”Sejak bulan Mei mulai terinfeksi tenaga kesehatan kita,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi dalam keterangan pers, di posko Gugus Tugas Covid-19 NTB, Rabu (27/5).
Ia menjelaskan, tim kesehatan di NTB bekerja menangani Covid-19 sejak Februari. Tanggal 19 Februari mulai merawat pasien positif dan terus bertambah menjadi hingga saat ini menjadi 562 kasus positif Covid-19. Bulan Maret dan April petugas medis belum terjangkit.
Memasuki bulan keempat penanganan, petugas medis mulai terjangkit dan kurang sebulan bertambah menjadi 67 orang. Kasus meningkat signifkan terjadi tanggal 15-21 Mei dengan 26 kasus, kemudian 26-27 Mei 28 kasus.
”Kita jebol di bulan Mei, sehingga beberapa rumah sakit kita off dulu untuk menerima pasien baru dan fokus ke kasus yang sudah ada,” jelas dr Eka.
Meski sudah menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mereka tetap tertular. Itu menunjukkan, bulan keempat, petugas medis mulai kelelahan dengan banyaknya kasus. Lelah secara fisik maupun psikis.
”Kemungkinan tertular saat dia membuka APD tapi virus masih ada,” katanya.
Ia berharap, warga memberikan doa dan dukungan kepada mereka agar tetap sehat dan kuat. ”Karena kebetulan sudah ada yang menulari keluarganya,” kata Eka.
Pihaknya tidak membuka nama RS tempat bekerja, karena stigmatisasi masyarakat masih luar biasa kuat. ”Kami takut warga tidak berani datang ke RS lagi,” katanya.
Dengan banyaknya tenaga kesehatan terjangkit, pelayanan Covid-19 sedikit terganggu. Sebab banyak petugas medis terpaksa di-off-kan. Mereka bertugas dalam regu, satu regu berisi 15 orang.
”Kalau ada satu tenaga kesehatan kena, satu regu di-off-kan. Masalahnya akan berdampak pada pelayanan,” katanya.
Hingga kemarin, jumlah tenaga medis yang di-off-kan sebanyak 90 orang. Namun ia memastikan sampai saat ini penanganan Covid-19 tetap berjalan. Mereka yang off diganti regu baru. ”Kita tetap memikirkan pelayanan terhadap masyarakat agar tidak putus. Semoga tidak ada yang positif lagi,” katanya.
Jumlah tenaga medis yang menangani Covid-19 di NTB mencapai 7.600 orang. Meski demikian, dinas kesehatan kini mulai merekrut tenaga relawan untuk membantu penanganan Covid-19.
”Kami sudah mulai rekrut beberapa dan masih tetap dibuka,” jelasnya.
Ia menambahkan, petugas medis terjangkit itu sudah risiko pekerjaan. Mereka sudah menggunakan APD level II dengan standar tinggi. ”Ini pesan moralnya, petugas medis yang menggunakan APD saja bisa tembus, bagaimana dengan orang yang tidak mau pakai masker?” katanya.
Direktur RSUD NTB dr H Lalu Hamzi Fikri meminta masyarakat lebih taat dan disiplin lagi. ”Karena banyak petugas medis dan manajemen yang terpapar Covid-19,” katanya.
Terjangkit virus sudah menjadi risiko, karena di RS merupakan pusat penanganan pasien. Tapi ia memastikan semua tenaga medis dalam kondisi sehat. ”Kami bawa semua ke RS darurat di Asrama Haji, kami lakukan swab,” katanya.
Ia memastikan APD yang digunakan standar tinggi. Bahkan, jika tidak ada APD, ia meminta tenaga medis jangan melanyani. ”Itu artinya bunuh diri,” katanya.
Tapi ia memastikan, stok APD untuk tiga bulan ke depan masih tersedia. Sehingga tidak ada masalah dari sisi persediaan APD.
Guna melindungi petugas medis dan pasien, semua orang yang ke rumah sakit wajib memakai masker. ”Kalau tidak pakai masker dia tidak akan diperiksa, physical distancing wajib dan tidak boleh ada jam besuk,” katanya.
Fikri mengingatkan masyarakat untuk tidak menggampangkan kondisi saat ini. Melihat grafik kasus Covid-19 saat ini, itu menunjukkan petugas medis memulai lagi dari awal. ”Perang belum berakhir,” katanya. (ILI/r8/r2) Editor : Administrator