahardian #review film #film indonesia #Film Pangku