LombokPost - Dua tahun setelah merilis album penuh perdananya, Bernadya Ribka kembali dengan album penuh kedua.
Berjudul Semoga Hanya di Mimpi, album berisi 10 lagu itu dirilis di berbagai platform streaming pada 24 Juni. Sebelumnya, Rabun Jauh dan Kita Buat Menyenangkan telah dirilis dalam bentuk single pada awal tahun ini.
Dari segi artwork, Bernadya tampil berbeda dari penampilannya di album perdana. Rambutnya yang panjang kini terpangkas menjadi sebahu.
Alih-alih gaun hitam, penyanyi asal Surabaya itu mengenakan baju putih untuk foto album Semoga Hanya di Mimpi.
Namun, cerita lirik lagu-lagu di Semoga Hanya di Mimpi kurang lebih masih mirip dengan album perdana Bernadya. Sentimental, galau, dan merenungi cinta yang tak berjalan mulus.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima Jawa Pos, Bernadya mengungkapkan bahwa album Semoga Hanya di Mimpi terinspirasi dari rasa takut.
Baca Juga: Eks Penyanyi Dangdut Menjabat Dua Periode, Bupati Pekalongan FAR Diciduk KPK di Semarang!
"Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya," katanya.
Pemikiran ini menguat usai Bernadya membaca artikel tentang cherophobia. Yakni, takut bahagia karena yakin akan ada sesuatu yang buruk dari rasa bahagia.
"Album ini lahir dari rutinitas normal, yang harusnya aku merasa tenang dan bahagia. Tapi entah kenapa rasanya waswas karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar atau nggak aku inginkan," papar Bernadya.
Baca Juga: Tutup Tahun 2025 dengan Aksi Kemanusiaan, Penyanyi Rossa Bantu Korban Bencana di Aceh dan Sumatera
Sejumlah lagu mencerminkan bagaimana Bernadya kerap merasa waswas. Misalnya di lagu pembuka, Laut yang Tenang, di mana satu lirik menggambarkan bagaimana ombak atau hal buruk bisa datang dari laut yang teduh.
Contoh lain di lagu Tolong Bilang Ini Mimpi, saat Bernadya menyanyikan bagaimana hal yang dia takutkan jadi nyata. Atau di lagu Sebelum jadi Panjang, yang menggambarkan kegelisahannya saat kumpul keluarga atau bertemu teman.
Sejumlah lagu lain kurang lebih mirip dengan lagu-lagu Bernadya terdahulu. Misalnya tentang cinta yang berjalan tak setara di lagu Lawan Waktu dan Jarak dan Wanita Tak Punya Malu. Atau tentang kepasrahan mengenai hubungan yang tak pasti di lagu Kita Buat Menyenangkan.
Dari segi musik, Bernadya memberi sentuhan baru. Berkolaborasi dengan Petra Sihombing, Perunggu, Baskara Putra, Rendy Pandugo, Enrico Octavino, dan Dennis Ferdinand, Bernadya banyak mengusung musik pop dan rock alternatif yang sempat menjadi tren musik Indonesia di era 2000-an. "Aku penasaran dengan era itu, apalagi ada sedikit nuansa musik 2000-an di lagu Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan," kata Bernadya, yang juga mendengar album 18 dari penyanyi Audy Item sebagai referensi karyanya. (len/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online