Usai perilisan album studio kelima bertajuk "Arirang", publik kembali diingatkan grup asuhan Bighit Music ini bukan sekadar idol, melainkan penyair modern yang merajut introspeksi diri menjadi lirik lagu yang mendalam.
Dari isu kesehatan mental, kritik sosial, hingga pencarian jati diri, diskografi BTS adalah perpustakaan emosi.
DIlansir dari Soompi, simak 15 kutipan lirik paling puitis yang membuktikan bahwa lagu BTS adalah karya sastra sejati.
- Tomorrow (Skool Luv Affair)
"Karena fajar tepat sebelum matahari terbit adalah yang tergelap. Bahkan di masa depan yang jauh, jangan pernah lupakan dirimu saat ini."
Sebuah pengingat bahwa titik terendah dalam hidup bukanlah akhir, melainkan transisi menuju cahaya.
- Let Me Know (Dark&Wild)
"Cinta mekar seperti bunga sakura, tetapi terbakar dan menjadi abu."
BTS menggunakan kefanaan bunga sakura untuk menggambarkan betapa rapuhnya sebuah hubungan yang awalnya indah namun berakhir hampa.
- Whalien 52 (The Most Beautiful Moment in Life, Pt. 1)
"Di tengah samudra yang luas ini, seekor paus berbicara dengan lembut dan kesepian. Sekeras apa pun ia menangis, ia tak dapat menjangkau siapa pun."
Terinspirasi dari paus frekuensi 52Hz, lirik ini adalah metafora sempurna bagi mereka yang merasa terasing di tengah keramaian.
- RUN (The Most Beautiful Moment in Life, Pt. 2)
"Sekalipun rantingku mengering, aku akan tetap berusaha meraihmu."
Menggambarkan cinta yang gigih meski harus menghadapi kehancuran perlahan.
- EPILOGUE: Young Forever (The Most Beautiful Moment in Life: Young Forever)
"Aku berdiri di panggung kosong sambil berpegang pada rasa yang tak akan bertahan lama... menjadi takut akan kekosongan yang tidak menyenangkan ini."
Sebuah kejujuran tentang ketakutan akan berakhirnya masa jaya dan tepuk tangan penonton.
- Awake (WINGS - Solo Jin)
"Mungkin aku tak akan pernah bisa terbang... Namun, aku ingin mengulurkan tanganku. Aku ingin berlari, sedikit lagi."
Lirik ini merangkul keterbatasan manusia, namun menolak untuk menyerah pada keadaan.
- Spring Day (YOU NEVER WALK ALONE)
"Berapa banyak salju yang harus turun agar hari musim semi itu tiba, sahabatku?"
Dinobatkan sebagai mahakarya puitis, lagu ini merangkai kerinduan melalui citra musim dingin yang tak kunjung usai.
- Outro : Her (LOVE YOURSELF 承 'Her')
"Apakah kau menyadari bahwa aku adalah sebuah buku setelah bertemu denganmu? Atau kau yang membalik halamanku?"
Mempertanyakan identitas diri yang sering kali terkikis atau ditulis ulang oleh orang yang kita cintai.
- Sea (LOVE YOURSELF 承 'Her')
"Aku melihat lautan, aku melihat gurun, aku melihat dunia. Semuanya sama saja, hanya namanya berbeda."
Dualitas antara kesuksesan (laut) dan kesulitan (gurun) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
- 134340 (LOVE YOURSELF 轉 'Tear')
"Aku masih mengorbitmu, dan tak ada yang berubah. Jika cinta tak punya nama, segalanya telah berubah."
Menggunakan status planet Pluto yang "terbuang" untuk menggambarkan kesetiaan pada mantan kekasih.
Baca Juga: Ini 6 Alasan Wajib Nonton Dracin Terbaru Sniper Butterfly, Romansa Beda Usia yang Elegan
- FAKE LOVE (LOVE YOURSELF 轉 'Tear')
"Aku menumbuhkan bunga yang tak bisa mekar dalam mimpi yang tak bisa menjadi kenyataan."
Sebuah ratapan tentang usaha sia-sia untuk mempertahankan cinta yang didasari atas kepalsuan.
- Trivia 承 : Love (LOVE YOURSELF 結 'Answer' - Solo RM)
"Kau mengikis semua sudutku dan menjadikanku cinta, cinta, cinta."
Permainan kata antara Saram (orang) dan Sarang (cinta) yang menunjukkan bagaimana kasih sayang memanusiakan manusia.
- Moon (MAP OF THE SOUL : 7 - Solo Jin)
"Kaulah Bumiku, aku hanyalah bulan bagimu."
Metafora astronomi yang indah tentang pengabdian tanpa pamrih seorang idola kepada penggemarnya.
- Blue & Grey (BE)
"Zona abu-abu yang luas terasa nyaman, dengan ratusan juta wajah abu-abu."
Menggambarkan perasaan mati rasa dan depresi melalui pilihan warna yang melambangkan anonimitas.
- Life Goes On (BE)
"Suatu hari, dunia berhenti tanpa peringatan apa pun. Musim semi tidak tahu harus menunggu, muncul bahkan tidak terlambat semenit pun."
Kontras antara keputusasaan manusia saat pandemi Covid-19 dan alam yang terus berjalan sesuai porosnya.
Editor : Kimda Farida