Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Review Film Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026) – Balas Dendam yang Lebih Grande dan Emosional

Sanchia Vaneka • Senin, 23 Maret 2026 | 05:34 WIB


Tiket nonton film
Tiket nonton film


LombokPost - Setelah sukses dengan Bernapas dalam Kubur (2018) dan Malam Jumat Kliwon (2023), Soraya Intercine Films kembali menghadirkan sang "Ratu Horor" lewat seri terbarunya, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Tayang perdana pada 18 Maret 2026 sebagai sajian utama libur Lebaran, film ini membawa arah yang berbeda dari pendahulunya.

Berlatar era 1980-an, cerita berfokus pada Suzzanna (Luna Maya) yang hidupnya hancur setelah ayahnya, Satriyo (El Manik), tewas secara tragis akibat santet kiriman Bisman (Clift Sangra).

Bisman adalah penguasa desa yang obsesif dan kejam yang tidak terima cintanya ditolak serta ambisi politiknya terhalang.

Didorong rasa dendam yang membara, Suzzanna memilih jalan gelap dengan mempelajari ilmu santet untuk membalas rasa sakitnya.

Namun, misinya goyah saat ia bertemu Pramuja (Reza Rahadian), seorang pria religius yang menawarkan kasih sayang tulus.

Suzzanna kini terjepit di antara dua pilihan: menuntaskan dendam atau memilih jalan tobat demi cintanya pada Pramuja.

1. Transformasi Luna Maya yang Makin Matang


Luna Maya membuktikan bahwa ia bukan sekadar "meniru" mendiang Suzzanna.

Di film ketiga ini, aktingnya terasa lebih luwes meski harus menggunakan riasan prostetik tebal selama 4 jam setiap harinya.

Ia berhasil menampilkan sisi kemanusiaan Suzzanna sebelum menjadi sosok yang penuh kebencian.


2. Visual "Grande" yang Memanjakan Mata
Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, film ini menyuguhkan kualitas sinematografi yang luar biasa.

Penggunaan efek praktikal (practical effects) dalam adegan-adegan santet memberikan kesan ngeri yang nyata dan brutal, jauh dari kesan CGI murahan.

Atmosfer pedesaan tahun 80-an dibangun dengan sangat detail dan estetik.


3. Plot yang Lebih Berisi, Namun Terasa Panjang
Berbeda dengan film-film sebelumnya yang murni horor hantu (sundel bolong), film ini lebih ke arah horror-thriller emosional.

Ada isu kelas sosial dan penyalahgunaan kekuasaan yang diangkat.

Namun, dengan durasi sekitar 135 menit, beberapa kritikus merasa alurnya sedikit draggy atau bertele-tele di bagian tengah.


4. Chemistry Luna Maya dan Reza Rahadian


Kehadiran Reza Rahadian memberikan warna baru. Hubungan antara Suzzanna yang "gelap" dan Pramuja yang "terang" memberikan kedalaman emosi yang jarang ditemukan di film horor Indonesia pada umumnya.

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa adalah sebuah penghormatan yang layak bagi sang legenda.

Meski naskahnya masih bisa diperketat, film ini berhasil membawa "roh" Suzzanna ke level yang lebih modern dan megah secara visual.
Rating: 7.5/10

 "Film ini membuktikan bahwa horor tidak harus selalu tentang hantu yang melompat tiba-tiba, tapi tentang bagaimana kegelapan bisa tumbuh di hati manusia."

Editor : Kimda Farida
#film lebaran 2026 #bioskop #cgv #Film #XXI #Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa #Suzzana