Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

13 Pasien Korona di NTB Meninggal Tanpa Riwayat Penyakit Bawaan

Administrator • Kamis, 18 Juni 2020 | 10:52 WIB
Ilustrasi Penanganan Korona (Dok. Radar Solo/Jawa Pos)
Ilustrasi Penanganan Korona (Dok. Radar Solo/Jawa Pos)
MATARAM-Jumlah pasien Covid-19 sembuh di NTB cukup menggembirakan. Tapi angka kematian semakin mencemaskan. Bahkan kini muncul tren kasus pasien meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta. Murni karena virus Covid-19.

”Ini 30 persen tanpa komorbid lho ya, hati-hati,” imbuh Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, pada Lombok Post, Rabu (17/6).

Memang, sebagian besar pasien meninggal merupakan kaum lanjut usia dan punya penyakit bawaan. Tapi jika dicemati lebih detail, tipe kasusnya cukup mengkhawatirkan.

Dari 41 orang meninggal per 16 Juni, 13 orang di antaranya meninggal tanpa penyakit komorbid. Mereka meninggal murni karena virus Korona. ”Jadi yang muncul hanya gejala Covid-19, kita tidak menemukan dia hipertensi atau TBC,” katanya.

Kemudian 18 orang pasien meninggal dengan komorbid tunggal, mereka hanya memiliki satu penyakit penyerta seperti diabet, jantung coroner, dan kanker. Sedangkan 10 orang lainnya meninggal dengan banyak penyakit komorbid. Misalnya punya penyakit darah tinggi disertai gula darah, kanker, atau TBC.

Selain itu, jika dilihat dari usia pasien meninggal, 23 orang kaum lansia, usia di atas 50 tahun, tiga orang bayi, sisanya 15 orang merupakan orang dewas, usia 20-50 tahun. ”Angka kematian terbanyak terjadi di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat,” katanya.

Terpisah, Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengaku prihatin dengan kasus kematian yang terus bertambah. ”Saya tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan,” katanya, dalam rapat koordinasi di ruang Anggrek, kantor gubernur NTB.

Menyikapi kasus kematian tanpa komorbid, Wagub Rohmi mengimbau masyarakat tidak lengah. ”Jangan pernah anggap remeh atau enteng wabah Covid-19 ini,” tegasnya.

Rohmi mengajak seluruh jajarannya melakukan desiminasi dan edukasi lebih masif kepada masyarakat. Sehingga semua masyarakat bisa menerapkan protokol kesehatan secara benar.

Para kader posyandu juga perlu dibekali keterampilan dan pemahaman yang utuh terkait teknis protokol kesehatan. Termasuk memahami pelaksanaan isolasi mandiri. Harapannya mereka ikut aktif mengedukasi masyarakat di lingkungannya.

Pola edukasi, kata Rohmi, perlu dilakukan dengan pendekatan yang benar. Tidak menimbulkan kepanikan atau paranoid di tengah masyarakat. ”Tujuannya agar tumbuh kesadaran bersama melakukan pencegahan sesuai standar kesehatan,” imbuhnya.

Dalam catatan Dinas Kesehatan NTB, sejak diberlakukannya new normal di beberapa tempat ibadah dan pasar-pasar di Kota Mataram, tingkat kedisiplinan masyarakat terpantau mulai longgar. ”Banyak warga mengabaikan protokol kesehatan Covid-19,” kata Eka, dalam rapat tersebut.

Lemahnya pengawasan dan kesadaran harus menjadi atensi bersama. Caranya dengan memberikan sosialisasi edukasi dengan tidak menakut-nakuti masyarakat.

Khusus Kota Mataram, awalnya Mataram cukup sigap dalam mengendalikan kasus Covid-19. Namun akhir-akhir ini sudah mulai kendor. Akibatnya kasus di kota Mataram tidak turun-turun, malah terus meningkat.

Karenanya, diperlukan perhatian dan kerja sama dari semua pihak. Tidak hanya tim medis, tetapi juga seluruh stake holder dan pemerintah daerah setempat.

Hingga 17 Juni, jumlah kasus Covid-19 di NTB tembus angka 1.008 orang. Sebanyak 676 orang telah sembuh, 43 orang meninggal dunia, dan 289 orang masih dirawat.

Kemarin, terjadi penambahan kasus baru yang signifikan yakni 30 orang terkonfirmasi positif. ”Sebagian besar berasal dari Kota Mataram,” kata Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi, dalam keterangan persnya.

Sementara angka kesembuhan lebih rendah yakni 20 orang. Dua orang meninggal baru asal Kota Mataram, yakni pasien nomor 979 Ny M, 58 tahun dan Ny Ir, 39 Tahun.

Dengan bertambahnya angka kematian dan penularan yang masih terus terjadi, Sekda Gita meminta seluruh kabupaten/kota memetakan pusat penularan di masing-masing daerah untuk mempermudah penangana Editor : Administrator
#Virus Korona #meninggal dunia #Headline #NTB