Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Fasilitas Terbatas, RSUD Bisa Pakai Mesin Tes TBC Untuk Uji Sampel Pasien Korona

Administrator • Sabtu, 4 April 2020 | 20:14 WIB
Suasana ruang uji sampel korona di RSUD NTB, Sabtu (4/4/20). (RSUD NTB untuk Lombok Post)
Suasana ruang uji sampel korona di RSUD NTB, Sabtu (4/4/20). (RSUD NTB untuk Lombok Post)

JAKARTA--Sementara itu Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto menuturkan bahwa pemerintah akan menggunakan mesin TBC untuk melakukan uji spesimen Covid-19.


Dia menyatakan sekarang ini ada 305 alat di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, tidak semua alat bisa digunakan untuk pemeriksaan Covid-19 karena harus menguji sampel TBC. ”(Dengan adanya alat ini) kita bisa menaikkan (uji lab) menjadi 3500-6000 tes perhari,” ucapnya.


Metode ini seharusnya bisa dilakukan minggu depan. Namun, pemerintah terkendala catridge untuk pengetesan dengan mesin TBC. Menurut Yuri, pemerintah memesan catridge kepada Amerika. Namun belakangan, Presiden Amerika Donal Trump melarang ekspor catridge. ”Sehingga kami pesan ke Swedia yang produksi perharinya hanya 50.000 catidge. Kemungkinan dua minggu lagi baru bisa dilaksanakan tes dengan alat untuk TBC,” ujarnya.


Jika pengujian dengan alat TBC ini berhasil, maka beban pemeriksaan yang selama ini ditanggung oleh Balitbangkes saja bisa berkurang. ”Nanti dibuat penjadwalan detilnya,” ucap Yuri.


Pelatihan serupa juga tengah dijalankan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala Pusat Laksana Tri Handoko mengungkapkan, gelombang pertama sedang berjalan saat ini. Pelatihan khusus ini dilakukan di LIPI Cibinong dengan menggunakan enam mesin PCR. Di mana setiap kelasnya diikuti 7-10 orang. Rencananya, untuk setiap sesi dilaksanakan 1-2 minggu.


”Untuk praktek tidak bisa terlalu banyak, karena harus dalam pengawasan dan kontrol penuh,” ujarnya.


Handoko menjelaskan, meski sudah ada rapid test, uji sampel berbasis PCR ini tetap dibutuhkan. PCR masih memegang kunci penting dalam mendeteksi secara akurat seseorang suspect Covid-19 atau tidak.


Permasalahannya, tidak semua orang memiliki kompetensi untuk melakukan uji PCR tersebut. Handoko menyebut, dalam uji PCR ini bukan hanya perkara mengopersikan mesinnya saja. Tapi juga treatment sampel yang masih mengandung virus aktif sebelum masuk mesin PCR. Oleh sebab itu, harus disiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih.


Pihaknya pun sudah mengundang para tenaga ahli d bidang bioteknologi atau zoonosis dari peternakan maupun kedokteran hewan untuk mau bergabung dalam pelatihan tersebut. Upaya ini  juga sekaligus mengantisipasi ledakan jumlah pasien, yang pastinya akan membutuhkan kapasitas dan kemampuan yang sangat besar. ”Tentu kita berharap tidak terjadi (ledakan pasien, red). Tapi tetap harus diantisipasi,” tegasnya.


Selain SDM terlatih, LIPI juga tengah fokus membuat bahan-bahan yang digunakan dalam uji PCR. Seperti reagen untuk ekstraksi Covid-19 dan primer. Diakuinya, saat ini seluruh bahan tersebut masih impor. Namun, karena semua negara juga sedang membutuhkan maka dipandang perlu untuk segera membuat sendiri di dalam negeri.


”Ini kami pandang prioritas, agar Indonesia bisa bikin reagen dan primer untuk PCR. Sedang kami kembangkan bersama mitra dari luar negeri,” papar alumni Hiroshima University, Jepang tersebut.


Di sisi lain, LIPI juga telah menyelesaikan penelitian untuk disinfektan chamber yang aman untuk kulit dan lingkungan. Ada pula kaji cepat bahan kimia untuk disinfektan yang tersedia dari bahan-bahan rumah tangga. Seperti, bahan yang biasa digunakan untuk pembersih lantai hingga pemutih baju. Semuanya telah dipublikasi di laman resmi LIPI. Sehingga, diharapkan masyarakat dapat menggunakannya untuk pencegahan dini terhadap covid-19 secara mandiri di rumah.(JPG/r6/r2)

Editor : Administrator
#RSUD NTB #Virus Korona