LombokPost - Sutradara Hanung Bramantyo kembali menunjukkan pencapaian di kancah internasional.
Film horor terbarunya, The Hole, terpilih untuk penayangan perdana di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 pada Selasa (3/2) lalu.
Hanung menuturkan, rasa syukur terhadap capaian itu. Sebab, ini adalah kali kedua karyanya terpilih dalam seleksi resmi IFFR.
Sebelumnya, ada film Gowok: Kamasutra Jawa yang tayang di festival serupa pada tahun lalu.
Begitu juga dengan Anya Zen, salah satu pemain utama The Hole yang turut hadir bersama Hanung di IFFR.
Anya menyebut bahwa ini merupakan kesempatan emas bagi perjalanan kariernya di industri perfilman tanah air.
“Sebagai pemain baru, ini adalah kehormatan besar,” ujarnya lewat keterangan tertulis yang diterima Jawa Pos, Kamis (5/2).
Apalagi, film tersebut mengandung unsur sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. “Sejarah selalu jadi subjek yang aku minati sejak lama. Lewat The Hole kita tidak hanya melihat ke belakang, tapi juga membuka kembali percakapan tentang hal-hal yang selama ini sering ditutup atau dihindari,” papar Anya.
Dikenal sebagai sutradara film drama, Hanung menuturkan bahwa The Hole merupakan bukti nyata kebebasannya dalam berkarya. Film tersebut berasal dari keresahannya terhadap tragedi Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965.
Sejak saat itu hingga sekarang, peristiwa penculikan dan pembunuhan 6 jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dan 1 anggota Polri diperingati setiap tahunnya.
“Tragedi itu masih menyisakan banyak pertanyaan. The Hole adalah ruang eksplorasi saya terhadap trauma tersebut,” kata Hanung.
Dengan adanya film tersebut, dia ingin menunjukkan sudut pandang lain kepada masyarakat terhadap kondisi itu. “Perspektif yang berangkat dari kondisi sosial, kepercayaan, dan ketakutan yang hidup di masyarakat pada masanya,” tambah Hanung.
The Hole juga menjadi bentuk kritik Hanung terhadap maraknya praktik korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang pada akhirnya merugikan rakyat. Film yang dijadwalkan tayang di bioskop tahun ini itu mengusung genre horor-misteri yang menampilkan penuh gejolak sosial dan ketegangan politik. (shf/len/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji