Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Broken Strings Bukan tentang Balas Dendam, Ada Bagian yang Membuat Tubuh Ikut Bereaksi

Lombok Post Online • Kamis, 15 Januari 2026 | 09:46 WIB

 

Aurelie Moeremans
Aurelie Moeremans

LombokPost - Aurelie Moeremans tengah menjadi sorotan. Broken Strings, memoar penyanyi dan aktris tersebut dalam bentuk e-book, meledak.

Memoar itu berisi pengalaman pahit masa lalu pemeran film Story of Kale: When Someone’s in Love saat mengalami child grooming di usia 15 tahun. Child grooming merupakan bentuk manipulasi orang dewasa terhadap pikiran anak dengan tujuan mengeksploitasi atau melecehkan anak secara seksual.

Memoar tersebut diluncurkan secara gratis dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, serta ditulis berbekal beberapa catatan harian. Nama dan sejumlah detail lain sengaja disamarkan demi menjaga privasi.

“Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi memahami apa yang terjadi dan menerima bahwa itu bagian hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah,” ujarnya kepada Jawa Pos dalam wawancara melalui percakapan di WhatsApp Rabu (14/1).

Butuh waktu berapa lama kamu merampungkan memoar Broken Strings?

Proses penulisannya berlangsung cukup lama secara emosional. Secara teknis, penulisan intensifnya tidak bertahun-tahun, tetapi keberanian untuk benar-benar menuliskannya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Semua yang tertuang dalam buku tersebut didasarkan pada ingatan atau ada diari yang dijadikan bekal untuk menulis?    

Semua ditulis dari ingatan pribadi. Aku tidak punya diari yang rapi atau terdokumentasi. Justru karena pada masa itu aku berada dalam kondisi bertahan hidup, bukan mencatat.

Namun, ada memori-memori yang sangat kuat dan tidak pernah benar-benar pergi detail kecil, dialog, perasaan, bahkan suasana tubuh itulah yang menjadi pegangan utama saat menulis.

Apa kesulitan terbesar selama proses penulisan?

Membuka kembali memori yang selama bertahun-tahun sengaja aku tekan. Ada bagian yang membuat tubuh ikut bereaksi, bukan hanya pikiran.

Untuk saat ini, apakah kamu sudah berada di titik berdamai dengan semua luka yang ditulis atau masih dalam proses pemulihan?

Aku melihat pemulihan bukan sebagai titik akhir, melainkan proses yang hidup. Aku sudah jauh lebih berdamai dibandingkan dulu, tetapi tetap jujur bahwa healing bukan garis lurus. Menulis buku ini bukan karena aku sudah sepenuhnya pulih, tetapi karena aku cukup kuat untuk jujur.

Sampai sekarang, keadilan seperti apa yang diharapkan Aurelie?

Keadilan bagiku hari ini bukan tentang balas dendam. Keadilan adalah ketika kebenaran tidak lagi dibungkam, korban tidak lagi disalahkan, dan generasi berikutnya lebih terlindungi. Jika ceritaku bisa membantu satu orang saja untuk sadar lebih cepat, itu sudah menjadi bentuk keadilan tersendiri.

Salah satu doronganmu merilis memoar Broken Strings adalah dukungan suamimu, Tyler Bigenho. Selain itu, apakah ada momen titik balik lain?

Ada. Titik balik terbesarnya adalah ketika aku menyadari betapa banyak orang yang masih merasa sendirian dengan luka yang sama. Aku dulu berharap ada satu buku saja yang bisa membuatku merasa tidak gila, tidak berlebihan, dan tidak sendirian. Aku ingin menjadi buku itu untuk orang lain.

Menurutmu, bagaimana peran orang tua atau keluarga agar anak tidak mengalami grooming atau pelecehan?

Menciptakan ruang aman untuk berbicara. Anak perlu tahu bahwa mereka bisa jujur tanpa takut dimarahi atau disalahkan. Edukasi, kepekaan, dan kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar kontrol.

Saat ini kamu sedang mengandung anak pertama. Aurelie ingin menjadi ibu seperti apa?

Aku ingin menjadi ibu yang hadir, mendengar, dan percaya pada anakku. Aku ingin anakku tahu bahwa perasaan mereka valid dan suara mereka penting.

Broken Strings rencananya akan dirilis dalam bentuk fisik. Sejauh mana prosesnya saat ini?

Belum ada tanggal rilis karena masih dalam tahap proofreading. Jumlah cetakan juga belum ditentukan. Kemarin kami melakukan uji respons dengan meminta pengikutku berkomentar “mau”, dan responsnya sudah lebih dari 45 ribu. (shf/ttg/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#harian #aurelie maoeremans #child grooming #balas dendam #Catatan