Kabar duka ini pertama kali disampaikan melalui akun resmi RTJ Official (@rtjofficial). Dalam unggahan Insta Story, terpampang foto hitam-putih Romi Jahat dengan tulisan singkat namun menghantam: “Rest in Power.”
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya Romi Jahat belum diungkap ke publik. Namun informasi terakhir menyebutkan, pria yang akrab disapa Babe Romi itu telah hampir dua minggu menjalani perawatan medis akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Sebelum kabar wafatnya tersebar, doa mengalir deras dari para penggemar. Sayangnya, takdir berkata lain. Kepergian Romi Jahat menyebar cepat di media sosial, memicu gelombang ungkapan duka dari pencinta musik rock dan punk Indonesia.
Instagram dan Facebook dipenuhi unggahan kenangan, foto panggung, hingga potongan lirik lagu—menandai kehilangan besar bagi skena punk nasional.
Profil Romi Jahat
Romi Jahat dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di musik punk underground Indonesia. Lahir dan besar di Jakarta, ia aktif di scene punk sejak akhir 1990-an.
Nama Romi mulai mencuat saat menjadi vokalis band legendaris Marjinal pada 1997, bersama Mike (gitar), Bob OI! (bass), dan Steve (drum). Di era itu, Marjinal dikenal dengan musik cepat, kasar, dan penuh kritik sosial—membentuk karakter vokal Romi yang lantang dan tanpa kompromi.
Pada Juni 2009, Romi membentuk band Romi & The Jahats, yang awalnya bernama Romy and The Bad Boy. Nama kemudian diubah untuk merepresentasikan kekejaman, intrik, dan ironi kehidupan, tema yang konsisten hadir dalam lirik-liriknya.
Formasi inti RTJ terdiri dari Romi Jahat (vokal), Dedis TJ/Ableh (gitar), Chobex (bass), dan Panca/Imam (drum), dengan sejumlah rotasi personel sepanjang perjalanan band.
Selama kariernya, Romi Jahat melahirkan karya-karya ikonik seperti HORE, Tunggu Mati, Sebelum Akhir Dunia, Pelita Di Tanah Lapang (2024), dan Suaraku (2025). Ia dikenal aktif manggung di Jakarta dan berbagai kota di Jawa, serta rutin berinteraksi dengan penggemar lewat Instagram @romi.jahats.rtj.
Kini, Babe Romi telah pergi, namun suaranya, kritik sosialnya, dan semangat punk yang ia bawa akan terus hidup di jalanan dan panggung musik Indonesia.
Editor : Marthadi